Lily

Lily
kami tak peduli


__ADS_3

saat itu di aula sedang ada beberapa murid yang sedang melakukan pemahaman kitab.


Shafa juga ikut karena sedang libur sekolah, tapi Shafa yang memang sedikit bosan karena ini bukan kelasnya.


gadis itu pun pamit kepada abi-nya, "Abi, Shafa mau ke ruangan sebelah ya, mau baca buku saja," pamit gadis itu


"baiklah dek, ingat jangan sampai ketiduran lagi ya," pesan ustadz Faraz.


tiba-tiba sisi kanan dari aula terbakar yang memang berhubungan langsung dengan perkebunan warga.


apa dengan cepat membakar aula itu, sesaat karena panik ustadz Faraz lupa pada putrinya.


Shafa yang keluar tapi sudah tak menemukan Abi-nya, bahkan api sudah besar akhirnya memilih bersembunyi di bawah meja besi, dan kakinya sempat terbakar.


me dengar itu, ayah Raka ingin sekali menghukum ketiga putranya itu, " astaghfirullah..."


"apa yang harus ayah lakukan pada kalian bertiga," kata ayah Raka yang tak habis pikir.


"tebang ayah, ingat awas tensi mu naik ya," pesan amma Wulan.


"tapi aku tak melihat luka di kaki Shafa, bagaimana bisa jika itu benar terjadi," tanya Amma Wulan menambahkan.


papi Arkan mengangkat kepalanya dan melihat Adit, pemuda itu tersenyum kearah Arkan.


"sudah kuduga," gumamnya.


"sudahlah, kalian bertiga berdiri, sekarang ayah ingin mengatakan sesuatu, terserah keputusan kalian bertiga, yang membakar aula adalah orang suruhan Anna, tadi pagi mas Adi kalian datang ke rumah dan menceritakan semuanya, jika Anna masih belum ikhlas jika pondok pesantren di bawah pimpinan ustadz Rasyid sepupu istrimu, jadi wanita itu menyuruh orang untuk mencelakai keluarga kalian, tapi ternyata Allah masih melindungi keluarga ini," kata ayah Raka.


"ini semua keterlaluan ayah, sebenarnya apa yang dia inginkan, dia terus saja mengangguk ku dan keluargaku," kata ustadz Faraz.


"kita tak tau hati manusia le, tapi mas Adi memilih untuk pergi meninggalkan rumah membawa putrinya," jawab ayah Raka.


"tapi bukankah itu akan jadi masalah di lain waktu jika mas Adi meninggalkannya," kata Aryan khawatir.


"tidak karena Anna sudah di bawa oleh yayasan yang bergerak di kesehatan mental, karena Anna mengalami kepribadian ganda dan itu sangat menyulitkan mas kalian," kata Amma Wulan menjawab pertanyaan itu

__ADS_1


"Alhamdulillah, jadi sekarang kita hanya tinggal membangun aula lagi dan memastikan jika semuanya baik," kata papi Arkan.


"tentu aku butuh donatur besar," kata ustadz Faraz.


"tenang kamu punya aku, dan aku tak keberatan untuk membangun ulang tempat itu," kata papi Arkan.


sedang Adit melihat tangannya yang masih ada bekas gigitan dari Shafa, padahal biasanya akan hilang saat luka itu sembuh.


Adit pun mengenggam tangannya saat Kemabli ingat, bagaimana dia hampir putus asa melihat tubuh gadis kecil itu yang terkena luka bakar.


bahkan yang sebenarnya bukan hanya kaki, tapi sekujur tubuh gadis itu yang terkena jilatan api.


tapi dengan nekat, Adit memilih menyelamatkan dan menyembuhkan Shafa di Bandung dirinya yang juga terkena luka bakar.


itulah kenapa Adit bisa keluar dengan Shafa yang tak terluka sedikitpun, tapi dia tak bisa menyembuhkan dirinya sendiri.


"ada apa Adit?" tanya Amma Wulan.


