
Lily masih terngiang-ngiang ucapan Nanang, pasalnya dia tak menyukai perkataan itu.
tapi entahlah dia tak ingin menjelaskan juga saat ini, tak hanya itu, dia juga tak bisa melakukan apapun untuk menjelaskan perasaannya saat ini.
semua murid sedang melakukan doa di pimpin Adit, setelah berdo'a, pak Ari mengambil alih dan menanyakan tentang ujian yang di lakukan tadi.
"baiklah, jadi bagaimana? apa kalian bisa mengerjakan semuanya dengn baik?" tanya pria itu.
"iya pak, dan beruntung para pengawas itu tak jalan-jalan, jdi setidaknya jika kami tak tau, kami bisa meminta tolong pada teman yang sama paketnya," jelas seorang siswa.
"baiklah, itu memang peraturannya, para pengawas tak bisa berkeliling karena itu mereka hanya boleh duduk di depan, dan jika kalian meliht ada pengawas yang berani berkeliling langsung bilang pada kami, mengerti," kata pak Ari dengan tegas.
"baik pak!!" jawab semua murid.
"dan untuk tambahan saja, untuk liburan pertama kalian setelah ujian negara, nanti kita ke gunung Bromo, jadi kalian harus mempersiapkan semuanya, dan ingat pakai baju tebal dan kaos kaki serta sarung tangan, jika ada yang tak mengerti bisa bertanya pada saya nanti," tambah Adit.
"yey... kita ke Bromo!!!" teriak semua murid.
Adit dan pak Ari tersenyum melihat reaksi para siswa yang kesenangan, dan merekapun akhirnya membubarkan diri.
Adit juga pamit pulang karena tugasnya sudah selesai dia sempat bersalaman dan berbincang sebentar dengan pak Ari.
"mas ngobrolin apa sih, kok kayaknya sekarang dekat sekali dengan pak Ari?" tanya Lily.
"ah itu, mas cuma bahas mau berangkat naik bus atau bawa mobil sendiri, dan lagi kami akan jdi tim penanggung jawab nantinya." jelas Adit pada Lily yang super kepo.
"sudah nih, kalau mas Adit dan pak Ari, kami makin yakin untuk ikut ke gunung, karena aku pernah dengar jika pak Ari dulu pernah jadi anak pecinta alam dan sering mendaki," kata Riya menuju pria itu.
__ADS_1
"apa hebatnya, sudah pulang yuk," kata Lily yang nampak tak suka.
"yah aku lapar nih, ada bos besar tak mau mentraktir kita nih," kata Anand tanpa malu.
"tentu aku akan mentraktir mu, dan jangan khawatir," terang Adit yang langsung melajukan mobilnya pergi meninggalkan kawasan sekolah.
mereka alun mencari warung, tapi Adit terus melewati warung yang enak-enak, "aduh mas, itu tadi sudah empat warung yang kamu lewati, itu adalah warung yang sangat enak dan murah," protes anand.
"maaf aku tak bisa makan di tempat yang melakukan penglaris karena ketiga tempat itu ada sosok pocong yang sedang memberikan air liur di makanan yang di masak," jawab Adit.
mendengar hal itu anand, Lily dan Riya otomatis mual berjamaah, jadi Adit terpaksa menghentikan mobilnya untuk mereka bertiga muntah.
setelah puas, Adit tersenyum saja, "bagaimana mau balik lagi, gak papa kok belum jauh ini," tawar Adit.
"gak mau, kami nurut mas Adit saja," jawab anand yang kapok protes sembarangan pada pria itu.
"assalamualaikum pak, pesen sate dagingnya empat porsi makan sini, kalian minumnya apa?" tanya Adit.
"es teh," jawab ketiganya.
"es teh tiga dan teh lemon hangat satu, dan tolong yang satu ekstra bumbu ya," kata Adit yang memesan.
"baiklah nak," jawab pria setengah baya itu.
terlihat bapaknya habis menangis, "maaf pak saya lancang,memnag bapak kenapa? apa ada masalah?"
"itu nak, istri saya tiba-tiba tadi lumpuh mendadak, saya bawa ke dokter katanya semua normal, tapi kakinya mulai membiru," jawab pria itu.
__ADS_1
"boleh saya melihatnya?" tanya Adit.
"silahkan nak, seandainya pak Raka di sini saya bisa meminta tolong, tapi mereka bilang jika pak Raka sedang berada di luar kota, dan putranya juga sangat sibuk," kata pria itu sambil sesenggukan.
Adit kaget melihat satu kaki sudah hampir hitam, dia mengambil sapu tangannya.
"boleh saya mengobati ibu, insyaallah jika Allah mengizinkan pasti ibu sembuh," kata Adit.
"ya Allah benar nak, terdiam kasih jika memang kamu bisa," kata pria itu.
warung tetap ramai seperti biasa, tapi Adit fokus ada wanita yang sudah ketakutan melihat Adit.
"bapak,apapun yang saya lakukan tolong jangan menganggu, mengerti..."
"iya mas, asalkan istri saya sembuh," jawab pria itu.
Adit melihat jika itu adalah sebuah santet kiriman yang sangat jahat,
"siapa yang mengirim dirimu,maka aku akan mengembalikan padanya dua kali lipat, kamu ingin menantang ku bukan maka akan aku tunjukkan apa yang bisa aku lakukan," kata Adit yang langsung menyayat kaki itu dan seperti menarik sesuatu.
pria itu tak tega melihat istrinya kesakitan, tapi Adit tak mengizinkan dia membantu.
Adit berhasil menarik ular itu dan mengembalikan hewan itu ada pengirimnya.
dan Adit mengusap kaki ibu itu, luka pun sembuh, Adit membacakan ayat suci Al-Qur'an dan kemudian ibu itu muntah sejadi-jadinya, mengeluarkan racun bercampur darah hitam pekat dan berbau busuk.
sedang di warung, seorang wanita cantik berteriak kesakitan saat ini, semua orang pun panik, pasalnya telinga wanita itu tiba-tiba berdarah cukup deras.
__ADS_1