
sesampainya di rumah, Adit langsung berlari ke kamarnya untuk membuka email yang di kirimkan oleh logan.
dia pun marah melihat laporan itu, "sial, sepertinya aku harus berangkat ke Singapura,"kata Adit.
dia pun bergegas mengambil ransel miliknya, dan memasukan beberapa baju dan semua keperluannya.
tak lupa dia membawa semua barang berharga di tas selempang kecil.
Adit keluar dengan ransel yang sudah siap dan bertepatan dengan opa Alan dan Oma utami datang.
"Adit ada masalah..." kata pria itu nampak panik.
"iya opa, ini Adit akan berangkat ke Singapura dengan penerbangan terakhir," kata Adit yang sudah siap.
"mas mau kemana, kenapa dengan ransel ini?" kata Lily sedih sambil menahan Adit.
"maaf dek, mas harus ke Singapura untuk membereskan masalah di perusahaan opa, tenang aku kesana cuma sebentar, dan saat semua urusan ku selesai aku akan segera pulang," pamit Adit yang langsung pergi.
Lily pun berlari dan mencegah Adit, tapi Adit melewatinya begitu saja, Lily sudah menangis.
tapi tak terduga Adit kembali dan memeluknya, "tolong jaga hatimu, aku pasti kembali, jika kamu mau aku akan melamar mu secara resmi sebentar lagi,"
"mas gak bohong kan?" tanya Lily.
"tidak,aku tak bohong," jawab Adit.
"baiklah aku akan menunggu mu, dan tolong tepati janji itu," kata Lily.
"pasti..." bisik Adit yang kemudian pergi.
Lily merasa entah apa yang membuatnya berat melepaskan pemuda itu.
"ada apa Lily, dia pasti akan segera pulang, tenang saja," kata opa Alan.
"iya opa, aku hanya merasa sedih saja, semoga tak terjadi apa-apa pada mas Adit ya opa," kata Lily yang memeluk opa Alan.
akhirnya malam itu Lily sedang duduk di teras rumah, tiba-tiba ada sosok yang duduk di tangga rumah.
kain lusuh dengan aroma busuk, menoleh dengan wajah seram ke arah Lily.
"tolong buka kan tali pocong saya..."
"dasar pocong tak kreatif," kesal Lily melemparkan air mineral gelasan yang ada di meja karena kesal.
__ADS_1
"kalau begitu ikutlah dengan ku," kata pocong itu melompat ke arah Lily.
reflek Lily berbalik dan menonjok pocong itu hingga jatuh terpental, "kan jadi kotor, dasar pocong berisik!!"
kuntilanak di depan rumah menertawakan pocong itu, "hi-hi-hi... enak ya makanya jangan suka ganggu orang galau, kan kena tonjok, kamu kira dia itu gadis biasa,"
pocong itu pun berdiri, dan kuntilanak itu turun dari pohon tempatnya nongkrong.
"apa ini keluarga yang terkenal tak ada takut-takutnya itu?" tanya pocong itu.
"iya, ngomong-ngomong namanya siapa, aku miss Kun?"
"aku Sardi, baru mati kemarin, aku gak tau bagaimana ceritanya tapi aku tau-tau sudah begini saja," kata pocong itu.
"owh, sini aku ajari buat ganti bentuk biar gak item gini mukanya," kata Miss Kun.
tiba-tiba pocong itu berubah menjadi pocong yang lumayan ganteng, "wah gila... ternyata kamu manis banget, ah jadi mau jadiin pacar," kata kuntilanak itu.
"maaf saya gak minat sama hantu tante-tante," jawab pocong Sardi.
"dasar mulutnya mau si robek ya," kata Miss Kun.
keduanya pun tertawa, di saat itu ada pedagang bakso yang lewat, Linga dari dalam rumah ingin membeli bakso.
