
Lily masih bingung menghadapi semuanya, bunga dan anak-anak itu, "mas Adit...."
dari kejauhan Adit datang dengan buket mawar merah yang begitu banyak.
"ada apa dek?" tanya Adit yang berdiri di depan Lily.
"apa ini mas...."
"Lilyana Arkana Gilbert, aku ingin meminta mu untuk menjadi istriku, untuk hidup bersama ku selama nafas ku masih di badan, mau kah kamu menikah dengan ku?" kata Adit yang berlutut sambil mengulurkan sebuah cincin.
Lily tak percaya dengan hal itu, Adit terus berlutut menunggu jawaban kekasih hatinya itu.
Lily malah menangis melihat itu, "ini tak mimpi bukan?" gumam Lily tak percaya.
"jadi di terima atau di tolak?" tanya papi Arkan yang datang dengan semua orang.
"papi... mami..." kata Lily.
"aduh Lily kaki ku mulai kram," protes Adit.
"tolong jangan merusak suasana mas, ya aku terima lamarannya," kata Lily yang dilangsungkan di pakaikan cincin oleh Adit.
bahkan tanpa sadar mereka berdua langsung berpelukan erat, "aduh... belum sah!!" kata opa Alan yang memisahkan keduanya.
Lily memeluk opa Alan karena bahagia, sedang Adit memeluk papi Arkan yang juga tak kalah bahagia menyaksikan putrinya itu.
"tolong jaga Lily, aku titip dia ya nak?" kata papi Arkan
"iya papi," jawab Adit.
Lily menunjukkan jarinya ada Riya yang juga ikut datang, "selamat datang, akhirnya kamu bisa bersama pria yang kamu cintai,"
mereka langsung berpelukan dengan erat, "sama-sama sayangku," kata Lily
__ADS_1
mereka pun memutuskan untuk kesebuah restoran terdekat untuk merayakan hari bahagia ini.
kelima puluh bocah itu akhirnya pulang setelah mendapatkan uang saku dari Adit.
"silahkan pesan apapun, biarkan Adit yang membayarnya nanti," jawab papi Arkan.
"baiklah papi mertua, silahkan buat calon menantu dan putra mu ini bangkrut," kata Adit pasrah dan itu membuat semua orang tertawa.
setelah makan makan semua orang pun pamit pulang, tapi Adit dan Lily malah melihat dua arwah tadi.
"terima kasih telah membantu kami, tolong kirim doa untuk kami ya," kata pocong Sardi.
"pasti, kalian tolong tenang ya," kata Adit dan Lily tersenyum melambai ke arah keduanya.
Adit dan Lily memilih untuk berjalan-jalan berkeliling kota, mereka menikmati suasana sore itu.
Adit menghentikan motornya di pinggir jalan dan memilih duduk menikmati kereta api lewat di bawah flyover Peterongan.
tanpa di duga, saat mereka sedang asik menikmati es krim dan kacang rebus, seseorang melompat dari atas flyover.
"tentu mas, aku sudah lelah," jawab Lily yang memeluk Adit dengan erat.
"hei jangan sampai membuat adik kecilku bereaksi," kata Adit.
"hei jangan jadi pria mesum, aku tak suka itu," kata Lily cemberut.
akhirnya mereka memutuskan pulang, tapi mereka tak sadar jika seseorang memperhatikan mereka.
"siapa pria itu, kenapa begitu dekat dan sangat mesra dengan Lily, padahal aku ingin memiliki gadis itu, karena dia sangat cantik dan terlebih lagi dia itu cucu pemilik yayasan," gumamnya kesal.
dia pun penasaran dan mengikuti sepeda motor Adit, tapi yang di ikuti pun sadar.
"ada apa mas?" tanya Lily yang sadar Adit memelankan motornya.
__ADS_1
"sepertinya ada yang mengikuti kita, aku curiga itu adalah orang yang ingin berbuat buruk," kata Adit.
"kenapa khawatir begitu, aku kan sedang bersama pria paling sadis di dunia, memang ada orang biasa yang bisa membereskan lima puluh orang sendiri," kata Lily tertawa.
"hei nona, itu aku lagi kepepet, dan lagi aku bawa suling sakti milikku, sedang sekarang kan cuma bawa tongkat," kata Adit tertawa.
"tongkat, mana kok aku gak lihat?" tanya Lily penasaran.
"udah gak usah penasaran, nanti efeknya bahaya," kata Adit yang membuat Lily berpikiran tidak-tidak.
akhirnya mereka sampai di rumah Adit, dan rumah itu sudah berdiri sangat megah meski belum jadi.
Lily di buat kaget melihatnya, "apa ini rumah mas Adit?"
"menurut mu, dan nanti akan jadi rumah kita setelah pernikahan, tapi aku tak bisa menunggu lagi dek," bisik Adit.
"aku tau, bilang ke papi dong jika mas Adit menikahi ku," jawab Lily tersenyum.
"baiklah, lebih cepat lebih baik," kata Adit.
"baiklah terserah kamu sayang," kata Lily tertawa.
setelah melihat-lihat untuk memutuskan pulang, karena mami Tasya sudah terus menelpon keduanya untuk agar segera pulang.
keduanya memutuskan untuk pulang, saat sampai di rumah mereka sudah melihat papi arkan dan mami Tasya berdiri menunggu keduanya.
"hei kalian berdua mau di nikahkan nya, kenapa baru pulang tau ini jam berapa?" kata mami Tasya.
"mau dong mi, biar aku bisa bebas main dengan pria ini," kata Lily.
"hei kenapa kamu malah yang sangat buru-buru," kata papi arkan merasa aneh.
"aku setuju Pi, karena aku juga bisa bebas membawa Lily kemana-mana," kata Adit.
__ADS_1
"dasar bocah-bocah ini!!" kata mami Tasya kesal.