
para dokter heran melihat luka di punggung Adit, bagaimana bisa, dalam semalam luka itu kering, meski aneh tapi semuanya nampak normal.
Arkan sudah tau pasti ini akan menimbulkan sedikit pertanyaan di depan semua orang yang baru pertama melihatnya.
"maaf dokter, jangan kaget begitu, tubuh putraku memang memiliki keistimewaan, jadi mau percaya atau tidak, saat dia terluka dia akan pulih dengan cepat," kata Arkan.
"ah begitu, saya masih mempercayai hal ghaib jadi saya percaya, kalau begitu kita bisa pindahkan ke ruang rawat," kata dokter itu.
Arkan mengangguk, dan kini Adit jadi satu ruangan dengan Shafa yang masih harus mengunakan oksigen untuk membantu menormalkan pernafasannya.
Adit tetap harus tidur tengkurap karena luka di punggungnya, Shafa yang melihat Adit pun merasa sedih.
"maaf..." lirih bocah itu.
"kenapa minta maaf, ini sudah tugas mas Adit buat melindungi adiknya bukan," kata pemuda itu.
"terima kasih mas," kata Shafa.
Arkan sudah mengirimkan pesan untuk istrinya datang ke rumah sakit.
tiba-tiba pintu kamar terbuka dan ketiga orang yang baru sampai dari Jakarta langsung masuk.
"assalamualaikum... Adit bagaimana keadaan mu nak," kata Oma utami yang nampak begitu takut.
terlebih melihat keadaan pemuda itu, dia hanya bisa meneteskan air mata.
Adit memanggil Linga untuk membantunya bangun, "tunggu Oma jangan seperti ini, ini sudah kering dan tak sakit," kata Adit tersenyum.
"bocah edan, bagaimana bisa luka kayak gitu gak sakit, cah gemblung.." marah opa Alan.
"kan, ini nih kalau bule bisa bahasa Jawa keluar semua kata mutiaranya,gemblung lah, edan lah, kampret lah," kata Arkan dengan nada meledek.
mendengar ucapan menantunya, opa Alan langsung melayangkan sebuah pukulan ke kepala menantunya itu.
"Podo ae kato anak mu," kesal pria itu.
"aduh bapak, jangan memberi contoh buruk untuk anak-anak," kata Arkan yang akan dapat pukulan lagi tapi dia tertawa begitupun dengan opa Alan.
Oma utami juga memeluk Shafa yang masih nampak lemah, dia tau jika gadis itu juga ketakutan.
sebuah pintu di ketuk, ketika mami Tasya, umi Kalila dan Lily datang, semua pun heran melihat Lily.
"wih sayang kamu bawa siapa itu?" tanya Arkan melihat anak gadisnya yang merubah penampilan.
"iya nih Pi,mami juga kaget tadi, karena putri mu memakai pakaian tertutup sekarang," kata mami Tasya tersenyum.
"mami..." kata Lily malu.
__ADS_1
"masya Allah... kamu cantik dek," puji Adit
Lily langsung malu dan memeluk sang opa, ustadz Faraz juga mengusap kepala keponakannya itu.
"oh ya kami datang bawa sarapan, spesial karena sambelnya yang buat Lily, terus ada bubur juga untuk Shafa dan Adit," kata mami Tasya.
"jadi kalian makan dulu, biar kami yang menyuapi Adit dan Shafa," kata umi Kalila.
"jangan umi, umi makan karena umi juga sedang hamil dan butuh nutrisi, biar aku yang merawat Shafa, dan Linda suapi mas Adit," perintah Lily.
"siap bos," jawab bocah itu.
mereka berdua langsung membantu keduanya untuk makan,dan semua keluarga melihat dengan bahagia.
Aryan, Riya dan Anand juga baru datang, mereka juga membawa buah untuk semua orang.
"assalamualaikum..." sapa mereka.
"waalaikum salam... wah keluarga baru nih, mari masuk.." kata Arkan yang bangkit dari kursinya.
"mulut mu bisa di jaga gak," kesal Aryan.
"ya sudah maaf, oh ya kamu tak mengabari orang tua kita kan,bisa bahaya ini," kata Arkan mtlihat adiknya itu.
"maaf... sepertinya kemarin Lily beritahu ke eyang juga deh," kata Lily dengan lirih.
"apa!!" kaget ketiga pria itu.
ketiga pria itu sudah panik duluan, "kita ke kantin," kata papi Arkan memberikan ide.
