Lily

Lily
aku tak sebanding


__ADS_3

Riya pun masuk kedalam rumah, dia tinggal bersama kedua kakek neneknya yang bekerja apapun yang halal.


beruntung karena Riya bisa sekolah dengan beasiswa dari sekolah hingga dia bisa sekolah.


malam itu, terlewati begitu saja, setelah subuh Aryan keluar dari kamar karena Arkan menelponnya.


"ayah mau kemana? jika mencari Dimas, aku ikut," mohon anand.


"baiklah, kalau begitu ambil jaket mu dan kita berangkat," kata Aryan.


mereka pun menuju ke area pasar malam kemarin yang di adakan, Arkan sudah datang sendirian.


"ku kira kalian masih marahan," kata pria itu yang melihat kedatangan Aryan dan Anand.


"bagaimana pun, aku tak bisa marah terlalu lama padanya, karena dia adalah hidupku," jawab Aryan


"ya anak tetaplah dunia dan hidup orang tuanya, tapi anak kadang tak sadar diri berani menyakiti orang tuannya yang begitu menyayanginya," kata Arkan


"iya ayah besar, aku minta maaf... aku akan sebisa mungkin menghapus perasaan ku, tapi tolong jangan marah pada ayah, karena semua ini kesalahan ku," kata Anand.


"baiklah, sekarang ayo kita cari teman mu itu, sepertinya semalaman sudah cukup untuk memberikan pelajaran kepada kalian," kata Arkan tersenyum.


mereka pun menuju ke area makam para sesepuh yang dulu membabat desa.


terlihat Dimas masih terikat di pohon besar itu dan kondisi pemuda itu pingsan.


Arkan pun mengusapkan air doa dari tangannya untuk membuat pemuda itu tak histeris.


"bangun le," panggil Arkan


"ampun... saya tak akan menganggu Lily lagi, Anand yang menyuruhku, aku hanya ikut-ikutan, jangan tinggalkan aku sendiri," kata pemuda itu masih histeris.


Arkan yang melihat kondisi pemuda itu sangat menghawatirkan,dia pun membacakan sebuah doa dan perlahan Dimas mulai tenang.


"ayah besar dia kenapa?" bingung Anand.


"jika kamu ingin tau apa perasaan Dimas yang di ikat di sini semalaman, aku bisa menunjukkan rasanya padamu," kata Arkan yang mengulurkan tangannya.


Anand yang penasaran pun menyentuh tangan ayah besarnya itu, ternyata dia seperti melihat bayangan.

__ADS_1


dia melihat Dimas yang di hantui semalaman, bahkan pemuda itu beberapa kali di dekati oleh sosok-sosok menyeramkan,bahkan ada pocong dan kuntilanak terus tertawa dan mengawasi pemuda itu.


Anand yang tak sanggup pun melepaskan tangannya dari tangan Arkan.


"mau coba le, lumayan untuk uji nyali," kata arkan tersenyum


"tidak ayah besar, tapi apa dia akan baik-baik saja, mungkin dia akan trauma?" kata anand khawatir jika pengalaman semalam akan mempengaruhi mental dari Dimas.


"tenang saja, aku sudah membuatnya melupakan semua kejadian semalam, Aryan tugas mu," kata Arkan tersenyum.


Aryan pun langsung mengangkat Dimas dengan mudah, meski usianya sudah menginjak hampir empat puluh tahun.


tapi pria itu masih tampan dan juga bugar, bahkan jika ada orang yang tak tau akan mengira jika dia masih dia puluh tahunan.


mereka pun membawa dinas pulang dan menidurkannya di sofa, Arkan membacakan doa untuk memulihkan kondisi pemuda itu.


"aku tidak ikut-ikut!!!" teriak Dimas saat sadar.


"iya le, iya... saya tau," kata Arkan tersenyum meledek pemuda itu.


Dimas yang melihat ini rumah anand langsung mencengkram bahu temannya itu.


"apa maksudnya?" tanya Aryan.


"siapapun yang ingin menjadikan Lily miliknya, mereka harus melawan Aditama, pertahanan utama dalam melindungi Lily," kata Arkan serius.


