Lily

Lily
berangkat


__ADS_3

Linga pun di tangkap oleh Adit dan langsung di minta maaf pada Nino, pasalnya tak sopan seperti itu pada orang tua.


"maaf ya om Nino,habis om Nino udah tua tapi tidak bisa menjaga mulut, ini itu rumah Allah kok bicaranya sembarangan," kata Linga yang tak ingin sepenuhnya di salahkan.


"iya maaf, om juga tadi cuma reflek mendengar ucapan papi mu yang juga sama menyebalkan itu," kata pria itu.


Nino dan Agra pamit pulang, karena mereka masih ada tugas di beberapa tempat karena di beberapa desa sedang ada hajatan.


malam itu mereka semua istirahat terutama Linga yang besok akan berangkat ke Jakarta bersama opa dan oma.


Adit sudah siap ingin pergi dengan mengunakan sepeda motor miliknya.


dia melihat beberapa tempat di desa, dan saat lelah memilih duduk di sebuah dam sungai dan menikmati rokok.


beberapa sosok datang untuk minta rokok, dan Adit tak keberatan memberikannya.


setelah itu dia segera ke tempat ustadz Faraz, karena malam ini hingga tengah malam di pondok sedang di adakan acara dzikir bersama sampai subuh.


Adit datang sudah cukup telat, dan langsung bergabung bersama yang lain, ternyata yang memimpin bukan Faraz melainkan pimpinan pondok pesantren yang baru.


ratusan santri duduk di tengah lapangan dan terdengar suara tasbih yang terus menggema.


dia pun bergabung setelah mengambil air wudhu, dan malam ini dia putuskan untuk di tempat ini mendalami ilmu agama.


pukul tiga pagi, setelah dapat seribuan bacaan tasbih dan dzikir, Adit tiba-tiba muntah darah mengeluarkan sebuah keris kecil.


ustadz Faraz yang melihat pun langsung mengambil sapu tangan dan menyimpan keris itu.


"Alhamdulillah... akhirnya keris ini bisa keluar juga, ini tang membuat mu memiliki kesaktian si pahit lidah," kata Faraz.


"iya ayah besar," jawab Adit yang kemudian pingsan.


sesuai dengan keinginannya, Adit perlahan ingin menjadi pria normal dan tak berhubungan dengan ilmu kebatinan apapun itu.


di rumah, Arkan juga tak tidur dan memilih menghantamkan Alquran malam itu.


Lily tiba-tiba berteriak kesakitan membuatnya panik, dsn ternyata Ki Sesnag sedang menarik pusaka yang tertanam di tubuh gadis itu.


"ada apa Ki?"


"akhirnya benda ini melepaskan diri,dan sekarang simpan baik-baik," kata ku Sesnag.

__ADS_1


akhirnya tak terasa suara adzan subuh membangunkan semuanya, Adit pulang setelah sholat subuh berjamaah di pondok.


ternyata ketiga orang itu sudah siap berangkat ke bandara, Adit memeluk adiknya itu.


"opa titip bocah ini ya, dan Linga ingat jangan menyusahkan mereka oke," kata Adit.


"siap mas," jawabnya dengan senang dan akhir mereka pun berangkat.


setelah mereka pergi dengan mobil travel dari bandara, keluarga Arkan pun memilih sarapan.


Lily duduk di samping Adit dan menaruh kepalanya di bahu kakaknya itu.


"aku seneng deh mas melihat opa sekarang, dia bahagia sekali setelah menikah dengan Oma," kata Lily.


"tentu, terlebih opa memang pria yang baik, jadi sudah sepantasnya opa mempunyai pasangan hidup yang baik pula, kamu sudah menyiapkan semua yang akan di bawa nanti siang," tanya Adit


"hah... tinggal menunggu jaket bulu ku kering karena aku ingin memakai jaket itu saat di gunung," kata Lily


"baiklah, sekarang ayo masuk, mas lapar nih," kata Adit.


beberapa pekerja sedang mendapatkan pesan dari Tasya, sedang Arkan memasukkan semua cemilan ke mobil Adit.


dia tau apa yang baru di alami Putranya itu, jadi sebisa mungkin dia membantunya.


setelah makan, Adit masuk kedalam kamarnya, dia sedikit terkejut melihat semua pakaian yang di siapkan oleh Lily.


"apa masih ada yang kurang, untuk alat mandi aku memasukkan yang baru," kata gadis itu.


