
keesokan harinya mereka semua susah siap, tapi Arkan dan Adit seperti sedang perang dingin.
"mami... apa papi sedang marah dengan mas Adit, kenapa dari tadi dia terlihat begitu kesal," bisik Lily.
"tak usah khawatir, papi mu punya alasan untuk kesal,jadi kamu tak harus bingung oke," jawab mami tasya singkat.
semua sudah siap, Adit membawa mobil miliknya bersama keluarga, dan untuk para tetangga di sewakan elf.
meski tak jauh mereka juga tak berniat meminta para tetangga jalan kaki.
"Adit... papi tak punya hak untuk menentukan siapa yang akan menikahi Lily, karena bagi ayah itu adalah keputusan Lily, jadi papi hanya bisa merestui saja," kata Arkan yang berada di dalam mobil.
"terima kasih ayah," jawab Adit yang sebenarnya sangat senang tapi dia harus tetap terlihat cool.
sedang Lily yang tak paham pun tak ikut campur, Papi Arkan pun setidaknya akan tenang menyerahkan putrinya.
karena Adit adalah orang yang sangat bertanggung jawab dan yang lebih bagus, karena pemuda itu terus mengorbankan dirinya untuk melindungi Lily.
jadi tak salah jika dia menyetujui karena putrinya itu juga sepertinya menyukai Adit.
rombongan keluarga itu akhirnya sampai di rumah Riya, semua susah menyambut kedatangan dari keluarga calon gadis itu.
terlihat beberapa guru juga datang di acara itu, Aryan terus menebar senyum bahagia.
ya setelah tiga belas tahun menduda, kini dia akhirnya bisa melepaskan status duda itu.
acara pun di mulai, yang awalnya lamaran tapi karena permintaan dari kakek Riya yang tak ingin melihat cucunya yang akan jadi omongan warga.
jadi memutuskan untuk menikahkan saja toh Aryan juga mau menuruti permintaan dari kakek calon istrinya itu.
Aryan duduk berhadapan dengan kakek Riya, meski pernikahan itu di lakukan mendadak.
tapi suasana tetap khusuk, karena keterbatasan waktu akhirnya mereka memutuskan untuk menikah secara agama dan akan di resmikan secara hukum nanti.
dengan satu tarikan nafas semuanya sudah sah, dan pernikahan ini benar-benar sederhana karena Riya tak ingin pernikahan yang berlebihan.
ustadz Faraz menjadi saksi dari pihak Aryan dan pak Subhan menjadi saksi dari pihak Riya.
Lily dan Riya berpelukan, "selamat sudah sah ya ibu kecil," kata Lily dengan senang
"apa, kenapa panggilannya jadi ibu kecil, panggil saja mbak atau aunty gitu?" kata Riya kaget
__ADS_1
"kok gitu gandengan ayah ya bunda dong dek," kata Aryan tersenyum.
"jangan ayah, panggil mama saja," usul Anand.
"aku setuju dengan usul Anand, itu lebih baik," jawab Riya yang tak ingin mengecewakan teman yang sekarang jadi anak sambungnya itu.
Riya tau benar jika Anand tak ingin ada satu pun wanita yang mengantikan sosok bundanya.
meski bagaimana pun dulu wanita itu memperlakukannya dan Aryan, tapi baginya bundanya cuma satu.
"baiklah mama," kata Lily senang
"selamat datang di keluarga kami mama, semoga kamu kuat menghadapi kami bertiga," kata Adit memberikan sebuah kado.
"ah terima kasih mas Adit," kata Riya.
"bukan mas, hanya Adit, seperti halnya Lily dan Anand, sekarang aku adalah keponakan mu, dan aku perkenalkan dua gadis cantik lain di keluarga kami," kata Adit yang datang bersama Husna dan Aluna.
"selamat atas pernikahannya mbak Toya dan mas Aryan," kata keduanya yang juga membawakan hadiah.
Lily langsung berpindah dan berdiri di samping Adit, mereka pun bergiliran memberikan selamat.
