Lily

Lily
maaf belum bisa


__ADS_3

"tenang nak, bagaimana pun itu susah takdir, sekarang kamu harus pulang tapi jangan mengatakan apapun," kata Aryan.


"bagaimana bisa, setelah aku tau jika orang tuaku harus meregang nyawa dengan cara sejahat itu, mereka itu keterlaluan," marah Dimas.


Arkan langsung menghipnotis dinas agar melupakan semuanya, karena itu demi kebaikan pemuda itu, jika tidak maka dia yang akan dalam masalah besar.


Dimas pun sudah tak ingat apa yang mereka bicarakan barusan, sedang Adit masih tak suka dengan sikap Anand.


"aku minta maaf, aku tak akan mengulanginya lagi, aku mohon jangan menatapku seperti penjahat begitu," kata pria muda itu.


"begitu mudah jamu minta maaf, kau kira aku bodoh, dan kamu sudah melakukan hal yang buruk kamu tau itu," kata Adit yang masih belum mau memaafkan.


"tapi aku harus bagaimana, aku akan pergi untuk meninggalkan gadis itu, jadi jangan seperti ini aku mohon," kata pria itu memohon.


"baiklah aku tunggu janjimu," kata Adit yang tak mau memperpanjang masalah.


"baiklah, sekarang aku pamit, sinar matahari sudah mulai menunjukkan sinarnya," kata Adit yang memang masih belum mau menunjukkan keberadaannya pada semua orang.


"tapi kamu tak ingin menemui Lily?" tanya Anand.


"itu urusanku, dan jangan berani mengatakan apapun, atau jika kamu tidak mengerti aku akan memotong lidahmu," ancam Adit yang kemudian pergi.


Anand pun kaget karena melihat Adit menghilang di depan matanya, "ayah jangan bilang aku mimpi, bagaimana dia bisa menghilang begitu cepat,"


"kamu mengigau, siapa yang kamu maksud, tidak ada siapapun," kata Arkan.


"ayah besar jangan bohong, tadi Adit di sini, bahkan leherku luka karena dia," kata Anand masih tak percaya dengan apa yang dia lihat.

__ADS_1


"kamu sepertinya sedang kelelahan ya," kata Aryan.


"kalian bohong, kalau begitu aku akan mengatakan semuanya pada Lily," kata Anand.


"silahkan jika kamu mau mati," kata Adit yang kembali muncul di depan jendela.


hal itu membuat anand kaget hingga terjatuh, sedang Arkan melotot melihat tingkah putranya itu.


Adit pun kembali pergi meninggalkan rumah keluarga Aryan, dan dia harus melakukan tugasnya.


Lily di rumah heran tak mendapatkan papinya sudah tak di rumah sejak sholat subuh.


"mami... kok tumben aku tak melihat papi, kemana sih masih pagi buta begini?" tanya gadis itu.


"mami juga gak tau deh, soalnya tadi papi hak bilang mau kemana? memangnya kenapa sih kak, kalau mau minta antar sama mami saja yuk, sekalian mami nanti sekalian belanja," jawab Tasya.


"baiklah, mami akan bawa sepeda motor saja, kebetulan opa meninggalkan sepeda motornya di sini, ya pria tua itu honeymoon di Bali tak kenal waktu, sudah sebulan dia di sana," kesal Tasya.


"mami iri sama opa dan Oma, kalau begitu liburan dong, lumayan aku mau punya adik lagi," ledek lily.


"kamu mau punya adek lagi?" tanya Tasya penasaran.


"TIDAK!!!"teriak Lily dan Linga yang keluar kamar.


bahkan Arkan yang baru pulang saja kaget melihat reaksi dua anaknya, "cukup aku punya adek satu kayak Linga, tidak mau lagi, no way..."


"aku juga tidak mau punya adek lagi, karena aku tak suka anak bayi," kata Linga dengan berteriak-teriak.

__ADS_1


"hei, kenapa begitu, Shafa saja mau punya adek loh," kata Arkan memanas-manasi kedua anaknya.


"aku tetap tidak mau, nanti jika punya adek,mami akan lebih sibuk lagi, terlebih sekarang saja mami jarang mengajak kami main karena sibuk di penggilingan, begitupun papi, dan mbak Lily sibuk dengan dunianya yang aneh," kata Linga mengeluarkan semua isi hatinya.


mendengar aduan dari putranya, Arkan dan Tasya diam, sepertinya mereka menang terlalu sibuk bolak-balik kemarin dan saat di rumah mereka sibuk dengan usaha mereka.


"maafkan papi ya, seharusnya papi memperhatikan kalian semua, terutama kamu dan kak Lily," kata Arkan sedih.


"mami juga minta maaf," kata Tasya yang merangkul putranya itu.


Lily pun ikut bergabung, jadilah mereka berpelukan Teletubbies, dan membuat Adit ikut bergabung.


Lily merasakan ada yang memeluknya dari belakang tubuhnya.


"jangan buka mata mu, aku mohon..." bisik Adit.


Lily pun hanya terus menutup matanya sambil menangis, dia takut jika dia membuka mata perasaan nyaman itu hilang.


setelah beberapa lama, mereka pun melepas pelukan itu dan saat Lily menoleh dia tak menemukan siapa pun di belakang tubuhnya


"mas Adit aku merindukan mu," lirihnya dengan sedih.


"aku juga dek, tapi maaf aku belum bisa berdiri secara sempurna di sampingmu, karena jika aku memaksakan hal itu, aku takut kamu akan terluka lagi karena keegoisan ku," kata Adit di luar rumah.


〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️


hari ini maaf gak bisa up banyak karena kesibukan menjelang agustusan.

__ADS_1


nantikan besok lagi ya terima kasih...


__ADS_2