
Adit tersenyum saja saat melihat sekelebat bayangan putih yang melata.
"papi, bisakah nanti malam aku bermain? ya untuk menyelesaikan padepokan itu?" tanya Adit yang sudah tak bisa menahannya lagi terlebih sudah mulai mengancam keselamatan dari keluarganya.
"jangan dulu, kamu tak kasihan dengan jomblo akut satu ini, dia terus pusing dendam kematian aneh, terakhir di tempat bidan desa di desa sebrang," kata Arkan yang melihat putranya itu.
"kenapa bingung, toh pelakunya juga sudah hangus terbakar bersama bukan, aku melihat beritanya tadi di internet," jawab Adit dengan enteng.
"sebenarnya aku kesini ingin tau kebenarannya, jadi aku ingin meminta tolong pada ayah mu, kamu juga bisa membantu jika mau?" tawar Nino.
"wani Piro.... ngongkon aku...." kata Adit sambil memainkan tangannya.
"anjrit anak sama bapaknya sama saja, Lily mau bantu om?" tanya Nino frustasi.
"maaf saya sibuk mau pariwisata ke gunung, om di larang ganggu," jawab Lily.
"hei kamu gak bilang, pokoknya mas harus ikut, kamu bisa bahaya, cepat ceritakan atau mas paksa," kata Adit yang berlari mengejar adiknya itu.
Lily pun tertangkap dan langsung di gelitiki oleh Adit, sedang Nino pun merasa kesal karena Arkan dan anak-anaknya tak ada yang mau bantu.
dari jauh ada sosok Linga yang baru pulang main, bocah itu biasanya mau kalau di bujuk dengan coklat.
"Linga mau bantuin om gak?" tawar Nino lagi.
"jangan menggangguku, aku sedang sedih, huss.... jauh jauh sana," usir bocah itu dengan wajah sedih.
"Linga kenapa dek?" tanya Adit yang melihat adiknya itu sedih.
tak terduga adiknya itu menangis dengan keras dan memeluk Adit, "aku memukul mbak jenggot putih yang ada di kuburan karena kaget, habis dia muncul saat aku lagi main dengan teman-teman ku," kata bocah itu mengadu.
"apa jenggot putih, jangan bilang ki Willis ya?" tanya Adit.
Linga mengangguk, dan ingin rasanya Adit tertawa karena dia salah penjaga makan yang sangat kejam dan sering membuat banyak orang ketakutan karena ingin berbuat mesum di makan.
"ha-ha-ha aku gak bisa bayangin muka ki Willis kena bogeman anak kelas dua SD," kata Lily yang tertawa.
__ADS_1
pasalnya penjaga itu memang memiliki wajah seram yang sering menunjukkan wujudnya.
"lagian kamu ini juga kenapa main di kuburan sih dek," kata Adit tak habis pikir.
"kan di sana banyak jambu monyet, kami tadi iseng mau ambil kepala jambu itu yang sudah jatuh di tanah kok, terus kami juga sudah permisi dan izin minta,"
"ya sudah sekarang kak Adit antar ke sana kita minta maaf yuk," kata Adit mengajak adiknya itu.
"takut kak..."
"mau di tungguin Ki Willis terus saat tidur?" tanya Lily menakuti Linga.
bocah itu mengeleng pelan, "baiklah sekarang ayo kita berangkat, Lily di rumah saja, nanti kalau kamu kesurupan mas yang repot," kata Adit.
"iya mas... iya..." jawab Lily kesal.
Adit pun mengendong adiknya itu keluar, "mau kemana? tadi ada yang nyariin loh Linga," kata Arkan melihat putranya itu.
"ini mau minta maaf papi, kami berangkat dulu, Salim dulu dek," kata Adit yang mencium tangan kedua pria itu begitupun Linga.
mereka pun pergi menuju ke pemakaman desa itu, sesampainya di sana ternyata benar Ki Willis sudah berdiri dari tempat duduknya.
"sini suruh bilang sendiri, dasar bocah ndableg, dia berani mengambil jambu monyet yang bisa membawanya dalam petaka," marah pria itu.
"maaf aki... Linga cuma ikut teman-teman saja, Linga juga tak makan kepala jambu itu, karena tadi itu di bawa Deni pulang semuanya," lapor bocah itu.
"ya sudah, aki tak suka jika anak cucu aki terluka, aki tidak marah karena tadi kamu cuma kaget, dan tole... kamu sebaiknya hati-hati, Linga duduk bareng aki sebentar," kata Ki Willis.
Linga melihat Adit yang mengangguk mengizinkan, bocah itu pun bergerak dan susuk di samping Ki Willis.
tiba-tiba Adit merasa tubuhnya panas, dan seketika dia berubah menjadi pria bertopeng tengkorak berjubah hitam.
"Wiryo Geni, kamu perwujudan dari kemarahan yang terpendam dari pria ini, kamu bisa menghancurkan apapun yan kamu sentuh, tapi ingat kamu harus berjalan di jalan yang benar," pesan Ki Willis.
"iya aki, perintah anda akan saya emban sebenar-benarnya," jawab pria itu.
__ADS_1
tiba-tiba tubuh Adit kembali normal tapi matanya tetap merah dan berubah keemasan.
Linga pun tak percaya dengan apa yang di lihatnya, "wah ternyata kekuatan kak Adit sangat besar,"
"tapi akan sangat besar cobaan yang di hadapinya," kata Ki Willis.
dia memberikan ikat kepala pada Linga, "apa ini aki? kok ada batunya warna hijau?"
"itu adalah pelindung mu, jika kamu bisa belajar ilmu Kanuragan dengan baik, kamu akan jadi jawara yang tak terkalahkan," kata Ki Willis.
"baik Aki, kalau begitu boleh kami pulang, dan maaf kami tadi sudah tak sopan," kata Linga.
"yang tidak sopan akan dapat ganjarannya, dan kamu tak perlu takut, karena mereka yang akan tau akibatnya karena telah berlaku tak baik di rumah orang," kata Ki Willis.
Linga yang tak mengerti memilih pulang bersama Adit, sedang di rumah Lily merasa khawatir.
"kamu kenapa nduk,kok kelihatan gelisah gitu?" tanya Tasya yang baru selesai mengawasi penggilingan dan sekarang dia sudah selesai mandi.
"habis mereka sedang ke makam untuk meluruskan sesuatu, ya karena Linga mainnya anti-mainstream,masak bocah-bocah tak ada yang takut main di kuburan," kata Lily.
tak lama mereka datang, dan tak lupa mereka berdua cuci kaki dan cuci tangan sebelum masuk rumah.
Adit menginjak sesuatu dan membuat hewan itu mengelak dan mengigit kakinya.
tapi yang mengejutkan hewan itu langsung mati seketika setelah mengigit Adit.
sedang pemuda itu hanya tersenyum saja, "kamu salah cari mangsa, karena ingin melukai adikku maka kamu yang mati,"
sedang di padepokan, pria yang sekarang menjadi pimpinannya pun sedang merasa khawatir.
pasalnya dia tak mengira jika ada orang yang tau masalah dengan pewaris yang sesungguhnya.
dan kini dia merasa terancam karena dia belum bisa menemukan mustika batu merah yang menjadi bukti bahwa dia adalah pewaris yang sesungguhnya.
"ada apa tuan?"
__ADS_1
"tidak ada, minta semua anak buah kita mencari tau siapa Geni ini, dan bereskan, aku rak ingin dia merusak tatanan padepokan uang sudah aku jalankan sejak lama," kata pria itu
"baik kaki akan segera berangkat, dan memusnahkan pria itu," jawab semua murid.