Lily

Lily
bocah ini


__ADS_3

Linga terus menahan tawanya melihat semua yang ada di sekitar hutan itu.


Adit yang mencari Sukma istrinya sedikit bingung melihat tingkah adik iparnya itu.


"ada apa Linga, kenapa kamu terlihat begitu bahagia begitu?" tanya Adit heran.


"lihat semua setan di sini hak utuh, itu kasihan bapak itu kepalanya lepas terus di pegangin begitu aja," kata Linga menujuk hantu itu.


"kamu tak takut?" tanya Adit.


"kalau dulu pasti aku ketakutan, tapi kata papi semakin kita takut, mereka malah makin kuat, jadi sekarang aku harus berani buat hantu-hantu itu takut padaku, ha-ha-ha," kata Linga tertawa keras.


tiba-tiba muncul sesosok mahluk tinggi besar hitam, bahkan keduanya reflek langsung menoleh ke atas.


Adit dan Linga bukannya takut, mereka malah seneng melihat makhluk itu.


"hei om item, kok tambah item sih!!" teriak Linga.


mendengar suara itu genderuwo itu pun langsung berubah menjadi sosok pria tampan, "idih... gak seru ih, kegantengan kalau bentukannya kayak opa Korea begitu," ledek Linga.


mendengar ucapan Linga, Adit membungkam mulut adik iparnya itu, "ya Allah Linga, mas mohon sekali saja jangan mengomentari apapun ya, kita kesini mau cari mbak Lily,"


"memang Lily kenapa? bukankah kalian baru menikah?" tanya Ki item.


"iya Ki, tapi tubuh Lily di kuasai oleh saudara siluman ku, dan sekarang aku ingin membebaskan istriku," kata Adit menerangkan.


"kalau begitu ayo aku bantu," kata Ki item yang berjalan memimpin kedua orang itu.


mereka bertiga berjalan bersama, menyusuri hutan yang entah terasa aneh bagi mereka.


"pasalnya hutan itu terus menerus terlihat gelap gulita dan begitu rapat, "tapi apa kamu bisa mengira dimana tempat Lily, tak mungkin kita menyusuri terus semua alas mayit ini?"


"apa ada tempat dari keluarga Hadikusumo, seharusnya ada karena dari cerita Ki Dwisa ada tempat khusus," terang Adit.


"ah tempat itu, jika kamu mau masuk, kamu harus memiliki mustika ular merah itu,"


"tenang saja itu bisa diatur," kata Adit yang memang punya.


tak butuh waktu lama mereka sampai di goa gelap yang di lindungi dengan dua patung ular berbentuk naga.

__ADS_1


dua orang prajurit itu datang, Linga tersenyum melihat dua orang itu, "ya elah kenapa sih itu tubuh di tato sisik ih... jijik.."


"ya Tuhan kenapa mulut bocah ini persis seperti mu saat kecil, semoga tingkahnya tak sekacau kamu kecil ya," kata Ki item


Linga yang memang usilnya kebangetan pun tak tinggal diam, dia ingin berjalan menghampiri kedua orang itu.


tapi Adit menarik baju bocah itu, "hei diam Linga, atau kamu bisa terluka, diam dek..." kata Adit sedikit kesal.


"mau apa kalian kesini, orang asing tak boleh masuk," kata kedua prajurit itu.


Adit mengeluarkan kalung dan di sana permata merah yang ada di bandul kalung itu.


"pemimpin, selamat datang..." kata keduanya yang langsung berlutut menyambutnya.


"bawa aku kedalam, aku ingin melihat apa dan siapa yang berani menahan istriku," kata Adit.


mereka pun mengangguk, dan saat mereka mulai masuk gua itu, mereka terkejut melihat semua arwah dan Sukma orang-orang yang di tumbalkan.


bahkan banyak juga orang yang selama ini jadi orang yang memuja sekte itu.


Adit dan Linga langsung lari saat melihat Sukma Lily menangis di sebuah teralis besi.


"ayolah, siapa yang berani menganggu kenyamanan ku," kata seorang pria keluar dengan penampilan begitu angkuh.


tapi pria itu kaget saat mustika milik keturunan dari sekte Hadikusumo berada di leher pemuda yang berdiri di depannya.