"tidak ada Amma, emm... papi bisakah membantuku untuk ke kamar mandi untuk buang air kecil," mohon Adit.


ustadz Faraz pun tak mengira Adit yang biasanya sangat anarkis dan ceria.


kini bisa menunjukkan dirinya yang sedang tak berdaya bahkan beberapa kali pemuda itu menghela nafas untuk meminimalisir rasa sakitnya.


di kantin,para wanita sedang merasa khawatir karena sekarang mereka tak tau apa yang terjadi dengan ketiga pria itu.


"tenang atuh kakak ipar, jangan khawatir seperti itu?" kata mami Tasya yang melihat kakak iparnya itu.


"bukan khawatir, tapi mereka bertiga ini sering banget kena hukum loh, mbak Tasya gak ingat?" kata umi Kalila.


"iya juga sih, ya mereka sendiri yang harus bertanggung jawab bukan," kata mami Tasya tak ambil pusing.


akhirnya Lily mendapatkan pesan untuk bisa kembali ke ruangan, dan sang eyang uti meminta untuk membelikan kopi dan teh.


Lily membeli apa yang mereka inginkan, sedang yang lain langsung menuju ke ruangan rawat dari Adit dan Shafa.

__ADS_1


Lily pun masuk dan melihat beberapa orang sudah pulang, tinggal Aryan dan Riya.


karena yang lain sudah di suruh pulang, "loh kok tinggal eyang dan eyang uti, yang lain mana?" tanya Lily.


"sudah eyang suruh pulang, memang ada apa nduk?" tanya ayah Raka.


"ya gak papa sih,tapi sepertinya ayah kecil dalam masalah," kata Lily tersenyum.


"bukan hanya ayah kecil mu, tapi kamu juga," kata ayah Raka.


Lily langsung diam, dan dia menunduk takut,"sudahlah ayah, jangan memarahi Lily juga, memang gak takut dia makin sedih setelah kemarin yang terjadi," kata aryan memohon.


"baiklah, aku tak akan marah, tapi kapan kamu akan menikahi gadis itu, Anand sudah mengungkapkan persetujuannya, dan mau bagaimana lagi kamu, mau menunggu berapa tahun lagi?" tanya ayah Raka langsung.


"ya Allah ayah, tolong jangan bahas itu, ayah tak lihat bagaimana wajah Riya yang tertekan, aku ingin membiarkan hubungan ini mengalir dulu, aku tak ingin kecerobohan ku membuat hidup ku hancur lagi," kata Aryan memohon.


"bukan maksud ayah," kata ayah Raka yang bingung juga.


"saya tau maksud anda baik pak, tapi tolong jangan memaksa mas Aryan saat dia belum siap, karena saya akan menunggu beliau siap karena saya hanya bisa meminta kepada Allah untuk jodoh saya," kata Riya.


"ya ayah kecil, kenapa jdi lemah gitu, orang yang di kasih kode gak peka, maksudnya nama yang di sebut dalam doa Riya itu ayah," kata Lily gemas


"apa...." kata Aryan cintanya tak bertepuk sebelah tangan.


"kalau begitu, beberapa hari lagi saya akan datang untuk melamar, jika menunggu anak bodoh ini kapan geraknya," kata ayah Raka kesal.


sedang Amma Wulan memeluk Lily, "dan kapan kamu akan bilang ayahmu tentang hubungan kalian? Lily ... Adit?" tanya Amma Wulan tepat sasaran.


keduanya pun langsung terdiam, "tapi saya tak mungkin pantas, dan selama ayah tak memberikan restu, saya tak bisa," kata Adit.


"tapi aku mencintaimu mas..." kata Lily yang mengakui perasaannya.


"aku mencintaimu bukan sebagai kakak ku, tapi sebagai seorang wanita yang mencintai pria, tolong mengertilah kak," kata Lily.


Adit hanya diam menunduk sedih, ayah Raka dan Amma Wulan sadar jika Arkan tak akan menjadi Vian yang akan dengan mudah mengizinkan.

__ADS_1


tapi dia punya hak untuk mendukung cucunya itu, "eyang akan mendukung hubungan kalian apapun yang terjadi."


__ADS_2