
setelah tiga hari di rumah sakit,Adit akhirnya di izinkan pulang, dan lukanya sudah mulai mengering.
hari ini ada dua pengangguran yang sedang bosan, yaitu Lily dan Adit, keduanya sedang main karambol berdua.
Lily terbiasa saat itu melihat Adit yang tak mengenakan kaos atau atasan.
Lily sedang fokus membidik satu bidak di ujung papan permainan, "hachiu!!" bersih Adit yang sangat keras.
bahkan karena kaget Lily sampai tanpa sadar menyentil bidak utama.
"ah mas Adit," kata Lily
"maaf dek, hidung mas Adit gatel," kata Adit mengosok hidungnya.
mobil mami Tasya datang, Lily bangun dan membawa maminya itu untuk membawa barang-barang.
"wih belanja apa saja nih mami? kok banyak banget?" tanya Lily yang melihat begitu banyak kantong.
"hanya keperluan sebulan, dan Linga ayo bantu kakak mu," kata mami Tasya memanggil putra terkecilnya itu.
tapi bocah itu sudah lari kearah Adit dan langsung memeluk tubuh pria itu.
"ya Tuhan Linga!!!" teriak Lily.
"apa sih,dasar toa masjid, berisik tau," protes Linga yang hanya ingin memeluk Adit.
"udah tau mas Adit sakit, kamu malah main peluk saja, sini bantuin," kata Lily menarik kerah baju adiknya itu.
"ya elah mbak jahat banget, aku juga hanya ingin peluk doang ih, dasar nyebelin," kesal bocah itu.
"hei kalian berdua jika sudah berantemnya, cepat bantuin mami ih," panggil mami Tasya.
"siap mami.."
Adit juga tetap membantu meski tak banyak, dan siang itu Adit di bantu Linga untuk menyiramkan air infus agar lukanya cepat kering.
dan tanpa di duga lapisan luar itu perlahan lepas sendiri dan membuat bocah itu kaget.
"punggung mas Adit sembuh,"
"sepertinya, kalau begitu mau berenang gak, kebetulan mas denger ada kolam renang baru besok?" tawar Adit.
"boleh mas, yey... besok jalan-jalan," kata Linga dengan senang hati
Tasya kaget saat melihat Adit keluar dengan memakai kaos, "loh Adit kenapa pakai baju begitu, nanti lukamu tak sembuh-sembuh."
"sudah sembuh kok mami, lihat sendiri," kata Adit yang menunjukkan bekas luka itu.
"Alhamdulillah kalau begitu, jadi sekarang kita mau apa, soalnya mami juga bosen ini?" kata mami Tasya
__ADS_1
"emm... kita cari telur tebu yuk, lumayan buat nanti malam, kalau mau," kata Adit mengajak ketiganya.
"kamu ini jangan aneh-aneh, kemarin lalu kamu hampir mati karena telur tebu,sekarang mau cari itu lagi," marah mami Tasya.
"itu saya yang ceroboh mani, tapi sekarang kan gak lah, jadi sekarang ayo kita pergi,"ajaknya.
"baiklah, ayo kita pergi," jawab Lily.
mereka berempat pun berangkat, kebetulan rumah sedang sepi karena opa dan Oma tadi pamit ingin ke rumah besannya
mereka sampai di rumah Adit yang sudah hampir selesai di bangun, dan sepertinya rumah itu akan menjadi rumah yang cukup mewah.
"wah itu bukannya rumah mas Adit yang sedang di bangun?" tanya Lily.
"iya masih tujuh puluh persen," jawab Adit tersenyum.
"jadi di mana cari telur tebunya mas?" tanya Linga yang sangat penasaran dengan tumbuhan itu.
"kita berjalan saja ya, karena itu ada di sawah," jawab Adit.
"baiklah ayo kita berangkat," jawab yang lain.
tapi sayangnya saat mereka akan pergi, seorang gadis berlari dan langsung memeluk Adit.
Lily dan mami Tasya diam melihatnya, "ciye mas Adit... siapa tuh?" ledek Linga yang semakin membuat Lily panas.
"hei Nina apa yang kamu lakukan, lepaskan..." kata Adit yang mencoba mendorong gadis itu.
"diam, dia itu calon suamiku..." jawab gadis itu.
