
tanpa terasa sudah seminggu Adit dan Lily berada di Malaysia untuk berbulan madu, mereka tak lupa mengabadikan momen dalam foto dan meng-upload foto-foto itu ke Instagram bersama.
ya Adit di paksa untuk punya Instagram dan sekarang isi media sosial itu adalah kebersamaan dirinya dan Lily.
tak berhenti disana, sekarang mereka sedang membeli beberapa baju untuk oleh-oleh keluarganya.
karena mereka tak ingin pulang dengan tangan kosong, terlebih saat mereka pulang bertepatan dengan pernikahan Husna yang di percepat sesuai keinginan dari orang tua Nino.
"mas apa kita bisa datang tepat waktu karena pernikahan dari aunty Husna sudah sebentar lagi, dan aku takut malah gak keburu," kata Lily.
"tenang sayang, setidaknya masih besok itulah kenapa kita ambil penerbangan terakhir, lagi pula acara itu akan sangat lama karena ada prosesi pedang pora," jawab Adit.
semua keluarga sudah berangkat ke hotel, karena pernikahan Husna akan di adakan di hotel mewah di daerah Mojokerto.
ya sebagai orang Mojokerto, Nino harus melakukannya di sana, dan berkaa persetujuan akhirnya semu setuju melakukan perayaan di kota itu
Lily dan Adit sudah sampai di kota Surabaya dengan selamat, dan langsung menuju ke hotel yang di gunakan untuk pesta.
beruntung mereka susah di pesankan kamar, jadi tak harus kesulitan lagi.
pukul sepuluh malam, keduanya baru sampai di hotel dan langsung di minta untuk istirahat karena prosesi besok sangat panjang.
Lily sedang beristirahat, di dalam mimpinya dia betemu dengan Adit, tapi Lily merasa aneh saat pria itu tak ingin di sentuh olehnya.
"tenang menantu, aku bukan suamimu?" kata pria itu tersenyum dengan lembut.
"apa? jadi mas ini siapa?" tanya Lily yang bingung.
"ada apa mas?" tanya seorang wanita yang begitu cantik dengan gaun putihnya.
"kamu kemarin-kemarin ingin melihat menantu mu kan, lihatlah sekarang dia di depan mu," kata pak Cakra.
"dia gadis yang cantik, halo sayang aku adalah wanita yang melahirkan suamimu, maaf kami baru menemui mu, bagaimana kabar mu dan Adit?"
"kami baik-baik saja, bahkan kami baru pulang dari bulan madu," kata Lily yang masih nampak bingung.
"kalau begitu ayo ikut kami, karena kami ingin berbincang banyak dengan mu,apa kamu tak keberatan?" tanya Cakra mengulurkan tangannya pada Lily.
mereka berdua pun merangkul Lily dan membawa ke suatu tempat, Lily pun tak ada perasaan yang curiga.
__ADS_1
tapi sebuah panggilan membuatnya menoleh dan mengurungkan niatnya.
"Lily!! kembali sayang!! jangan pergi meninggalkan aku!!" teriak pria itu.
Lily pun merasa bingung, jadi dia langsung melepaskan tangan keduanya dan berlari ke arah Adit.
bahkan saat jalanan itu berubah jadi api pun Lily tetap menerjangnya, dan dia pun bisa memeluk Adit lagi.
Lily pun terbangun dengan nafas yang tersengal-sengal dan tubuhnya sudah sangat dingin.
"kamu membuat ku ketakutan Lily,kenapa kamu ingin meninggalkan aku?" kata Adit yang begitu sedih.
"apa mas, aku tidak kemana-mana," kata Lily yang memang tak mengerti apapun.
Adit pun tak mau membahasnya lebih lanjut dan memilih untuk mengajak Lily istirahat lagi.
pasalnya tadi dia kaget saat tiba-tiba Lily nanjak seperti seorang yang sedang sakaratul maut, dan sempat henti nafas.
beruntung Adit langsung melakukan CPR dan juga langsung memberikan oksigen darurat.
