
Adit dan papi Arkan sudah sampai di tempat kebakaran itu, dan mereka melihat apa yang tidak di lihat orang.
ada sosok banaspati yang mengelilingi tempat itu dan sedang bersenang-senang.
bukan hanya satu tapi ada banyak sosok bola api itu, Adit dan papi Arkan hanya mencoba tenang.
tapi melihat kebakaran yang tak kunjung berhenti, Adit pun meminta khodam milik keluarga Noviant bergerak untuk mengusir tujuh sosok itu.
tapi sebelum pergi salah satu ada yang meledakkan tempat itu lagi.
Adit pun bersyukur akhir apa di tempat itu sudah bisa di padamkan meski harus menelan banyak korban yang menumpuk di lobi hotel.
bahkan semua sudah tak bisa di kenali karena hangus terbakar, akhirnya mereka pun memilih untuk pergi dari tempat itu.
dan tak ingin mengambil resiko menantu para arwah penasaran itu, karena satu persatu korban itu sudah mulai bangkit menjadi arwah penasaran dengan tubuh yang gosong dengan beraneka bentuk.
mereka sampai di rumah Nino masih sangat pagi, mereka tadi sempat beli nasi Padang sebelum pulang.
semua orang kaget karena pagi ini mereka semua sarapan nasi Padang yang berisi aneka lauk itu.
Lily melihat suaminya yang begitu lahap begitupun dengan papi Arkan, "pasti papi sama mas Adit gak tidur lagi ya, ketahuan karena makanya begitu bar-bar." kata Lily.
"papi hanya lapar sayang, sudah kamu juga makan," kata papi Arkan.
__ADS_1
mami Tasya membawa air minum untuk keduanya, Lily nampak juga lahap makan.
Adit merasa jik istrinya itu sedang sangat sehat,dan tak terlihat jika wanita itu habis operasi.
setelah semua orang selesai sarapan, kini giliran Adit dan papi Arkan yang pulas tertidur, sedang Linga masuk di antara kedua pria itu karena dia melihat begitu banyak keluarga Nino yang datang dengan tubuh gosong.
semua keluarga Nino pun menuju rumah sakit, untuk melakukan tes DNA memastikan keluarga mereka.
Lily merasa aneh, tiba-tiba dia ingat perkataan dokter yang mengatakan jika dia sudah sembuh dan itu hanya kesalahan diagnosa.
tapi bagaimana bisa, dia sudah minum obat kanker itu selama empat bulan itu pun tak menunjukkan hasil.
bagaimana bisa saat Adit yang tau penyakitnya, dan malah dinyatakan salah diagnosa.
"ini ayah, aku heran saja sebelum mas Adit tau penyakit ku, aku sudah minum obat dan itu hanya mengurangi rasa sakit, tapi saat mas Adit tau, rasa sakit itu menghilang dan musnah," kata Lily.
"apa yang kamu katakan itu, jika benar seperti itu jangan-jangan Adit melakukan perjanjian setan untuk kesembuhan mu, apa suamimu itu tetap sholat?" tanya ustadz Faraz khawatir.
"aku tidak tau ayah, karena mas Adit selalu menghindar saat aku menyuruhnya sholat, dan dia selalu bilang sudah," jawab Lily.
ustadz Faraz marah besar, bagaimana bisa pria yang selama ini agamanya begitu baik bisa terjerumus sejauh ini.
dia ingin sekali menghampiri Adit dan memukul pria itu, tapi dia urungkan demi menemani Lily
__ADS_1
"apa ada masalah ayah, kenapa wajah ayah merah seperti menahan amarah?" tanya Lily penasaran.
"bukan begitu sayang, bukan ayah marah hanya saja ayah tak percaya semuanya," terang ustadz Faraz
"sebenarnya dari awal Lily sudah pasrah atas takdir ini, terlebih setelah Lily menikah dan keinginan Lily tercapai, tapi jika Allah bisa memberikan umur Lily bisa merasakan kebagian menjadi wanita seutuhnya bukankah itu sebuah keajaiban ayah," kata Lily dengan sangat senang.
"iya nak, kamu benar sebuah keajaiban jika seseorang bisa hidup lama meski sudah di diagnosa umurnya tak panjang, karena umur seseorang bukan ada di tangan dokter, tapi di takdir Tuhan," jawab ustadz Faraz yang di angguki oleh Lily.
Lily merasa jika ucapan dari ustadz Faraz sangat bisa diterima, karena dia berada jika ada yang salah dengan dirinya.
tapi jika sampai Suaminya itu memilih jalan setan demi keselamatannya itu mungkin akan menjadi pukulan terbesar bagi Lily.
pukul sebelas siang papi Arkan dan Adit baru bangun, dan tak butuh lama sebuah pesan masuk dari orang kepercayaan dari Adit, dia pun langsung pergi untuk mandi dan mengerjakan pekerjaan mendadak itu.
Adit sudah mencari mobil untuk mereka pulang, "ada apa mas Adit?" tanya Lily yang melihat suaminya itu sudah selesai dan berkemas.
Adit mencium pipi dan kening Lily, "kita harus pulang, karena pekerjaan mas begitu banyak, terlebih opa dan Oma tak ada teman di rumah,"
"baiklah mas, ayo kita pulang, tapi kita naik apa?"
"aku sudah mencari taksi online, dan sekarang sudah menuju kesini untuk menjemput kita, dan kita tinggal pamitan dengan yang lain," kata Adit.
"baiklah mas,"
__ADS_1