"siapa kamu, bagaimana mustika milik keluargaku ada di tangan mu," kata pria itu marah


"apa perduli mu, aku adalah suami wanita yang kau kurung dan aku adalah keturunan terakhir dari keluarga Hadikusumo," kata Adit


"apa, sialan!!! dasar siluman ular terkutuk, beraninya dia mengorbankan nyawa dari istri canggah terakhir keluarga ini, maafkan aku anak buyut ku, karena aku kira anak Cakra Hadikusumo sudah meninggal, kalau begitu bawa dia pergi, dan kamu harus melanjutkan apa yang di lakukan oleh keluarga ini," kata pria itu.


"aku tak mau, aku akan menghancurkan mustika ini jika kamu memaksa, dan aku bisa melawan siapapun untuk keselamatan istriku," tantang Adit yang berhadapan dengan pendiri keluarga Hadikusumo itu.


tanpa di duga, Linga malah sudah membuka teralis besi bermantra itu saat Adit dan pria tua itu lengah, "siluman tak berguna, mantra mu tak bisa mengurung cicit dari keluarga Noviant asal Banjar," kata bocah itu mengandeng tangan kakaknya itu


Lily sudah bebas, Linga pun juga menunjukkan sesuatu yang baru di lihat oleh Adit.


mata bocah itu berubah menjadi keemasan, dan Adit juga menunjukkan kekuatannya, "kalau begitu aku akan menghancurkan semuanya sekarang juga."

__ADS_1


Adit menarik mustika itu dan memukulnya dengan batu, dan kekuatan kong bangkit lagi.


"aku tak suka terkurung di sana!" teriak kong yang menunjukkan sifat aslinya.


"Lily ucapkan pemutusan ikatan darah itu," kata Adit


dia pun mulai membaca mantra yang dia pernah pelajari dari Adit, dan akhirnya ikatan mereka putus.


tuan Hadikusumo marah melihat tingkah Adit yang begitu pembangkang, dia ingin menyerang Adit.


tapi dia terlambat, cicit yang dia sayangi sudah melemparkan sebuah tombak padanya.


"maaf kakek buyut, kita akhiri semuanya, dan biarkan putra ku bahagia bersama istrinya, dan kamu seharusnya mati dan pertanggung jawabkan semuanya pada sang pencipta," kata pria yang begitu mirip dengan Adit.


Ki item menahan Kong yang juga mengamuk, Adit mengeluarkan serulingnya dan melawan Kong.


Ki Dwisa datang bersama Ki Sesnag, "bawa Lily dan Linda pergi Ki Sesnag,biar aku membereskan siluman ini segera," kata Adit yang berdiri tegak.


sedang Kong sudah terluka karena Adit yang begitu kuat. "ternyata memusnahkan jasad mu juga tak berpengaruh rupanya," kata Ki Dwisa yang berwujud ular besar berwarna merah.


"diamlah siluman sialan,aku akan memusnahkan kalian berdua," marah Kong


Adit kembali menyerang dan kini dia mengeluarkan pisau yang tersembunyi di dalam seruling itu, dan disaat itulah terlihat titik kelemahan Kong.


Ki Dwisa mengambil jantung kong yang berbentuk mustika dengan pelindung api berwarna biru dan langsung menghancurkannya.


setelah itu Ki Dwisa berubah wujud menjadi manusia. "kamu sudah sangat melenceng dari niatan awal mu mendirikan padepokan itu, jadi sekarang aku tak akan mengikat janji dengan anak keturunan mu,karena aku yakin nama hadirku akan berjaya di tangan Aditama, dan kamu sebaiknya mempertanggungjawabkan perbuatan mu pada Tuhan," kata Ki Dwisa mengigit pria itu yang seketika jadi pasir setelah mati.


"kamu sudah besar ya nak,maaf harus melibatkan mu dalam urusan kami, dan aku akan mengambil semua hal yang di wariskan padamu karena kamu tak membutuhkan itu, karena kamu punya keluarga yang melindungimu," kata Cakra pada putranya.


"terima kasih pak, aku tak ingin mewarisi di pahit lidah ini," kata Adit.


Cakra mengangguk-angguk dan kemudian pergi, perlahan gua itu mulai runtuh.


Ki Dwisa melilit tubuh Adit dan kemudian mengajaknya keluar dari gua itu.


Lily dan Linga sudah sadar, "Alhamdulillah kalian selamat," kata mami Tasya memeluk keduanya.


papi Arkan pun melihat Ki Sesnag, "tapi mas Adit masih di sana," kata Linga.

__ADS_1


tapi tiba-tiba dari mulut Adit keluar darah yang cukup deras dan kemudian pria itu batuk darah.


__ADS_2