Lily

Lily
menghampiri kekasih


__ADS_3

Akhirnya Adit pun mulai menuju ke lapangan untuk mengikuti upacara bendera setiap hari Senin.


setelah itu dia langsung kembali ke ruangannya untuk melihat beberapa laporan tentang kenakalan anak-anak didiknya.


pukul sembilan pagi, Lily sudah siap akan ke kampus karena dia ada kuliah jam sebelas.


dia memutuskan untuk menghampiri Adit dulu di sekolah, dan tak lupa dia juga membawakan camilan untuk kekasihnya itu.


mobil Lily masuk kedalam area sekolah, kebetulan saat dia turun dari mobil dia melihat ada pak Ari yang baru selesai mengajar jam pertama.


"Monggo pak," kata Lily sopan.


pria itu hanya diam saja melihat Lily yang sekarang terlihat makin cantik dan sempurna sebagai wanita.


"jika aku tak bisa memiliki mu dengan cara biasa, maka jangan salahkan aku jika ingin memiliki mu dengan cara yang salah," batin pak Ari.


pria itu akan melakukan apapun agar gadis itu bisa jadi miliknya.


Lily langsung menuju ke ruangan Adit, dan setelah mengetuk pintu dia masuk kedalam sana.


"assalamualaikum..." kata Lily kaget karena tak melihat pria itu di ruangannya.


Adit sedang berdiri di balik pintu, Lily pun masuk dan Adit menutup ruangan itu,dan membuat Lily kaget.


tapi dia langsung memeluk Adit, "aduh dek... belum sah..." kata Adit melepaskan pelukan gadis cantik itu.


"memang kenapa sih, biasanya juga tak masalah kan," kata Lily tersenyum.


"ya kan beda," jawab Adit.


"baiklah mas tersayang ku, lihatlah aku datang membawa camilan untuk mu, aku membuatnya sendiri, dan di jamin rendah lemak dan karbohidrat," kata Lily tersenyum.


"terima kasih, tapi bukankah kamu ada kelas hari ini?" tanya Adit melihat kekasihnya itu.


"ada kok, jam sebelas siang karena ini masih pengenalan saja atau entah apa namanya," kata Lily

__ADS_1


"kamu harus ingat ini, kamu harus kuliah dengan benar karena kamu akan jadi pendidikan pertama untuk anak kita nanti," kata Adit dengan senang.


"apa? kenapa sudah mengatakan tentang anak, kita menikah saja belum," kata Lily merasa sedikit malu.


"tak apa-apa bukan, itu bukan kesalahan hingga membuat Kuta malu, sudah sekarang kamu mau di sini dulu atau bagaimana?" tanya Adit.


"aku disini dan sebentar lagi akan berangkat menuju ke kampus, memang mas ada jam ngajar?"tanya Lily.


"tidak ada, aku sudah mengirimkan tugas untuk kelas ku, dan memberikan mereka waktu untuk mengerjakan semua tugas itu," kata Adit santai.


"apa, seharusnya mas masuk kedalam kelas dan mengajar," kata Lily tak senang dengan jawaban dari Adit.


"maaf lah, bukan maksud mas, lagi pula mereka sudah terlalu banyak belajar, jadi biarkan saja untuk hari ini untuk santai," terang Adit.


"kami ini memang guru idaman, meski begitu kami semua dulu tetap bisa lulus dengan nilai baik,padahal mata pelajaran yang mas ajarkan itu termasuk yang paling berat," kata Lily dengan bangga.


"karena setiap guru punya cara untuk mengajar masing-masing," jawab Adit.


akhirnya Adit mengantarkan Lily untuk pergi meninggalkan sekolah, tapi tak terduga tiba-tiba terdengar suara ribut.


Adit langsung datang dan mendorong keduanya agar pisah, Radi melerai keduanya.


Adit menahan anak kelas yoga yang masih ingin menyerang Aslan, "hentikan, ini sekolah bukan hutan atau pasar, kenapa kelakuan kalian tidak seperti pelajar!" marah Adit


"bukan salah saya pak, itu bocah gila, gak ada angin gak ada hujan datang-datang main tonjok muka orang," kata kakak kelas itu.


