Lily

Lily
ide Lily


__ADS_3

Lily dan kelima murid sudah duduk di ruangan guru untuk menunggu makan siang yang di pesan lewat pesan antar.


karena mereka berenam harus membuat beberapa hal untuk melakukan voting saat setelah ujian negara nantinya.


Anand benar-benar berusaha menjauh dari Lily karena dia tak ingin berurusan dengan Adit.


sedang salah satu murid wanita yang tadi datang telat, terus memperhatikan anand.


"kamu tak akan mendapatkan apapun dengan memelototinya seperti itu, ajak bicara dia itu pria yang baik kok," bisik Lily.


"ah apa? tidak kok Lily, aku hanya tak sengaja melihatnya," jawab gadis itu malu.


Lily tersenyum dan berbalik dan melihat sosok Riya yang juga sedang melamun, "kamu juga lagi nglamuni apa sih," tanya Lily menyikut temannya itu.


"hah... apa? aku kenapa?" bingung Riya.


"ya Tuhan, kamu itu dari tadi cuma diem saja, ngomong Ding, jangan bikin orang bingung ih..." marah Lily.


"aduh maaf deh sayang, aku gak bermaksud begitu, kamu sedang kenapa sih, kok sendi amat sih?" tanya Riya yang menekuk Lily.


"aku sedang merasa kesal karena kalian semua mencoba mengabaikan ku," kesal Lily.


"memang kenapa sih? ada yang membuatmu marah?" tanya Riya heran.


dia pun melihat ke arah abad, tapi pria itu malah menggerakkan bahunya tak tau, dan otomatis membuat Riya kesal.


"kamu kenapa sih neng? jawab atuh," kata Riya penasaran.


"memangnya aku itu salah ya, jika tak berjilbab, kenapa sih semua orang ingin melihatku seperti mamiku, padahal aku kan berbeda dengannya," kata Lily dengan sedih.


"habis kamu yang dulu begitu cantik dengan jilbab, malah melepasnya, jadi tak salah jika orang bertanya begitu padamu," kata anand dengan wajah mengesalkan.


"apa maksudmu aku tak cantik saat tak berjilbab?" tanya Zoey marah


"seharusnya sebagai muslimah yang tau dan mengerti agama, seharusnya kamu tau apa hukumnya tapi itu tergantung dirimu, toh setiap orang punya kriteria sendiri-sendiri tak ada yang salah bukan," kata Anand yang berhasil membungkam Lily.


gadis itu terdiam, dia pun ingat dengan ucapan dari Adit yang menyukai wanita yang menutup auratnya.


sedang dirinya malah seperti ini, jadilah dia hanya menghela nafas saja.


mie judes pesanan mereka pun datang, hampir bersamaan dengan jus buah dan juga somay yang di pesan.


mereka pun makan bersama, mobil Aryan baru memasuki area sekolah dan membuat mereka semua menoleh.


"Wah... kebetulan ada pak kepala sekolah,jadi minta beliau untuk memilih di antara kita berdua siapa yang akan di setujui," usul Dimas.


"boleh juga, dan asal kalian tau jika ayah ku itu bisa saja memihak salah satu dari kita, karena dia itu anak mapala, dan perkataan mu itu menyebalkan karena dia pasti akan milih gunung," kata Anand memukul kepala temannya itu.


sedang Dimas pun hanya tertawa dan tak mengira jika kepala sekolah yang terlihat begitu biasa itu ternyata pecinta alam.

__ADS_1


"wah lagi makan siang ya, beli apa nih?" tanya Aryan yang baru datang dan menyapa keenam orang itu.


Lily tak berani melihat kearah ayah kecilnya itu, begitu pun dengan anand, "Hem.... sepertinya aku mencium aroma-aroma kalian berdua melakukan kesalahan ya?"


"aku cuma kali ini saja kok ayah kecil, habis aku ngidam ingin makan mie gacoan pedas dan somay juga," kata Lily jujur.


"level berapa?" tanya aryan.


"cuma level lima kok," jawab Lily.


"iya tapi yang iblis," kata Riya menambahkan.


"apa? terus kamu anand, hei pria muda tolong lihat kearah ku," panggil Aryan.


"maaf ayah, sama seperti Zoey," jawab pria itu.


"kalian berdua ini sama saj, jadi keputusan yang di ambil kalian mau kemana? liburan sekolah kali ini?" tanya Aryan.


"anak cewek mau ke gunung, sedang kami mau ke pantai," jawab Dimas.


"Hem... sepertinya ke pantai enak tuh, apalagi kalau ke Bali ya, pasti seru," kata Aryan memberi ide.


"ya... kami maunya ke Banyuwangi," kata Anand.


"terus kalau para gadis mau ke gunung, itu gunung mana dulu, tidak boleh ke? Arjuno dan kawi," kata Aryan yang tak mau mengambil resiko.


