Lily

Lily
jangan sedih Lily.


__ADS_3

"papi jahat, kenapa mau mengusir mas Adit dari rumah, kenapa menyuruhnya ke kota, padahal mas Adit baru saja berkumpul dengan kita," protes gadis itu.


"Linga juga tak mau mas Adit pergi, Linga baru saja senang mas Adit pulang, tapi..." kata Linga dengan suara yang menahan tangisnya.


"lihatlah, bagaimana mereka menantang ku demi membela mas Adit agar tak pergi, padahal papi juga tak mau mas Adit pergi, itu hanya bercandaan kalian ini serius sekali," kata Arkan membujuk keduanya.


"tapi bercandaan papi gak lucu," kata Lily marah.


"sudah dek, lanjutkan makannya, mas memang mungkin akan pergi saat menikah nantinya, tapi pasti bukan sekarang, jadi kalian harus ikhlas melepaskan mas saat menikah nantinya, seperti nanti saat kamu juga akan menikah dan meninggalkan rumah ini," terang Adit.


"ayolah berhenti membicarakan itu, memang kamu sudah punya calon hingga membicarakan tentang pernikahan?" tanya opa Alan.


"pastinya... belum dong opa," jawab Adit yang tertawa.


Lily pun seakan tak rela jika Adit di miliki oleh gadis lain, "sayangnya aku ingin mas Adit selamanya di rumah ini, dan terus bersama kami,"


"baiklah apapun permintaan mu adik ku yang cantik," kata Adit yang juga mengiyakan.


malam pun semakin larut, mereka pun mulai beristirahat, sedang Arkan masih duduk di teras sambil merokok.


Adit pun juga bergabung, dia dan arkan merasakan angin yang berubah tiba-tiba, angin bertiup makin dingin.


"siapa yang ingin mengirimkan pelet ini, seperti ada yang iseng ya," kata Arkan tertawa.


"bukan iseng papi, lihatlah makhluk yang di minta untuk membantu dalam ilmu itu sudah datang, anjir... kenapa malah makhluk seburuk rupa begitu, gak ada yang mendingan begitu," kata Adit yang jijik.


maklum itu serupa nenek-nenek dengan kepala seklek dan wajah hancur dengan darah hitam mengucur, dan juga dari luka itu keluar nanah dan belatung yang besar-besar.


"hei pemuda nakal, kenapa kamu begitu tenang saat tau ada orang yang ingin mengirim pelet, jangan bilang jika itu untuk papi, Ais.... sudah umur begini masih ada yang menaksir ku hingga memilih jalur pintas," kata Arkan percaya diri.


"cih papi percaya diri sekali, kenapa papi yakin jika makhluk itu datang untuk memelet papi," kata Adit tertawa.


"lihat saja, coba bilang dari sudut mana papi jelek dan tak menarik di mata wanita, uang punya, wajah tampan, badan juga standar dan sehat, stamina jangan di tanya, top banget lah pokoknya, sekarang wanita mana yang bisa menolak, papi juga bisa di bandingkan dengan para pemuda seperti mu," kata Arkan membanggakan dirinya.

__ADS_1


"terus papi mau nambah istri begitu, terus mami mau di ke manain?" tanya Adit yang sengaja memancing papinya itu, pasalnya Tasya sudah berdiri di belang Arkan.


"kenapa? pria bisa menikah sampai menikah sampai empat kali, jadi selama papi bisa adil kenapa tak boleh, mami orang yang mengerti agama jadi tak masalah bukan jika papi ingin poligami?" kata Arkan dengan percaya diri.


"coba saja kalau berani, tak potong burung mu, terus ku masak, sudah tua tak ingat anak yang sudah besar," kesal Tasya yang sari tadi mendengar ucapan suaminya


"eh mami... papi bercanda mi, ini loh Adit yang mancing jadi papi cuma bercanda, bener kan le, cintaku kan cuma buat mami," kata Arkan yang sedikit panik.


dia memberikan kode pada Adit untuk membantu menjelaskan, "iya mami, ini cuma bercanda, karena tiba-tiba ada seseorang yang ingin mengirimkan pelet ke rumah ini, dan kami belum tau itu di kirim untuk siapa?" jawab Adit menjelaskan.


