
keduanya keluar dan mengambil makanan, mereka duduk lesehan saja di ruang tamu.
"loh kalian sudah ganti baju," kata kami Tasya.
"iya mi, udah capek, katanya sederhana itu tamu gak berhenti loh dari pagi," protes Lily.
"ya mau bagaimana mana lagi, semua teman dan kolega keluarga kita kan banyak, belum lagi suamimu itu, mami tolong dong papi juga lapar nih tadi belum sempat makan," kata papi Arkan pada istrinya.
"iya mami ambilkan," jawab mami Tasya.
beruntung mereka mengunakan jasa Wedding Organizer setidaknya mereka tak akan bingung.
dan rumah juga bisa langsung bersih setelah acara, karena itu sudah menjadi tugas mereka.
"jadi kalian mau bulan madu kemana?" tanya papi Arkan penasaran.
"sepertinya kamu akan umroh berdua selama sepuluh hari, karena itu lebih baik kan pi,"
"pilihan tepat," jawab Arkan.
Lily tak mengira jika pilihan suaminya itu malah membuat mereka semakin dekat dengan Tuhan.
mereka pun selesai makan dan memutuskan untuk Istirahat, Lily dan Adit langsung tertidur tanpa melakukan apapun karena kelelahan.
sedang papi Arkan juga baru tidur setelah memastikan semua orang sudah membersihkan semuanya.
Adit bangun pukul empat pagi, dan melihat papi Arkan tertidur di ruang tamu.
dia tak berani membangunkan pria itu, jadi dia keluar rumah dengan pelan-pelan.
tapi baru juga keluar dari rumah dia sudah melihat pria yang datang membawa pisau.
"ada apa pak Ari, anda ingin melakukan apa?" tanya Adit yang heran melihat pria itu.
"kamu harus mati, karena tak pantas untuk Lily, dan aku akan membunuhmu," kata pria itu.
Ki Dwisa mengibaskan ekornya dan membuat pria itu terbang jauh entah kemana.
"mantap," kata Adit
"ku kira kamu tak akan menikah, eh ini malah nikah muda," kata Ki Dwisa kecewa.
__ADS_1
"memang kenapa? aku mencintainya," kata Adit dengan bangga.
"aku harap kamu tetap bisa bilang seperti itu dsn tak kecewa nantinya," kata Ki Dwisa yang kemudian menghilang.
"apa? apa maksudnya, dasar Ki Dwisa aneh," gumam Adit.
Ki Dwisa pun memilih bersemedi sementara waktu, dia hanya harus melihat saja apa yang terjadi beberapa tahun kedepan.
dan bukan hal baik mengatakan hal seperti itu di saat kebahagiaan sedang di rasakan semua orang.
keesokan harinya semua heran melihat ada pria yang pingsan dan nyangkut di atas pohon asem yang tingginya sepuluh meter.
bahkan pria itu seperti orang linglung saat ini, lain lagi di rumah Riya dan Aryan.
Keduanya sekarang sedang heran melihat Anand, "wah ada apa ini? kok masak banyak banget?" tanya Aryan nrkihat meja makan.
"tidak ada apa-apa, aku hanya ingin masak untuk mama dan calon adik ku, oh ya ayah aku punya cafe loh di Surabaya, mau gak investasi," kata Anand.
Aryan pun hanya tersenyum, putranya itu memang tak berubah, "butuh berapa juta?" kata Aryan dengan tawa.
"ya di kasih seratus ya Alhamdulillah, di kasih lima puluh juga aku terima kok," jawab Anand dengan wajah senang.
"ayah kasih seratus lima puluh juta, dan ingat ini modal untuk mu, dan ayah garap usaha mi tak akan membuat mu lupa untuk kuliah," kata Aryan pada putranya itu.
"tunggu aku ambilkan bukunya dulu ya," jawab Riya yang bangun dari kursinya.
"Halah yang mau bikin usaha kok ya ngerepotin," kata Aryan.
"namanya juga baru mulai ayah," jawab anand.
di rumah papi Arkan pagi itu, mereka sarapan dengn nasi goreng dan beberapa lauk yang memang semalam masih ada.
dan yang membuat mereka semua senang adalah nasi goreng itu adalah buatan Adit.
bahkan Linga yang biasanya suka cerewet masalah nasi goreng, tapi tidak akan terjadi jika Adit yang membaut nasi gorengnya.
setelah selesai makan, mereka semua pun pergi mengunjungi keluarga ayah Raka dan ingin melakukan tinjo.
itu adat di desa dan semua pengantin baru harus melakukannya, saat sampai di rumah ayah Raka.
Adit dan Lily di minta untuk menanam sebuah pohon di depan rumah itu.
__ADS_1
itu adalah pohon yang bisa tumbuh dan bertahan ratusan tahun, dan dengan itu mereka semua berharap jika hubungan Adit dan Lily bisa bertahan lama.
"jadi apa yang kita lakukan setelah ini?"
"entahlah, bagaimana jika kita kerumah baru yang akan kita tinggali karena rumah itu sudah siap," jawab Adit.
"boleh dong, aku mau lihatnya,setelah dari sini ya mas," jawab Lily tak sabar.
karena sebagian besar rumah itu adalah hasil pilihannya dengan Adit, jadi harusnya rumah itu sangat bagus dan mewah.
mereka pun tinggal sedikit lama untuk berbincang dengan semua keluarga.
Nino dan Husna baru saja pulang setelah melakukan sidang intuk pernikahan.
"aduh ibu Bayangkari baru pulang, bagaimana sudah bisa menikah?" tanya papi Arkan melihat adiknya itu.
"aduh diam ya mas, bikin pusing tau gak," kesal Husna.
"lah memang ada yang salah, memang kenapa sidangnya bikin masalah? atau Husna kurang sabar?" tanya papi Arkan heran.
"ya karena ada sedikit masalah tadi, tapi beruntung semua bisa di lancarkan, mungkin Husna kaget karena jika jadi menikah dengan ku, dia akan jadi kepala ibu Bayangkari di sektor ku," kata Nino.
"iya ya, aku lupa jika sekarang jabatan mu sudah sangat tinggi," kata papi arkan.
Husna pun memilih ke dapur dan langsung mengambil tahu ranjau buatan Lily.
"aduh aunty kok main nyomot aja sih, itu pedes loh," kata Lily.
"diam Lily, aunty lagi butuh asupan makanan pedes ini, aku mau tiga dong," kata Husna.
"no... goreng sendiri, itu calon suaminya tuh, di urusin," kata Lily tersenyum.
Husna menoleh dan melihat sosok Nino, pria itu berjongkok di depan calon istrinya itu.
"ada apa? tolong jangan sedih seperti ini, kamu menyesal?"
"tidak begitu mas, aku hanya kesal saja karena teman-teman mas mengira ku hanya mengincar hartamu," kata Husna.
"tidak usah di gubris karena aku yakin kamu gadis yang baik, karena aku yang merasakan ketulusan mu," kata Nino.
"tapi aku takut ibu mas Nino,"
__ADS_1
"tebang jamu batu sekali ketemu mama, nanti kalau ketemu lagi sama mama pasti kamu tau mama itu orangnya gimana?" kata Nino tersenyum.