"baiklah, sepertinya tinggal ****** *****," kata Adit


"itu siapin sendiri, aku malu sudah mas ambil biar aku menatap semuanya kedalam tas," kata Lily yang terlihat cekatan.


"aku merasa seperti punya istri yang baik ya,"kata Adit tersenyum melihat Lily.


"mas ngomong apa sih, sudah cepat masukkan benda itu," kata lily menunjuk tas khusus pakaian dalam


gadis itu sudah malu dan memilih pergi dari kamar saudaranya itu, dan kini dia menyiapkan semua cemilan yang ada di kulkas. tak lupa dia membawa kotak khusus agar makanan tahan sampai tiba di tempat liburan.


Lily juga mengecek uang cash yang ada di dompetnya, "mas Adit, mau mengantarku untuk mengambil uang, aku lupa belum ngambil uang,"


"baiklah, kebetulan mas juga mau mengambil uang," ajak Adit.

__ADS_1


mereka pun berboncengan menuju kesebuah ATM terdekat, Lily memeluk tubuh Adit dengan erat.


Adit juga memegangi tangan Lily agar gadis itu nyaman, "apa kamu tak ingin cemilan apa gitu , mumpung kita di luar dek?" tanya Adit yang selesai mengambil uang dari tiga kartu ATM berbeda miliknya.


"tidak mas, tapi nanti siang aku boleh gak duduk bersama mas saat di bus," tahta Lily yang ingin selalu dekat dengan Adit.


"tentu dek, kebetulan mas mengambil kursi di belakang agar kamu bisa nyaman tidur," kata Adit yang tau Lily suka tidur kalau di perjalanan cukup lama.


Adit membeli jeruk untuk setiap bus, dia belikan lima kilo, dan bisa di bilang pria itu benar-benar tak perhitungan dengan siapapun.


mereka pulang untuk bersiap berangkat siang ini, Adit dan Lily memasukkan tas yang cukup besar untuk liburan mereka selam tiga hari dua malam.


"papi dan mami yakin gak ikut naik bus saja, setidaknya kalian tak akan lelah nantinya, di bus kami ada empat kursi yang sengaja aku kosongkan," kata Adit


"tidak usah, kami mungkin tak akan mengikuti acara full kalian karena kami akan naik Bromo dari jalur pendakian sepertinya,"kata Arkan dan Tasya.


"ya baiklah, selamat menikmati pendakian kalian nanti," kata Lily yang tau itu tak mungkin terjadi karena Tasya sudah menukar isi tas milik papinya itu.


mereka pun berangkat dengan dua mobil menuju ke sekolah, pak Ari sudah menempelkan beberapa keterangan bis mana untuk kelas mana.


saat mobil Adit tiba, anand dan Riya buru-buru mengambil semua cemilan untuk kelas mereka.


"hei Yoshua, cepat kemari dan ajak lima teman mu," panggil Adit.


"iya pak ada apa?" tanya pemuda itu.


"bawa ini ke bus kalian dan ini semua di belikan pak Aditya, ingat di bagikan saat di jalan, dan untuk mie instan bisa di masak saat ada Yang layar, ingat ini semua pak Aditya yang memberikan," kata Adit.


"ya Tuhan ternyata bapak Aditya ini sangat baik ya," kata Yoshua yang ikut senang.


akhirnya bus dan semua siswa sudah masuk, dan untuk para guru yang ikut dan tak ada tanggung jawab mengawasi itu di sediakan bus khusus yang lebih kecil.


"kita tak jadi mendaki dan ikut anak-anak?" tanya Arkan kaget


"iya, sudah tepat naik bus kelas dua belas, karena bus itu yang paling besar," kata Aryan yang langsung naik


ternyata benar, bus itu sangat besar dan yang menjadi fokus Arkan adalah, Lily dan Adit duduk di kursi paling belakang dan cuma berdua.


pak Ari duduk di depan, sedang Aryan duduk bersama Riya sesuai kursi dan arkan serta Tasya duduk berdua saja.


"aduh ... kalian ini pintar sekali memilih tempat di belakang," protes Arkan.

__ADS_1


"kami hanya ingin nyaman tidur kok papi, dan lihatlah ayah kecil... pulang dari sini dia akan menikah mungkin," kata Lily tertawa.


sedang anand memilih di depan untuk mengawasi Uci yang di takutkan akan melakukan hal gila lagi.


__ADS_2