Riya baru tau jika keluarga suaminya itu keluarga besar dengan banyak anak.
sedang Marwah di gandeng oleh kakeknya, ya sekarang Adi tinggal di samping rumah ayahnya karena Anna sedang melakukan pengobatan.
Aryan, papi Arkan dan ustadz Faraz memeluk pria itu bergiliran. "sabar ya mas, aku yakin semua pasti akan berakhir indah,"
"terima kasih, aku ingin minta maaf kalian, terutama pada mu Faraz, setelah semuanya aku mengambil langkah ini, Semoga pilihan ku benar," kata Adi yang sekarang harus membesarkan putrinya sendiri.
"aku yakin pilihan mas sudah benar, dan terima kasih sudah menjaga mbak Anna selama ini, dan maaf jika dia sering menyusahkan kakak ipar," kata umi Kalila dengan sopan.
"iya dek, aku minta maaf atas segalanya, dan Alhamdulillah sekarang Marwah sudah mulai tenang dan tidak seperti dulu yang mudah marah," kata Adi.
"Alhamdulillah kalau begitu, semoga Marwah dan Shafa bisa tumbuh menjadi saudara yang baik,"
"amiin..."
acara pun berakhir pukul dua siang, setelah semua tamu pergi, karena rumah Aryan dan rumah kakek Riya bertetangga.
jadi setelah acara Aryan memutuskan pulang, tapi memang tadi mereka melakukan acara dari rumah orang tua Aryan jadi nampak jauh.
__ADS_1
Riya pun masuk ke rumah itu, terlihat Aryan sedang duduk di ruang tengah, "mas membutuhkan sesuatu?"
"tidak ada, aku hanya kurang tidur, maaf ya pernikahan kita belum secara resmi, tapi besok aku akan mengurus semuanya," kata Aryan.
"baik mas, aku percaya padamu, apa perlu aku memasakkan sesuatu?" tanya Riya.
"sepertinya enak makan sambel pencet muda sama ikan asin dek," usul Aryan.
"kebetulan aku juga sedang ingin makan itu," kata Riya dengan semangat.
"tunggu sebentar ya mas," tambah Riya yang langsung pulang ke rumahnya.
tak menunggu lama, Riya datang dengan satu cobek sambal serta lalapan.
keduanya pun makan bersama siang itu, sedang di rumah Uci gadis itu mengalami patah hati yang sangat dalam setelah tau jika Aryan benar-benar menikah dengan Riya.
dia mengunci dirinya di dalam kamar tanpa ingin ada yang menganggunya.
bahkan orang tuanya juga tak bisa membujuk gadis itu, Lily datang bersama Adit.
mereka ingin memberikan kue dan sovenir pernikahan, ya bagaimana pun Uci masih sahabatnya.
"assalamualaikum..."
"waalaikum salam, loh nak Lily ayo masuk, ada apa ini?" tanya bapak dari Uci yang terlihat begitu bahagia.
"saya datang hanya ingin memberikan buah tangan karena tadi Uci tak datang," kata Lily sopan.
"ah terima kasih kenapa repot-repot, tapi kebetulan nak Lily di sini, tolong ini di bagikan pada teman-teman mu ya, Uci akan menikah seminggu lagi dengan juragan Gatot," kata ayah Uci.
"oh begitu, baiklah pak saya akan menyampaikan semua undangan ini pada teman-teman," jawab Lily.
Adit pun mengajak gadis itu pulang karena pekerjaannya datang, "dek ayo pulang,mas harus kerja sekarang,"
"baik mas, kalau begitu kami pamit ya pak, dan titip salam untuk Uci," kata Aryan.
"iya nak Lily nanti bapak sampaikan," kata pria itu.
mobil itu melaju meninggalkan rumah keluarga yang terkenal mata duitan itu.
jika Lily bukan orang kata tak mungkin pria itu menyapa dengan ramah.
__ADS_1
jadi keluarga Uci itu mengukur semuanya dengan uang, bahkan sebuah kebahagiaan bisa di raih saat punya uang banyak.