"benar itu Aslan?" tanya Adit.


"aku tak akan melakukan itu jika dia tak mulai duluan,kenapa dia berani menghina Aluna," marah Aslan.


"kalian berdua ke kantor bapak, Aslan, Radi dan Aluna," perintah Adit.


pak Ari yang melihat hanya tersenyum saja, dia ingin tau apa yang bisa di lakukan pemuda itu.


Adit pun mengirimkan pesan pada pria itu, "permainan kotor kamu yang memulainya, jadi jangan salahkan aku jika aku menyebar semua kebusukan mu," isi pesan itu dan di sertai sebuah video.

__ADS_1


pak Ari tak mengira jika Adit bisa menemukan video lama itu, padahal video itu sudah di hapus dari lama.


Adit kini menghadapi semua murid itu, "jadi siapa yang mau jelaskan," tanyanya dengan wajah penuh selidik.


terlihat Akina yang ketakutan, "kenapa kalian diam, tidak ada yang ingin mengatakan sesuatu, ayolah sayang Adi kalian seperti jagoan sekarang malah seperti ayam sayur,"


"saya tak salah pak, hanya karena saya mengatakan jika tak selamanya gadis berjilbab itu Solehah, padahal mah busuk juga, lihat saja karena saya tak mengatakan omong kosong, karena saya punya buktinya, dan pahlawan kesiangan ini dengan sok gila langsung menghajar ku karena ucapan ku itu," terang anak kelas tiga itu.


Adit melihat video itu, ternyata itu adalah Aluna dan teman-temannya sedang nongkrong di sebuah warung.


dan yang membuat kaget adalah, para gadis muda itu merokok dengan gembira.


Adit melihatnya dan hanya memijat keningnya, "apa ini benar kamu Aluna, dan seingat ku ini hari dimana keluarga kita ada acara, dan saat itu jamu izin tak ikut karena beralasan ada tugas kelompok yang penting," kata Adit


"iya mas, maafkan aku... tolong jangan di katakan pada ayah, aku takut dia marah," kata Aluna menangis.


"tapi apa kamu pernah memikirkan bagaimana perasaan mereka saat melakukan ini?"


"aku di paksa mas, setelah kejadian itu aku tak mau berteman lagi dengan mereka, dan aku tak tau jika semua ini di video," kata Aluna.


"itulah pentingnya memiliki teman yang baik, dan untuk mu kenapa kamu membuat semua orang salah kamu tak tau alasan di balik video ini, semua memang sedang tertawa,apa kamu melihat Aluna ikut bersenang-senang di sana," kata Adit memperbesar video.


"tidak pak,Aluna tertekan karena aku juga ada disana, tapi aku marah karena dia terus menolak cintaku," kata remaja itu yang akhirnya jujur dengan bantuan ku Dwisa.


"sudah jelas sekarang, dan untuk mu Aslan,ya tuhan kenapa kamu begitu mudah main pukul begitu saja," kata Adit menghela nafas.


"aku kesal padanya, yang terus menghina Aluna," kata Aslan.


"baiklah,kalian bertiga panggil orang tua kalian sekarang, tanpa terkecuali dan mungkin saya akan memberikan skors pada kalian, dan juga semua murid di video ini, karena ini mencemarkan nama baik sekolah, kalian merokok dan minum seperti ini dengan masih memakai baju seragam sekolah," kata Adit.


Aslan pun merasa sedih, dia tak mungkin meminta Adri yang sudah sepuh ke sekolah untuk menghadapi kelakuannya yang seperti ini.


"kamu bisa minta tolong pada Tante Rania sebagai wali mu," kata Adit yang tau keresahan pemuda itu.


"baik mas terima kasih," jawab Aslan dan semuanya.

__ADS_1


Adit tak mengira, jika permainan pak Ari langsung mengincar keluarganya, mungkin kali ini dia bisa memaafkan, tapi sekali lagi Adit akan menunjukkan siapa dia sesungguhnya.


__ADS_2