"uangnya kurang, tunggu Linga ambil lagi," kata bocah itu.
dia pun berlari kecil ke depan rumah, "bang bakso,"
"mangga den," kata penjual bakso itu
"saya mau bakso bang bukan mangga," kata Linga yang salah menangkap ucapan penjual bakso itu.
"iya den, mangga silahkan..." kata penjual bakso itu.
"sudah mau beli dua ya," kata Linga.
pedagang bakso itu pun hanya tersenyum sekilas, tapi pedagang bakso itu heran saat Linga menaruh satu bakso di bawah pohon mangga.
Miss Kun merasa senang,malam ini dia bisa makan bakso, pedagang bakso itu merasa aneh.
"sialan bocah ini, kalau beli dua yang satu buat di buang, kenapa mubazir sih, mending aku makan saja," kata penjual bakso itu yang ingin mengambil baksonya kembali.
tapi saat dia ingin menyentuh bakso itu,sebuah tangan dengan kuku panjang hitam menyentuh tangannya.
__ADS_1
"itu baso ku, hi-hi-hi-hi...." kata Miss Kun dengan wajah menyeramkan.
"kuntilanak!!!" teriak penjual bakso itu yang langsung lari tunggang langgang.
melihat itu, Linga di teras rumah hanya tertawa, "makanya jadi orang tak perlu julid atau penasaran dengan apa yang orang lakukan, jadilah kena batunya, ha-ha-ha-ha,"
penjual bakso itu lari sambil mendorong gerobaknya dengan kecepatan tinggi.
bahkan dia sudah tak peduli lagi, karena dia merasa jika tadi bukan hanya kuntilanak tapi ada sosok lain yang memelototinya.
saat tiba di sebuah pos kamling dia pun langsung duduk, dia pun menghela nafas yang hampir habis.
sebuah tangan menepuk pundak penjual bakso itu, "bang beli baksonya dua puluh bang,"
pria itu dengan gemetaran menoleh dan kaget, hingga langsung pingsan setelah melihat seorang wanita berpakaian putih.
"loh bang Paijo bangun bang, walah mau beli bakso saja kok pingsan sih," kata ibu RT yang pulang dari pengajian yang memang seragamnya berwarna putih.
"ibu-ibu tolong panggil warga untuk menolong dong, ya Allah..."
akhirnya ada ibu yang meminta tolong kepada seseorang, dan membawa pria itu ke rumah pak RW.
pak Paijo pingsan cukup lama, fan saat sadar dia melihat jika dia sedang di kelilingi oleh kuntilanak, pocong dan genderuwo serta yang lainnya.
"tolong saya, jangan bawa saya, silahkan makan baksonya gratis, tolong mbak Kunti jangan makan saya..." kata pria itu ketakutan.
semua orang merasa aneh, akhirnya seorang pria mengetikan air yang sudah di beri bacaan surat alfatihah.
baru kemudian pria itu tenang, "wes gak takut lagi, memang kamu habis lihat apa toh mas?"
"pak RW... kuntilanak pak, kukunya hitam panjang dengan rambut gimbal, terus ada pocong juga... saya takut pak..." kata pak Paijo.
"makanya kalau jualan jangan ngelamun, masak aku di panggil kuntilanak sih, padahal tadi aku cuma mau beli bakso sama ibu-ibu ini yang baru pulang dari pengajian,"
"ya maaf Bu, habis saya takut, terlebih tadi saya melihatnya di depan rumah paling besar dan bagus di pojokan..."
"kamu ngigau ya, orang tak ada rumah di pojokan, itu rumah belum jadi," kata pak RW.
"iya pak, ada rumah model jaman dulu," kata pria itu yang mencoba meyakinkan semua orang.
"maksudnya mungkin rumah keluarga Arkan itu loh pak, tapi itu kan bukan di pojokan melainkan di agak tengah loh dari sawah, bahkan di sampingnya ada rumah juga kok," kata Bu RT.
"sudahlah masnya kalau begitu istirahat dulu, nanti kalau sudah mendingan baru pulang," kata pak RW.
__ADS_1