"Bromo saja, nanti ayah kecil yang menyewakan satu rumah untuk kami semua nginep atau homestay," usul Zoey.


"dasar aneh, baiklah kita akan ke Bromo kalau begitu dan akan mampir ke kebun jeruk di salah satu teman ku, bagaimana?" tanya Aryan.


"boleh juga, aku setuju setidaknya kita bisa tinggal tiga hari dua malam kan disana ayah?" tanya Lily.


"tentu boleh tapi kalian ingat nanti akan ada beberapa peraturan yang harus kalian patuhi dan nanti aku akan mencetaknya dan kalian harus membagikan, setuju," kata Aryan


"baiklah pak kepala sekolah," jawab mereka semua.


terlihat Lily dan Anand sangat senang, karena dari dulu keduanya ingin ke gunung itu tapi selalu di larang oleh kedua orang tuanya, tapi sekarang mereka pasti di izinkan.


"berarti kita harus membeli jaket lagi, karena di sana sangat dingin, jadi ingat untuk bawa perlengkapan lengkap oke," kata Lily mengingatkan.


"siap dong, dan jangan lupa uang saku juga," kata Dimas.


mereka pun melanjutkan untuk berdiskusi lagi, tapi Riya nampak sedih.


"tenanglah, aku akan bersama mu, jadi tenang oke, kamu harus ikut jika tidak aku akan marah," kata Lily pada temannya itu.


"baiklah," jawab Riya.


melihat hal itu Aryan pun berinisiatif membelikan beberapa jaket tebal dan keperluan untuk di gunung.

__ADS_1


tak hanya itu dia juga membelikan jilbab dan sepatu baru juga, dan memesan secara online tapi alamat penerima di berikan alamat rumah Riya.


karena dia ingin melihat gadis itu sana seperti teman-temannya,dan bergaya saat pariwisata.


setelah itu dia memilih mengawasi para pekerja yang hampir selesai untuk mengantikan semua kaca yang pecah.


belum satu tahun tapi kaca jelas itu sudah hancur berkali-kali. tapi mau bagaimana lagi, karena keponakannya itu terlalu sakti.


mereka berenam mulai bersiap untuk pulang, tapi lily belum di jemput oleh Tasya.


"ada apa Lily? belum di jemput, mau sama ayah kecil?" tawar Aryan pada keponakannya itu.


"boleh deh ayah, tapi jangan mampir-mampir lagi ya, aku sudah ingin pulang," kata gadis itu memohon.


"ya, padahal ayah harus ke Jombang untuk menemui seseorang sebentar, terus gimana dong?" tanya Aryan yang tak tega meninggalkan keponakannya itu.


sebuah motor berhenti di depan sekolah, ternyata itu adalah Adit yang datang menjemput Lily.


"dek ayo pulang! maaf mas telat ya!" panggil pria itu.


"itu sudah ada mas Adit, Lily pulang ya ayah, assalamualaikum..."kata gadis itu berlari menghampiri Adit.


terlihat Lily mencium tangan Adit dan kemudian pria itu memakaikan helm di kepala adiknya itu.


dan terlihat Lily begitu gembira menyambut Adit, dan keduanya pun pergi.


Lily terus menggenggam erat pinggang Adit selama perjalanan menuju rumah.


"kamu ingin beli bakso dulu gak dek?" tawar Adit.


"boleh mas, tapi yang langganan kita dulunya," jawab Lily.


"baiklah tuan putri," jawab Adit yang memutar motornya kearah bakso yang di maksud.


sesampainya di tempat yang di tuju, mereka pun masuk kedalam, Adit langsung memesan bakso tanpa minum, karena sekarang penjual bakso itu memiliki rekan di bagian minuman.


"maaf pak,tolong baksonya lima di bungkus saja, eh tidak jadi sepuluh ya, di bawa pulang," kata Adit.


"minumnya tidak sekalian mas?" tawar penjual yang ada di samping Adit.


"maaf tidak dulu, karena orang tua saya ketat dalam Mentawai minuman anak-anaknya meski sudah bangkotan begini," kata Adit tersenyum saja.


ly tau apa yang di maksud oleh Adit, bahkan Lily tak mau duduk di bangku dan memutuskan untuk duduk di atas jok motor.


tak lama baksonya sudah di bungkus dan mereka pun pulang, "mas... aku jadi gak kepingin lagi," kata gadis itu.


"tenang dek, baksonya tidak apa-apa yang melakukan pesugihan itu tukang es di sebelahnya, makanya itu es teh dan es tebu begitu laris di banding baksonya," jelas Adit.


mereka pun sampai di rumah dan langsung membagikan bakso yang di bawa, beruntung mereka membeli lebih karena Nino sedang datang ke rumah.

__ADS_1


dan Adit menyadari sesuatu yang seperti sedang mengawasi rumah orang tua angkatnya.


__ADS_2