Lily

Lily
penolakan Lily


__ADS_3

mereka sampai di kampus dan Lily langsung pamit ke bagian jurusannya, sedang Adit memang tak bisa mengantar gadis itu.


Adit sendiri sedang mengatasi masalahnya yang juga tak main-main.


dia kini di hadapkan dengan beberapa orang yang ingin membuat kampus hancur.


tapi bukan Adit yang tak membuat para bajingan itu diam, sedang Lily berjalan dengan kondisi sedikit lesu.


Riya yang melihat pun langsung menghampiri Lily, "kamu kenapa ke kampus, seharusnya kamu harus menjalani pengobatan Lily,"


"tidak... aku tak bisa melakukannya karena aku tak ingin semua orang khawatir, dan tenang saja kondisiku sangat baik saat ini," terang Lily yang h


mencoba untuk bersikap tegar.


"jangan berbohong Lily, bagaimana bisa kamu bilang jika kondisi mu baik, lihatlah wajah mu saja sangat pucat," tegur Riya.


"aku mohon mamcan," kata Lily yang memang tak ingin semua orang tau.


"tapi kondisimu itu bahaya Lily, kamu bisa mati Dengan konyol karena pilihanmu," kata Riya yang tak bisa lagi menahan rahasia itu.


"apa maksudnya Lily sakit dan bisa mati konyol," kata Adit yang tak sengaja mendengar semuanya.


"tidak ada mas, jangan dengarkan Riya, dia itu berlebihan, aku hanya kekurangan darah saja, itulah kenapa aku lemas tapi dia itu berlebihan," terang lily yang mengandeng tangan suaminya.


Adit pun di tarik pergi oleh Lily, dia tak ingin suaminya itu mendengar ucapan dari Riya.


"limfoma itu bukan penyakit mudah, apalagi kondisimu makin parah Lily!" teriak Riya.


Adit melihat ke arah Riya dan langsung berbalik badan menghampiri wanita itu.


"apa maksudnya mamcan?"


"ya dia terkena limfoma stadium dua dan kondisinya memburuk, itulah kenapa dia terus ingin menikah dengan mu," kata Riya


"jangan percaya mas, aku baik-baik saja dan angkat sehat," terang Lily.


"itulah kenapa tadi kamu pingsan di rumah, kita ke rumah sakit," kata Adit yang langsung ingin membawa Lily.


"tidak ada gunanya, kondisiku lebih parah dari yang di katakan oleh Riya, karena dokter bilang jika sudah masuk stadium tiga akhir, maaf...." terang Lily sambil tersenyum kearah suaminya.


Adit memeluk istrinya itu, dia tak mau menyerah, dia pun mengajak Lily untuk berobat bagaimana pun

__ADS_1


caranya dia harus sembuh.


"apa ada yang tau selain Riya," tanya adit.


Lily mengeleng pelan, tidak ada yang tau karena dia menyembunyikan selama ini dengan begitu rapi.


"kita berangkat ke Penang Malaysia sekarang untuk kesembuhan mu, jika perlu kita cari rumah sakit di Eropa untuk mu," kata Adit yang tak peduli jika semua tabungannya habis untuk kesembuhan Lily,karena ini harus di lakukan.


"tidak usah mas, aku yakin aku bisa sembuh," kata Lily yang mencoba untuk meyakinkan suaminya itu.


"tidak aku tak menerima penolakan mu, kita berangkat secepatnya," kata Adit yang tak ingin di bantah.


"tapi bagaimana dengan semua orang, dan pekerjaan mu?"


"aku akan meninggalkan semuanya, dan aku akan menemanimu untuk berobat sampai sembuh," kata Adit.


"baiklah kalau itu permintaan mu, tapi tolong, bisakah merahasiakan ini dari semua orang, aku tak ingin mami makin sedih setelah mendengarnya," mohon Lily.


"kenapa harus seperti itu?" tanya Adit penasaran.