Lily pun sadar dan di trik mundur oleh Adit, "Nina apa yang membuat mu seperti ini, kamu sudah punya tunangan bukan, itu mas Imin, mas!!" panggil Adit.
pria itu nampak marah melihat gadis Yanga Edang menatapnya dengan tatapan sombong.
tapi tanpa di duga, Linga mematahkan sebuah cabang pohon Bidara.
tanpa di duga dengan iseng Ling langsung memukul wanita itu dengan keras dari belakang, "demit jelek, pergi!!" kata bocah itu.
Nina pun langsung tak sadarkan diri, sedang arwah yang merasukinya pun keluar.
"owalah mbak Kunti yang mau bermain dengan ku," kata Adit.
kuntilanak itu ingin lari tapi sayang Lily yang terlanjur kesal menarik gaun putih hantu itu dan menariknya jingga terjatuh dari udara.
setelah itu Lily menginjaknya bersama Linga, tapi yang membuat aneh dia orang itu seperti menginjak angin kosong.
"dasar hantu gatel, kamu berani-beraninya memeluk mas Adit, bikin kesel saja!!!" kata Lily meluapkan emosinya.
"asik ... kapan lagi bisa nginjek kuntilanak ganjen," kata Linga dengan senang.
__ADS_1
mas Imin sedikit kaget mendengar ucapan kedua orang itu, "anu permisi mas Adit, itu adik-adiknya gak papa?"
"tenang saja mas, mereka biasa gitu, jadi harap maklum ya," kata mami Tasya dengan sedikit tertawa.
"sudah mas, mereka sudah biasa, tapi sepertinya ada yang di pikirkan mbak nina hingga bisa di rasuki seperti ini,"
"iya mas, kemarin kami melakukan pemeriksaan di dokter sebelum menikah, dan dokter mengatakan jika kemungkinan kami akan sulit memiliki keturunan," jawab mas Imin.
"ya Allah mas, itu adalah rahasia Allah, aku yakin jika kalian berdoa dengan sungguh-sungguh,pasti bisa kok, kita manusia kan hanya bisa berdo'a, jadi jangan sampai membiarkan mbak Nina sedih lagi ya," kata Adit.
" iya mas saya mengerti, kalau begitu aku akan membawanya pulang," pamit mas Imin yang mengendong tubuh Nina pergi.
Lily terus meluapkan kekesalannya, hingga entah jadi apa tuh kuntilanak di bawah aniaya dua orang itu.
"ya Allah... kalian hentikan," tegur Adit.
"aku belum puas, siapa hantu sok kecentilan ini, bikin emosi saja," kata Lily.
dan yang tak terduga adalah Linga yang dengan bakal menendang kepala kuntilanak itu hingga mengelinding ke arah rumah seseorang.
"aduh masalah ini," gumam Adit yang menarik kedua adiknya itu.
dan dia memerintahkan ki Dwisa untuk membereskan hal itu, "sudah sekarang ayo kita jalan, sebelum makin sore,"
mami Tasya mengikuti ketiga anaknya itu, sedang Ki Dwisa tertawa melihat pria yang berpakaian serba hitam itu.
"sepertinya ada dukun cabul di sini, pasti akan sangat menyenangkan," ular merah itu sebelum pergi.
pria itu melihat rombongan itu pergi, "dia orangnya, orang yang membersihkan dan menghanguskan padepokan Hadikusumo, bocah ingusan," kata pria itu dengan penuh dendam.
pasalnya karena ulah bocah itu, dia kehilangan segalanya, dan beruntung dia tak ikut jadi korban saat itu.
"mana tebunya mas?" tanya Linga penasaran saat sampai di sawah.
"kenapa kamu cari tebu?"
"kan katanya mau cari telur tebu? jadi kita harus cari pohon tebu kan?" tanya Lily yang juga heran.
Adit dan mami Tasya tertawa mendengar itu, "aduh gak gitu, itu cuma nama, kita cari di sini, ini nih sayang,"
"loh mami, tapi itu kan bukan tebu," bingung Linga.
mami Tasya mengambil pohon yang mirip suket gajah itu dan menunjukkan apa yang di maksud dengan telur tebu.
melihat sayur itu, Linga langsung terlihat senang, "wah ini benar, yang kemarin aku makan di rumah mas Adit, wah..."
"eh... kamu pernah ke rumah lama mas Adit, kapan kok gak bilang?" tanya Lily penasaran melihat adiknya itu.
sedang Linga hanya tertawa saja. dan Lily juga menatap Adit yang langsung sok sibuk menjauh darinya.
__ADS_1
"mas Adit!!"