Lily

Lily
keluarga bikin pening


__ADS_3

"kenapa kamu sensitif sekali sih Adit, eyang hanya ingin bilang jika emosi berlebihan itu tak bagus, terlebih di dalam pernikahan," terang Amma Wulan.


"bukan maksudku untuk menunjukkan amarah ku eyang uti, tapi aku tak suka para pria yang mendekati Lily bahkan berani menjadi penguntit," kata Adit.


Amma Wulan tersenyum saja mendengarnya, bahkan pemuda itu tak sadar tangannya sedang di obati.


"kalau begitu kamu harus tau rasa itu juga, cemburu itu hal wajar, seperti dirimu, Lily itu juga sering uring-uringan setiap ada gadis yang mendekatimu,"


"benarkah eyang?"


"itu benar Adit, jadi kalian ini pasangan yang bagaimana ya posesif dan mudah cemburuan, tapi lucu melihat kalian seperti ini, jadi lebih baik masuk kedalam dan segera tidur, besok kamu mulai ngajar juga kan?" tanya Amma Wulan


"iya eyang uti, dan mungkin akan ada satu guru yang akan membenciku," gumam Adit tersenyum melihat perban putih di tangannya itu.


"tapi kalau itu karena Lily, bukankah kamu tak akan takut?"


"itu pasti eyang, karena bagiku Lily adalah segalanya dan hanya milikku," jawab Adit dengan semangat.


"baiklah cepat pergi istirahat," perintah Amma Wulan.


keesokan harinya, Adit sudah mulai melatih cara bertarungnya, dan kebetulan karena rumah Aditya tak jauh jadi mereka bertarung tanding.


ya Aditya menyerahkan rumah lamanya pada adiknya ustadz Rasyid.


sedang dia memilih tinggal di sekitaran rumah keluarga Rakasa, Aslan memerhatikan kedua orang itu.


dia merasa kedua orang itu sangat hebat, bahkan Adit terus menyerang dengan stamina yang sangat bagus.


"ayah belenti..." suara seorang gadis kecil.


keduanya pun berhenti dan melihat ada sosok gadis cantik yang berlari ke arah keduanya.


"ya Adek Nina kenapa menghentikan om Adit dan mas Aditya yang lagi berantem sih," marah Aslan.


"bialin... ayah disuluh bunda pulang," kata Nina yang berusia empat tahun.


"adek... kamu ini kenapa duluan sih, kan mas masih cari sandal tadi," kata Radi yang berlari karena mengejar adiknya.


"halo bro!!!" kata Adit yang langsung mendapat pelukan dari remaja itu.


"om Adit kemana saja, lama gak main bersama kami, itu Nina sampai gak ingat tuh," kata Radi.

__ADS_1


"maaf ya, om kebanyakan di luar negeri, sudah dapat oleh-oleh kan, Aslan juga?" tanya Adit.


"iya, tapi yang aku tunggu itu om Adit, bukan oleh-olehnya," kata bocah itu.


Adit tak mengira keluarga ini akan sangat besar, dan memiliki banyak anak dan sepupu yang dia sendiri bingung.


(edit: termasuk authornya😄😄)


"kalian ini benar-benar ya, baru ketemu sudah tarung tanding saja, Adit jamu tak ingin menyapa kakek mu," kata Adri.


Adit pun memeluk Adri yang sudah cukup sepuh, pasalnya pria itu yang selama ini menjadi pembimbing semua orang.


"kakek buyut sehat," sapa Adit.


"bagaimana terlihatnya?"


"masih bugar dan tak kelihatan seperti usia delapan puluh tahun, seperti orang usia tujuh belas tahun," kata Adit tersenyum.


"dasar bocah," kata pria itu tertawa.


Adit tak mengira di sini semua orang tinggal berdekatan,meski begitu ada beberapa masalah pasti bisa di hadapi.


dan juga beberapa kali harus melihat keluarga mereka yang di kenal dan sayangi, di panggil satu persatu oleh Tuhan.


tapi dia baru melihat ponselnya dan ternyata begitu banyak pesan dari Lily.


bahkan gadis itu seperti melakukan spam padanya karena tak ada balasan darinya.