"tapi dia itu tak bisa bergerak, bagaimana aku melawannya?" tanya Anand.


"kau kira aku akan membiarkan adikku begitu saja bisa kau sakiti bocah," kata Adit yang sudah mengacungkan pisau di leher anand.


Dimas dan yang lain kaget, bagaimana pria itu bisa sampai dan tak ada yang mengetahuinya.


"kau bergerak sedikit saja melukai Lily, kau mati di tangan ku tak perduli kau putra ayah kecil," bisik Adit penuh ancaman.


"hei nak tenanglah... kamu membuat kami semua kaget, kenapa kamu sudah disini," tanya Arkan mengisap kepala putranya itu.


Dimas pun makin takut saat melihat mata merah Adit, Anand menyentuh lehernya yang terluka.


"Adit, kamu disini?" kagetnya hingga mundur cukup jauh.

__ADS_1


"apa kau anggap aku tak tau apa-apa, aku tidak buta meski selama aku terbaring tak berdaya, tapi aku tetap menemani adikku dalam jiwa kong, dan sekarang aku bisa membunuh mu tanya menyentuh mu jika bisa," kata Adit.


"tolong tenang Aditama, ayah kecil mohon maafkan Anand, jika perlu apapun yang kamu inginkan ayah kecil akan mengabulkannya, meski kamu meminta ayah kecil bersujud padamu," kata Aryan.


"tidak ayah," kata anand.


"aku bukan orang gila hormat, satu ucapan ku bisa membunuh siapapun, mau coba anand," gumam Adit tetap tertuju pada pemuda itu.


"Arkan aku mohon kendalikan putramu, aku akan memohon jika perlu, karena putraku adalah hidupku, jika dia terluka maka hidupku hancur seluruhnya," Maya Aryan yang mulai panik.


"semoga ayah kecil mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya, dan juga pasangan seumur hidup secepatnya," kata Adit dengan tulus.


"tenang Aryan, dia datang hanya ingin menunjukkan jika dia baik, dia sudah sembuh putra kebanggaan ku, dan sekarang aku akan sedikit tenang karena dia akan menjaga Lily dan Linga," kata Arkan.


"maafkan aku kak Adit, aku tau jika aku salah... aku juga akan pergi dan meninggalkan Lily," kata Anand.


"itu tak asik anand, bagaimana kalau kamu harus tersiksa dengan tak bisa mendekatinya, itu hukuman yang pantas untuk mu bukan," kata Adit tersenyum menyeringai kejam.


"hei... kau kira adik mu itu apa, dasar bocah tengik," kata Arkan menggeplak kepala dari Adit.


Dimas kaget melihatnya, pasalnya Adit pun tak berdua di depan pria yang terkenal sebagai ketua yayasan itu.


"papi ..."


"diam, sekarang kalian berdua selesaikan masalahnya, anand kamu mau mundur agar tidak menganggu Lily lagi dengan perasaan mu?" tanya Arkan.


"iya ayah besar," jawab Anand.


"bagus, dan untuk mu Adit, apa kamu sudah tau jati dirimu?" tanya Arkan.


"aku adalah putra dari Aryo Cokro Hadikusumo dan Nyai Ayu Hapsari, mereka adalah keturunan terakhir dari keluarga Hadikusumo yang berdarah murni," kata Aditama.


"apa Hadikusumo, Allahuakbar... semoga kamu di jauhkan dari merkea le, karena jika benar hidup mu dalam ancaman besar," kata Arkan.


"tunggu padepokan ilmu Hadikusumo adalah tempat kakek ku sering mengikuti kajian tentang spritual, memang apa hubungannya?" tanya Dimas yang baru berani buka suara.


"itu adalah padepokan yang menyembah setan dan dari sana para pengikutnya akan memberikan tumbal untuk mendapatkan kekayaan yang di inginkan," jawab Arkan.


"tidak mungkin, berarti kakek ku mengikuti pesugihan, dan menumbalkan orang tuaku," kaget Dimas yang langsung menangis.

__ADS_1


semua orang pun langsung saling pandang, mereka tak mengira jika juragan Suroso yang begitu baik adalah pengikut padepokan itu.


__ADS_2