
Nino dan timnya seperti orang syok, mereka seperti orang bodoh saat ini karena baru melihat kejadian seperti itu.
bahkan semua orang yang berjubah merah itu sudah terbakar dengan begitu cepat dan jadi abu.
"itu tadi apa? terus kenapa kamu cuma diam, dia itu melakukan pembunuhan?" marah Nino.
"memang kamu bisa membuktikan ada pembunuhan, dimana dan mana korbannya, kamu mau menunjukkan jika abu itu buktinya, sekarang panggil tim forensik dan kamu akan tau jika itu abu biasa, tak akan kamu temukan potongan tulang atau apapun itu," kata Arkan menerangkan.
"terus kamu harus diam begitu saja?" tanya Nino
"ya terserah kamu, kan aku sudah bilang jika kita bukan menghadapi orang biasa, tapi kamu ngeyel ya ini jadinya," kesal Arkan.
semua pun nampak terdiam, mereka juga bingung mau bagaimana menjelaskan, pasalnya tak mungkin jika itu perbuatan seorang manusia.
Wiryo Geni sedang berada di depan padepokan itu, dia melihat pria yang menjadi pimpinan padepokan itu.
seekor elang terbang di atas padepokan itu dan kemudian pria itu muncul di tengah halaman padepokan.
"lihatlah bagaimana sekarang aku menghancurkan semuanya di depan pria itu," kata Wiryo Geni menghancurkan semua Parung yang ada di sana.
melihat patung yang tiba-tiba porak poranda, Bumi Hadikusumo pun kaget melihat itu.
"Bumi Hadikusumo,seorang anak angkat yang ingin mewarisi padepokan, padahal kamu tak pantas karena kamu tak memiliki pusaka warisan keluarga Hadikusumo bukan," kata Wiryo Geni.
"tutup mulutmu, kamu itu hanya seorang pria yang juga tak pantas mengomentari tentang hal ini," marah pria itu.
"tapi sayangnya kami adalah keturunan terakhir dari keluarga Hadikusumo yang sesungguhnya," kata Arum yang muncul dengan wujud ularnya.
semua pun kaget dan langsung menunduk hormat, bahkan Wiryo Geni menunjukkan mustika merah yang telah di cari selama delapan belas tahun ini.
"kau butuh ini dan aku memilikinya, dan sekali aku merusaknya kalian semua mati karena siluman yang kamu sembah juga akan menghilang," kata pria itu.
"ha-ha-ha itu pasti batu palsu karena mustika yang sebenarnya tak pernah di temukan," kata pria itu.
Wiryo Geni pun tersenyum di balik topengnya, dan langsung membuat batu mustika itu menjadi abu.
tiba-tiba semua orang merasa kesakitan, sedang Arum keheranan melihat saudaranya itu yang tak memiliki takut.
semua pun mulai kelojotan karena rasa sakit,bahkan bumi sudah muntah darah dan perlahan kulitnya terkelupas dengan darah mengucur deras.
pria bertopeng itu memanggil semua tumbal yang sudah di tanam untuk menghancurkan semua padepokan itu.
benar saja semua arwah yang marah langsung mencabik-cabik semua orang yang bersangkutan.
bumi tak terima ingin mengejar sosok dari pria itu, tapi dia tak bisa karena begitu banyak arwah yang menahannya.
tapi tanpa di duga pria itu datang kedepan bumi sambil tersenyum dan membuka topengnya.
"sebelum aku mengirim mu ke neraka, ingat wajah ku, tentu kau ingat bukan pria yang dengan kejam kamu penggal saat itu. kini aku akan melakukan hal yang sama, selamat tinggal paman," kata pria itu memenggal kepala pria itu hingga putus.
sebelum menyentuh bumi, Arum pun meremasnya dan melemparnya ke air setelah menjadi abu, karena jika sedikit saja dia menyentuh tanah, maka pria itu tak akan bisa mati, jadi dia menyimpan abu pria itu ke laut, dan tubuhnya di tanam di sebuah danau yang tak mungkin kering.
__ADS_1
dan padepokan itu di bakar habis oleh Wiryo Geni, bahkan kekuatan pria itu benar-benar tak tertandingi sedikitpun.
bahkan Arum pun kini memilih mundur karena dia tak ingin mengusik saudaranya.
"sekarang pergi, jangan menganggu keluargaku bukan, sesuai keinginan mu, aku sudah membunuh semua orang bukan," kata pria itu pada Arum
"baiklah, aku mengerti," jawab Arum yang sudah puas melihat dendamnya terbalaskan.
Adit pun pergi, dan sekarang dia menuju ke rumahnya, dan ternyata semua orang di desanya malah kembali mulai merasakan fatal di sekujur tubuh.
