Lily

Lily
Arkan atau Adit 2


__ADS_3

Adit susah memakai baju yang memang ada di rumah itu, dan ada di kamar Linga.


"kita ke musholla untuk sholat Maghrib, ayo semuanya," ajak papi arkan.


"iya papi,"


mereka berjalan bersama, Linga terus berada di samping Adit bersama papinya, sedang Lily dan mami Tasya di belakang.


mereka tak perlu terlalu jauh ke musholla karena baru di bangun tempat ibadah di sekitar sana.


mereka pun masuk dan papi Arkan langsung duduk di baris paling depan, sedang Adit dan Linga masih duduk di belakang.


dan saat iqomah berkumandang Adit baru bangkit dan mulai merapatkan barisan sholat.


tapi tanpa di duga papi Arkan memintanya untuk jadi imam, Adit pun tak bisa menolak dan langsung maju.


sholat Maghrib pun berjalan sangat khusyuk, setelah sholat selesai, Adit dan keluarga pun akan pulang saat seseorang menghampiri mereka.


ternyata itu Ali dan Retta teman kuliah Lily, "assalamualaikum mas Adit, bisa kami bertemu dengan Lily," tanya gadis itu.


"waalaikum salam... mau apa kalian ingin bertemu Lily?" tanyanya dengan dingin.


"saya ingin minta maaf mas, seharusnya saya tak lancang menjawab telpon milik Lily, dan saya mohon jangan cabut beasiswa saya," kata Ali.


"maaf aku tak mengerti, kenapa kamu memohon padaku, aku bukan siapa-siapa bukan, kenapa kamu tidak memohon pada dekan saja, dan jangan mengganggu ku," kata Adit yang langsung berjalan pergi.


"kenapa kamu begitu sombong, hanya karena ucapan ku yang bercanda itu, kamu menarik semua hasil usaha keras ku untuk bisa kuliah, itu tak adil dan kamu melakukan kejahatan," marah Ali.


"kejahatan?" gumam Adit ingin tertawa.


"tunggu dulu ada apa ini, dan lebih baik kita bicarakan di rumah,tak baik membuat kekacauan di jalan," kata papi Arkan.


"baik om, dan saya pastikan jika anda akan tau bagaimana kelakuan pria itu yang mengaku calon suami Lily tapi kelakuan seperti binatang dan preman," kata Ali yang menggebu-gebu.

__ADS_1


tapi dia tak tau saja jika Adit dan papi Arkan itu sama, keduanya adalah pria yang tak segan melakukan kelakuan yang tak bisa di tolerir.


tapi Lily merasa jika kedua temannya itu bodoh, Ali tersenyum ke arahnya, "dasar bodoh, kalian memilih orang yang salah sekarang," kata gadis itu yang kemudian pergi.


mendengar ucapan temannya itu, Retta sedikit paham jika orang tua Lily tau sifat Adit, maka mereka yang dalam bahaya.


"aku sebaiknya kita urungkan saja, tiba-tiba perasaan ku tak enak," kata Retta menarik pria itu pergi.


"kamu jangan jadi pengecut, sudah ayo kita ikut mereka dan aku akan membuat Adit itu di tendang dengan cara yang buruk, dan aku bisa mendapatkan Lily," kata Ali yang merasa dia didukung oleh ayah Lily.


mereka pun mengikuti mereka ke rumah keluarga papi Arkan, mereka berdua di persilahkan masuk.


baru juga duduk Arkan langsung menampar pipi Ali dengan keras, "kamu siapa berani menghina putra yang aku besarkan, dan dengan sombong menantangnya?"


Adit tersenyum di belakang papi Arkan, " om dengarkan kami dulu, kami datang untuk minta maaf," kata Retta yang kaget.


"minta maaf kami bilang, seperti tadi itu minta maaf, dengan menghina putra ku di depan umum, dan kalian kira aku tak tau siapa calon menantuku ini," kata papi Arkan.


"apa kamu bilang!!" marah Adit yang langsung mencekik Ali dengan satu tangannya.


aku yang marah memukul tangan Adit untuk bisa melepaskan cekikan itu tapi entah tenaga apa yang di kuasai pria itu hingga tak berkutik saat tangannya sudah di pukul seperti itu.


"aku mohon mas, aku tau jika Ali keterlaluan tapi jangan membunuhnya, bagaimana pun dia itu sahabatku satu-satunya, Lily... aku mohon bantu aku," kata Retta.


"mas Adit," panggil Lily


Adit melempar pria itu menjauh darinya, sedang papi Arkan sudah menahan amarahnya saat ada pria yang mempunyai niat buruk terhadap putrinya.


"anda lihat om, dia itu binatang," kata Ali.


"tutup mulut mu Ali, kita datang kesini untuk minta maaf, bukan menantang mereka," kata Retta mengingatkan.


"aku tak bisa tahan, kenapa Lily yang baik harus menikah dengan pria kasar seperti ini," kata Ali yang makin menjadi.

__ADS_1


"tutup mulut mu dan pergi dari sini!!! aku sudah bertahan dari tadi untuk menahan emosiku, tapi kalian terus mengatakan hal memancing amarah ku, dan kau pikir aku akan menyetujui pria yang memiliki pikiran kotor terhadap putriku, kamu mimpi, pergilah atau aku akan membunuh mu sejara!!!" kata papi Arkan


"tebang papi," kata mami Tasya.


kini Ali menghadapi masalah besar, dia menghadapi dua singa marah dari keluarga Noviant yang bahkan bisa membunuh orang tanpa menyentuhnya.


"kenapa masih diam Retta, bawa dia pulang atau kamu ingin melihatnya benar-benar mati," kata Lily yang tak ingin ada masalah.


"kamu akan mati terpanggang hidup-hidup dan kamu tak akan mati sampai semua tubuh hangus terbakar," kata Adit melihat Ali.


"kamu bukan Tuhan," kata Ali yang mengejek Adit.


"tapi jamu tak mengenal ku, Ki Dwisa..." gumam Adit.


dua ular milik kedua pria itu langsung menjalankan perintah, Ki Sesnag mencari pria yang mengincar mami Tasya.


sedang Ki Dwisa menjalankan tugasnya dari Adit, dia membuat mobil itu oleng dan menabrak batu besar di samping gapura desa.


otomatis mobil pun ringsek, dan anehnya Retta terpental keluar. dan mobil pun jatuh ke samping sungai yang cukup dalam.


"tolong Retta!!" teriak Ali di dalam mobil.


Retta pun berusaha bangun dan menolong teman yang dia sukai, tapi tiba-tiba mobil tua itu meledak dan memanggang Ali hidup-hidup.


"argh.... panas!!!" teriak pemuda itu.


Retta pun tak bisa melakukan apapun, "tolong!!" teriak Retta tapi suasana di sana sangat sepi.


dia pun hanya bisa menangis dan terus menangis melihat sahabatnya benar-benar mati terpanggang.


sedang di sebuah rumah, seorang pria mati dengan cara yang sama, yaitu terpanggang karena rumahnya yang terbakar hebat.


dan pria itu tak bisa menyelamatkan diri karena Ki Sesnag menahannya, dua pria mati dengan cara yang sama.

__ADS_1


__ADS_2