"karena dulu sebenarnya mama mami, meninggal dunia karena kanker juga, dan hanya karena demi melahirkan mami dia melupakan semua pengobatannya, meski setelah itu Oma bisa bertahan, tapi itu pun tak lama," kata Lily.


akhirnya mereka pun bersiap berangkat dengan alasan bulan madu, tapi Adit tak sepenuhnya menepati janjinya.


Adit menulis surat dan di berikan pada Linga, dan setelah mereka berangkat.


bocah itu baru memberikan surat itu pada papi arkan, karena bagaimanapun semua orang harus tau masalah ini.


malam itu mereka sudah bersiap untuk melakukan penerbangan menuju Malaysia.


Adit dan Lily berpamitan pada semua orang yang kebetulan memang ada di Surabaya.


setelah duduk dalam pesawat, Lily pun seperti kembali mengingat saat menyedihkan itu.


bagaimana dia telah di diagnosa menderita kanker setelah menjalani general cek up untuk mengetahui benjolan yang tumbuh di lehernya.


dia seakan masih bisa mendengar ucapan dokter itu, "anda mengalami kanker getah bening, dan jika tidak mendapatkan perawatan yang tepat ini bisa membahayakan nyawa anda,"


Lily pun tak tau harus bagaimana, terlebih bagaimana dia akan menghadapi reaksi dari keluarganya.


"kamu akan sembuh sayang..."

__ADS_1


Lily menoleh ke arah suaminya yang meneteskan air mata, dia pun baru kali ini melihat sosok suaminya yang sangat sedih seperti ini.


mereka pun sampai di negeri seberang untuk berobat, sedang di Surabaya Linga mengenggam erat surat yang di berikan Adit.


dan dengan memberanikan diri bocah itu berjalan ke depan papi Arkan.


"papi, ada titipan,"


"ada apa Linga?"


"ini papi, papi baca sendiri," Jawab bocah itu mengulurkan tangannya


papi Arkan merasa aneh melihat sepucuk surat yang di ulurkan oleh putranya itu.


dia melihat amplop itu,dan tertulis untuk membacanya sendirian, "aku permisi sebentar,"


pria itu langsung menuju ke kamar dan membuka amplop itu, pertama yang dia lihat adalah sebuah kertas laporan kesehatan.


tiba-tiba papi Arkan gemetar saat melihat mama yang ada di amplop itu, tertulis nama Lilyana Arkana Gilbert.


dan yang semakin membuatnya sesak adalah keterangan yang di jelaskan bahkan dia mengidap kanker limfoma.


papi Arkan melihat sepucuk surat yang lain, ternyata itu surat dari Adit.


"assalamualaikum papi...


tolong maafkan aku karena tak mengatakan ini semua dari awal, aku juga baru tau tadi saat berada di kampus, jika Lily menyembunyikan semuanya dari kita.


papi... Lily mengidap kanker getah bening stadium tiga, dan sekarang kami bukan pergi berbulan madu, melainkan untuk perawatan Lily, dan semoga lekas ada mukjizat agar dia tetap bisa bersama kita, aku mohon papi jangan beritahu mami Semuanya, karena Lily takut mami panik dan akan membuat kesehatannya drop, maafkan kami yang bertindak sendiri," gumam papi arkan membaca surat itu.


tubuhnya gemetar ini yang dia takutkan, "apa ini yang jau katakan Ki Sesnag, Lily yang sedang tak sehat?"


"saya tak tau tuan, saya hanya melihat situasi saja, dan sebenarnya kita mungkin bisa menyelamatkan Lily seandainya ada kekuatan ayah Raka," jawab siluman ular itu.


"aku rela mengadaikan nyawaku demi kesembuhan putriku," kata papi Arkan.


"Anda tak perlu melakukannya, karena pria gila itu sudah melakukannya, dia memintaku untuk menyembuhkan Lily dengan mengadaikan seluruh nyawanya, dan aku bisa menggunakannya sesuka hatiku," Ki Dwisa.


"apa kamu menyetujuinya?"


"tentu, aku tak akan menolak permintaan dari Adit, tapi tidak sekarang" jawab Ki Dwisa.

__ADS_1


__ADS_2