Adit pun mulai memasak air untuk obat semua warga desa,dan ini adalah ritual terakhirnya.
mang Imin pun langsung membantu Adit, karena hari ini adalah akhir bulan dan biasanya orang-orang akan kambuh.
di hari ini, Adit menyembuhkan dan juga menghancurkan segalanya, dan dia setelah ini akan memilih hidup normal dan normal seperti orang biasa.
semua warga pun sudah sembuh dari kutukan dari Arkan, dan Adit mulai menata semuanya.
dia meletakkan jubah dan topeng itu ke sebuah tampah yang berisi semua sesajen dan juga bunga.
setelah itu dia membawanya ke area makam desa, dan membawa semuanya ke arah pohon besar di makam itu.
dia juga menyalakan supa untuk memanggil Ki Willis, tak lama penunggu tempat itu datang.
"kamu kenapa begitu buru-buru mengembalikan semuanya le, kamu bisa menyimpannya," kata Ki Willis.
"maaf eyang, tugas saya selesai, dan padepokan itu juga sudah habis tak bersisa, jadi saya ingin hidup normal," jawab Adit tersenyum.
tiga hansip mengarahkan senter ke wajah Adit, "siapa, dan mau apa ke makam malam-malam begini, mau mesum ya!" kata hansip itu.
tapi ketiga hansip itu langsung lari terbirit-birit saat Adit belum sempat menjawab, "heh... pak aku belum jawab,"
"hi-hi-hi... halo ganteng..." sapa nyai Kunti merah di belakang Adit.
"pantes mereka kabur, halo Tante Kunti, mau apa kok tumben turun," tanya Adit tertawa melihat hantu itu.
"ih bikin kesel deh, masak kamu tak takut dengan ku sih, dasar pria aneh," kata kuntilanak merah itu.
"gak dong, aku dari kecil sudah sering lihat modelan begini jadi biasa, mau makan nasi goreng gak?" tanya Adit.
"boleh tapi dua piring," jawab kuntilanak itu.
"ya sudah ayo kita pergi, tapi tolong jangan pergi dengan wujud awur-awuran begitu,yang cantik dong," kata Adit pada kuntilanak itu.
"baiklah, berubah .."
"berubah, power rangers kali ah..." gumam Adit menertawakan hantu satu itu.
"sudah cantik kan?" tanya kuntilanak itu.
__ADS_1
"wow... baiklah sekarang ayo kita pergi, ya setidaknya aku tak melihat belatung saat makan nanti," kata Adit tertawa
"iya dong aku juga harus cantik, masak kamu ganteng gini aku blangsak," kata kuntilanak merah itu.
"oh ini ya, padahal aku belum cukur jadi terlihat lebih tua di banding usiaku," Jats Adit tersenyum.
mereka pun pergi, kuntilanak itu duduk di kursi depan dan kini mobil Adit menuju ke jalan kecamatan untuk membeli nasi goreng.
dia bersyukur masih menemukan penjual nasi yang masih buka, mobil sudah terparkir di tempat seharusnya yaitu tepat di samping penjual nasi itu.
"bang pesen nasi goreng tiga piring dan es teh dua ya," kata Adit.
"hah..."
"saya kelaperan mas, saya tunggu di mobil ya," kata Adit.
"baiklah mas, tolong tunggu sebentar ya," kata Abang penjual nasi goreng itu.
sambil menunggu, Adit tak sengaja juga melihat seorang bocah yang menyungi tampah.
"dek kemari!" panggilnya.
"iya mas, mau beli gak?" tawar bocah itu.
"kamu jualan apa, ini sudah malam loh," kata Adit melihat isi tampah itu.
"iya mas, habis ibu sedang sakit, jadi saya yang jualan," kata bocah itu.
"terus ayah mu mana? bukannya dia harusnya yang kerja," kata Adit penasaran.
"ayah saya sudah meninggal dunia, dan sekarang saya hidup dengan dua adik yang juga masih kecil," jawab bocah itu.
"sudah duduk sini, mas tolong nasinya empat lagi ya bungkus," kata Adit.
kuntilanak itu pun tersentuh mendengar hal itu, Adit malah memilih makan jualan bocah itu yang ternyata jualan carang mas.
"ini mas beli semua, dan nanti mas antar ya, sekarang makan dulu, kamu pasti lapar," kata Adit.
kuntilanak itu pun rela nasi gorengnya di makan Adit, setelah kenyang hantu itu pindah kebelakang.
kini Adit mengantarkan bocah itu kerumahnya, ternyata mereka masuk di suatu desa yang tak jauh dari rumah Aryan.
"yang mana rumah mu dek?"
"itu mas yang ada tulisannya rumah yang berwarna hijau," jawab bocah itu.
ternyata itu adalah rumah yang di buatkan oleh pemerintah desa, yang biasanya hanya berbentuk topeng, jadi separuh tembok dan sisanya adalah rumah bilik dari bambu.
Adit jadi ingat bagaimana dulu dia hidup sebelum di ambil anak oleh keluarga Arkan.
__ADS_1