"setuju, ayo kita berangkat," ajak ustadz Faraz.
mereka berdua akan buru-buru keluar tapi sayang, belum sempat keluar mereka sudah kaget melihat kedua orang itu sudah berdiri di depan pintu.
"mau kemana kalian?" tanya ayah Raka dengan suara dingin.
"gak kemana-mana kok yah," jawab ketiganya kompak.
mereka bertiga langsung cium tangan pada kedua orang tuanya, kemudian terpukul mundur kembali kedalam ruangan.
mami Tasya, umi Kalila hanya bisa tersenyum melihat tingkah ketiga pria dewasa itu.
"assalamualaikum..." salam ayah Raka dan Amma Wulan.
"waalaikum salam.. Amma, ayah," kata mami Tasya yang langsung mencium tangan kedua mertuanya.
begitupun dengan umi Kalila, ayah Raka juga berpelukan dengan opa Alan sebagai besannya.
__ADS_1
"bagaimana kondisi Shafa dan Adit," tanya ayah Raka.
"Alhamdulillah sudah mulai membaik eyang," jawab Adit dengan sopan.
Amma Wulan pun menghampiri cucu laki-lakinya itu, dan mulai mendoakannya.
setelah itu baru Shafa, wanita yang tetap anggun itu duduk dan tersenyum melihat Lily.
"Alhamdulillah... sekarang mbak Lily juga menutup aurat ya,"
"iya eyang uti, karena Lily ingin jadi wanita muslimah seutuhnya," jawabnya.
saat melihat kedua orang tuannya lengah, ketiga pria itu ingin kabur, tapi ayah Raka menarik ketiga kerah baju pria itu.
"mau kemana, duduk di sini ayah mau bertanya, dan untuk yang lain, boleh meninggalkan kami dulu?" tanya ayah Raka.
"tentu ayah, Lily, Linga kemarilah nak, kita ke kantin, biarkan eyang bicara dengan papi,ayah kecil dan ayah besar," kata mami Tasya yang tau jika keluarga itu butuh privasi.
"berlutut," perintah ayah Raka pada ketiga putranya.
"ya Allah yah... jangan lah permalukan ketiga putra mu ini di depan dua cucu mu yang sedang sakit," kata Arkan memohon.
"taruh tangan kalian di belakang kepala," kata ayah Raka
Arkan tau jika mereka bertiga sedang di hukum, bahkan ini sangat memalukan di usia mereka.
"acara wisata sekolah gagal karena ada beberapa murid terluka, pondok yang seharusnya jadi amanah mu juga terbakar, dan pria satu ini ya Tuhan, kenapa kamu ingin menikahkan putrimu pada pria yang tidak dia sukai tanpa bertanya!" marah ayah Raka dengan suara naik.
"ayah ingat ini rumah sakit," kata Amma Wulan.
"Arkan bisa jelaskan semua, kecuali pondok," kata papi Arkan memohon dan berusaha bangun karena lututnya sakit.
"siapa yang menyuruhmu bangun, berlutut," kata ayah Raka.
"sakit ayah..." kata papi Arkan.
"gak usah bohong, kami itu langganan luka parah hampir mati, jangan membohongiku, dasar pria tengik," marah ayah Raka.
ketiganya sudah tak bisa di selamatkan lagi, terlebih masalah memang terus beruntun menimpa mereka.
"untuk murid yang terluka atau sakit, mereka memiliki alergi dingin dan tidak bilang, dan ada beberapa murid yang tidak mematuhi peraturan saat di pantai dan mereka terkena batu karang saat berenang," jawab papi Arkan
"seharusnya yang jawab Aryan, kenapa kamu lebih tau? dan untuk masalah putrimu?" tanya ayah Raka.
"em... Aryan pulang duluan bersama Adit, Lily dan Riya, karena Lily sedih sepanjang perjalanannya menuju pantai, sepertinya dia tau apa yang di bicarakan Arkan dengan seorang guru di depan api unggun," jawab Aryan.
"apa? ah itu benar sih, tapi aku tak memaksanya menikah ayah, aku hanya bilang jika guru itu suka dengan Lily dia harus bertanya dan menerima persetujuan dari Lily untuk mau menikah, karena aku hanya akan merestui pria yang di cintai dan di pilih oleh Lily," jawab papi Arkan.
__ADS_1
"baiklah, Faraz!"
"iya ayah..." jawabnya reflek karena kaget.