
sore itu mereka semua pulang ke rumah, terlihat Linga sudah berlari memeluk Adit yang ternyata ikut datang bersama Lily dan Arkan.
begitupun dengan Tasya yang merasa senang karena putranya itu bisa pulang setelah sekian lama.
"ada apa mami, kenapa menangis, aku disini," kata Adit yang tak menyangka jika wanita itu kini terisak di pelukannya.
"maklum, setelah kejadian terakhir itu, maki mu selaku sedih katanya, papi yang tak bisa jaga kalian, padahal mah kamu saja yang lepas kontrol waktu itu karena tau kondisi Lily," kata Arkan yang masih tak mau di salahkan.
"sudah diamlah papi, aku sedang menikmati waktuku bersama putra ku setelah sekian lama," kata Tasya.
"mami... aku juga mau main dan belajar bareng kak Adit," protes Linga.
"tidak boleh, kak Linga itu milikku," kata Lily yang langsung memeluk Linga saat Tasya melepaskan pelukannya.
"dasar mbak Lily serakah," marah bocah itu.
"sudah ... mas Adit milik semuanya,sekarang kita belajar bareng, karena mas Adit juga harus melanjutkan kuliah di sini sepertinya," kata pemuda itu.
"kenapa tidak di Singapura saja Adit, di sana kan lebih bagus," kata Arkan.
"papi..." protes ketiga orang yang tak ingin Adit pergi.
"iya maaf, papi cuma bercanda, sudah Adit urus mereka papi mau tidur ngantuk, seharian gak tidur sama sekali karena hal tadi," kata Arkan pamit.
mereka semua duduk di ruang tengah, tapi Adit malah berjalan ke area belakang.
__ADS_1
dia pun ingat setiap kali dia pulang kuliah pasti Kong akan duduk di pojokan sambil mengunyah sesuatu.
dia pun menyentuh jantungnya, kini kong mungkin sudah tenang di alam sana.
Adit duduk di ayunan belakang rumah sambil tiduran, dan Linga pun bergabung dengan Adit.
"kakak tidak pusing ya? padahal aku pernah coba rasanya sangat pusing," terang Linga.
"kamu harus tetap fokus dan tajam, ingat fokus pada satu titik dan kamu tak akan merasa pusing," kata Adit.
"itu sulit kak," jawab Linga.
"coba fokus di salah satu titik, fokus saja dan nikmati setiap gerak ayunan ini," kata Adit yang mulai terlena dan terlelap.
"sudah lama sekali ya kak," gumam Lily.
dia pun kembali ke dapur untuk menemui maminya, "mana mereka sayang?"
"mereka tidur di ayunan besar di belakang mami, jadi Lily gak tega mau bangunin," kata Lily.
"ya sudah, biarkan saja mungkin mereka kelelahan, kamu mandi dulu gih, mami juga mau lihat lalu dulu," kata Tasya.
"siap ibu ratu,"
Lily pun berlari ke kamarnya, begitu pulang dengan Tasya yang masuk kamar untuk melihat suaminya eh malah kena tuntut sesuatu.
__ADS_1
sore itu Arkan mengajak istrinya itu untuk bermain sebentar, mumpung anak-anak sedang sama-sama istirahat.
sedang Adit mengingat kembali bagaimana cara Wina mati tadi saat dia membantu Lily.
tadi sebenarnya Adit sudah melihat segalanya, dan karena terlalu seram jadi dia terpaksa menarik Lily agar bayangan masa lalu itu terputus.
Adit berdiri di ruangan itu, setelah darah gadis itu sudah tak menetes, mereka kemudian membuat darah itu belum dan akan di nikmati bersama nantinya.
sedang tubuh gadis itu di cuci bersih, setelah itu di kuliti seutuhnya, bahkan setiap gerakannya dilakukan dengan sangat sempurna.
bahkan setiap sayatan di lakukan dengan sempurna tanpa ingin ada kecacatan sekecil apapun.
terlebih kulit dari gadis itu akan di jadikan hiasan di dinding, dan tubuh gadis itu di jadikan patung yang sangat sempurna.
"Ki Ageng ini kulit yang sudah di samak," kata om Nirwan.
"baiklah aku akan segera membuat sesuatu yang sempurna, dan ingat kita harus mencari bayi yang baru lahir, ingat segera cari, karena kondisi kita sangat butuh, terlebih bulan purnama sebentar lagi," jawab Ki Ageng.
"baik Ki," jawab semua murid dari pria itu.
pun bisa melihat bagaimana kekejaman manusia biadab itu, dia menjadikan kulit itu menjadi sebuah wayang kulit.
di dalam ruangan itu, banyak berbagai jenis wayang yang terbuat dari bagian tubuh gadis lain.
dan juga patung yang cukup banyak di halaman padepokan itu, bahkan ada tempat khusus dalam menyimpannya
__ADS_1