Adit kini tak bisa tidur karena istrinya itu yang bisa saja pergi dalam tidurnya.
"jika kalian sayang padaku, kalian tak akan melakukan itu, kalian ingin merebutnya bukan," marah pria itu.
"karena setiap orang pasti mati, kenapa kamu begitu sulit mengikhlaskan gadis ini," kata Cakra pada putranya itu.
"jika kalian membawanya, aku akan membunuh diriku dengan membakar diriku hidup-hidup dan itu akan terjadi, lihat saja," kata Adit yang mengancam keduanya.
kedua sosok itu pun menghilang, Adit tak ingin Lily pergi kemana pun, biarlah dia yang akan menanggung semuanya asalkan dia tetap bisa bersama Lily.
esoknya semua sudah siap,mami Tasya merasa sedih karena Lily dan Adit belum ada kepastian pulang.
tapi tanpa mereka duga, seseorang memeluk wanita itu dari belakang, "hayo mami menunggu ku ya,"
"Alhamdulillah kami sudah pulang, aku kira kamu tak akan pulang, dan lihatlah wajah pengantin baru ini sangat ceria dan menawan," kata mami Tasya memuji putrinya itu.
"pasti dong, jika maminya saja secantik ini, bagaimana aku yang putrinya ini tak akan secantik mami," kata Lily
"baiklah sayang sekarang ayo kita keluar dan bergabung bersama yang kain, karena mungkin akad nikah akan segera di mulai," kata mami Tasya.
__ADS_1
mereka pun bergabung bersama saudara yang lain, dan kali ini masih penyerahan perwalian dari ustadz Faraz kepada ayah Raka.
ya Faraz merasa yang pantas untuk menikahkan adiknya itu adalah ayah Raka yang sudah membesarkan dan mendidik Husna hingga sampai seperti ini.
Nino mengunakan pakaian kebesaran dengan sangat lengkap, setelah akad nikah yang berjalan lancar.
mereka pun bersiap untuk acara pedang pora dan melanjutkan dengan prosesi resepsi.
yang duduk di atas pelaminan adalah Amma Wulan dan ayah Raka, dan dari pihak Nino ada mama dan kakaknya
semua teman dari Nino datang bahkan teman kampus meledek ketiga pria itu yang dulu sangat cuek pada Nino dan sering menganggu pria itu malah kini jadi ipar mereka.
dan yang membuat tak percaya adalah sosok dari Husna yang begitu religius.
Nino terus tersenyum lebar saat menyambut para tamu, pasalnya pernikahan dari pria itu sangat di tunggu.
resepsi itu berjalan sangat meriah dan cukup menguras tenaga, tapi Lily hanya di minta beristirahat bersama Riya dan umi Kalila saat semua orang sibuk
"bagaimana kondisimu Lily, apa akan kembali?" tanya Riya khawatir.
"tenang mamcan, aku baik-baik saja, dan tak perlu sekhawatir itu, karena aku akan sembuh," jawab Lily.
"jangan bohong Lily," kata Riya tak yakin
"aku berkata jujur,dokter bilang jika kondisiku baik, itulah kenapa aku bisa pulang, jika tidak tak mungkin aku bisa pulang dan berkumpul bersama kalian bukan," kata lily meyakinkan wanita itu.
"baiklah aku percaya, dan jangan membohongiku ya," kata Riya.
"iya mamcan, iya..." kata Lily tersenyum.
"lihatlah mamcan sebentar lagi kamu juga akan punya bayi mungil seperti ini," kata Lily menoleh pipi bayi Abrar.
"kamu juga cepet buat dong, biar baby Abrar ada temennya," kata umi Kalila.
"tolong doakan saja ya umi, karena aku juga ingin mengandung buah cinta kami," jawab Lily.
"amiin..." jawab keduanya dengan kompak.
Lily tersenyum cerah karena itu impiannya, dan dia pun tak sabar untuk bisa mengendong bayi miliknya sendiri.
__ADS_1