Adit membalas pesan sambil tersenyum geli sendiri, tapi saat dia akan pergi, Husna menahannya.


"keponakan, sudah sarapan, ambil ini dan makan," kata Husna memberikan satu piring nasi goreng dengan dua telur rebus.


"hei Tante, kenapa telurnya di rebut?" ledek Adit.


"sudah makan saja, aku harus mengantarkan nasi ini ke beberapa tempat," kata Husna yang langsung pergi.


Adit hanya tersenyum, jika dulu keluarga ayah Raka melakukan berbagai basi setiap Jum'at, kini menjadi dua kali yaitu di hari Senin pagi juga.


setelah sarapan, Adit membawa piring itu ke dapur rumah, dan bersiap untuk berangkat.


"ada yang mau bareng?" tanya Adit.

__ADS_1


"gak kami bawa motor sendiri, takut gak bisa pulang," jawab semua sepupu- sepupunya.


sedang Aluna masih duduk di teras, "aunty Luna tak berangkat?"


"ah itu mas nunggu mbak Husna selesai," jawab gadis itu.


"gak takut kesiangan, sudah bareng aku sama aku saja, gak papa, sama keponakan juga," kata Adit yang sebenarnya geli menyebut dirinya keponakan dari Aluna.


tapi itu kenyataannya, Aluna pun izin pada ayah Raka dan Amma Wulan.


"Adit bawa motor pelan-pelan jika sampai Tante kecilmu luka, awas kamu," ancam ayah Raka.


"siap eyang Kakung," jawab pemuda itu yang langsung memacu motornya pergi.


dia bahkan bisa menyusul semua sepupu- sepupunya yang lain, dan motornya sampai terlebih dahulu di sekolah.


semua siswi heboh melihat Aluna datang dengan di antar dan di kawal dua pria tampan di sekolah


"mereka seperti tak pernah melihat laki-laki," kesal Aslan.


"maklum kalian ini masuk jajaran pria incaran tau, jadi gak usah sok kenal ya," ketus Aluna pada kedua sepupunya.


"gak janji deh," kesal Radi dan Aslan.


mereka pun masuk ke kelas masing-masing, sedang Adit menuju ke ruangan BK miliknya.


tapi sudah dia kira akan ada tatapan musuh kearahnya, dan itu datang dari pak Ari yang semalam melihat status yang di bagikan Adit tentang lamarannya dengan Lily yang begitu romantis.


"tak ku sangka jika pria yang terlihat begitu baik, nyatanya hanya seorang penghianat saja," sindir pak Ari.


"kenapa hanya menyindir, jika sebagai pria kamu tak mampu menunjukkan keseriusan, dan jangan salahkan orang yang bertindak lebih cepat darimu," kata Adit yang kemudian langsung pergi.


pak Ari tak mengira jika Adit begitu kasar seperti ini,tapi dia tak takit sebelum janur kuning melengkung siapapun bisa di tikung.


"aku melihat aura jahat dan kebencian besar dari pria yang bertemu dengan mu," kata Ki Dwisa yang ikut Adit kedalam ruangannya.


"sepertinya pria itu sudah meninggalkan agamanya karena wanita, dan aku yang membuatnya seperti itu," kata Adit menyeringai.


"memang apa istimewanya gadis itu, dia juga tak cantik-cantik amat," kata Ki Dwisa


"tutup mulutmu, taraf cantik di dunia ghaib itu berbeda taraf cantik di dunia kami, karena Lily itu sudah sangat cantik sebagai wanita," jawab Adit tak terima.

__ADS_1


"tapi menurut ku, itu tak sebanding dengan gadis kecil yang kamu selamatkan, gadis itu akan menjadi incaran banyak orang karena kecantikan lahir dan batinnya, terlebih bocah wanita itu tak pernah lepas dari cadarnya,"


"hei Ki Dwisa,kenapa kamu seperti orang jahat begitu mengincar gadis kecil, jangan membuat jijik oke, sudah sekarang duduk diam di sini dan jangan banyak tingkah.".kesal Adit pada makhluk itu.


__ADS_2