"kenapa tak di usir," tanya Lily yang memang sudah kehilangan kekuatannya.


"aduh mami sayang, kamu kan tau kalau makhluk modelan begitu itu sulit di usir, sebelum menjalankan misinya," kata Arkan.


"tapi mami gak mau ada yang mengusik keluarga ku," kata Tasya.


tiba-tiba dia ular penjaga keluarga pun turun, Ki Sesnag dan Ki Dwisa, "ular merah, bagaimana bisa?"


"karena ular itu adalah ular pelindung Keluarga Hadikusumo, dan sekarang keturunan Hadikusumo terakhir tinggal aku, karena adikku sudah jadi ratu di alam ghaib," jelas Adit.


"sebelum kamu memangsanya, pastikan kamu tau siapa yang mengirimnya dan tujuannya siapa?" suara batin dari Adit pada Ki Dwisa.


"ha-ha-ha memang siapa lagi yang di incar selain dirimu, kamu tentu tau siapa yang mengirimkannya, karena tadi pagi dia terus melihat mu tanpa bisa mengalihkan pandangannya," jelas Ki Dwisa yang langsung menelan makhluk itu.


kini ular itu mengeluarkan aura yang makin kuat, bahkan sisiknya mulai berubah sedikit keemasan.


"ternyata itu pelet yang di kirimkan untukku dan dia adalah salah satu guru pengawas yang sedang bertugas di sekolah kita," kata Adit.


"ular mu memiliki kekuatan yang sangat hebat, jadi kamu harus bisa mengendalikannya sebelum dia melukaimu," pesan Arkan.


"iya papi..." jawab Adit.


"sudah sekarang papi dan mami istirahat saja, Adit juga akan tidur karena tiga hari ini aku kurang tidur terus," tambahnya.

__ADS_1


"baiklah le, ayo istirahat," jawab Tasya.


mereka pun masuk kedalam rumah, tapi saat Adit memejamkan matanya.


dia akan bertemu sosok Kong yang sedang bertapa, "kapan kamu akan mengambil kekuatan mu dariku, aku sudah lelah menjadi pria yang bisa melihat dan berurusan dengan hal seperti ini," kata Adit.


dia pun tau jika kong berusaha untuk bisa kembali ke dunia ini, terlebih dia adalah pelindung Lily


tapi sebelum makhluk itu bisa, maka itu menjadi tanggung jawab Adit sampai waktu yang tak dia ketahui.


sedang di kamar Lily, gadis itu juga sedang bermimpi yang cukup aneh, pasalnya dia berada di sebuah gua yang entah dimana itu.


di saat dia ingin masuk kedalam gua,seorang pria menahannya dan menariknya pergi.


pria itu membawa obor di tangannya, tapi Lily tak bisa melihat wajahnya dan hanya bisa melihat punggungnya.


"siapa kamu, tong lepaskan aku," marah Lily yang berontak.


tapi cengkraman tangan pria itu sangat kuat, apa ini kenapa rasanya Adi seret oleh orang tak di kenal.


pasalnya dari rupa punggung pria itu bukan punggung Adit, karena punggung pria itu lebih lebar dan berbentuk.


"lepaskan aku bilang," kata ly yang kemudian di dorong dengan keras.


tiba-tiba saja Lily terbangun dari tidurnya, "ya Allah aku mimpi apa tadi..." gumamnya yang masih belum percaya.


terdengar suara adzan subuh berkumandang, Adit mengetuk pintu, "dek bangun sudah subuh, ayo jangan sampai telat sholatnya!" panggil pria itu.


"iya mas," jawab Lily dari dalam kamar.


saat dia akan turun, dia keserimpet selimutnya hingga jatuh dan tak sengaja kepalang membentur meja rias.


"aduh!"

__ADS_1


Lily pun mencoba bangun dan melihat kepalanya yang ternyata masih aman dan tak ada luka parah.


dia pun bergegas mandi meski masih sedikit pusing, bagaimana pun dia tak boleh meninggalkan panggilan dari Tuhan.


__ADS_2