Lily

Lily
salah cari musuh


__ADS_3

Adit membantu Lily, anand, Riya dan Linga yang sibuk mengemas Snack yang begitu banyak.


mereka juga memisahkan sesuai kelas karena kesukaan mereka pasti berbeda-beda.


lumayan lama karena begitu banyak, setidaknya ada seratus Snack bungkus, dan empat dus air mineral, serta empat dus mie instan.


bahkan Adit juga membeli sosis siap makan juga, sedang Arkan tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"kalian ini mau liburan atau mau ke pengungsian, masak iya disana tak ada orang jualan, belum lagi kalian seperti orang takut kelaparan saja," kata Arkan tak percaya.


"ya namanya juga berjaga-jaga papi, siapa tau rombongan yang aku pegang dan pak Ari kelaparan,kalau mereka pulang kurus beh bisa di omelin orang tuanya kami," kata Adit tersenyum.


"memang kamu pegang kelas apa, sampai heboh begini?" tanya Arkan penasaran.


"kelas dua belas B," jawab Adit.


Arkan langsung tertawa mendengarnya, pasalnya itu kelas Lily, dan teman-temannya.


"iya kalau sampai anak mami kelaparan, kamu sebagai guru pengawas yang akan mami marahi, Linga beneran gak mau ikut?" tanya Tasya yang terus membujuk bocah itu.


"tidak mami, Linga mau di rumah saja, karena mau ikut opa dan Oma jalan-jalan cari duren di wonosalam," terang bocah itu.


"wah curang..." kata Lily.


"tapi sepertinya tidak bisa deh Linga, soalnya Oma tidak bisa makan durian, bagaimana jika kita ke Jakarta karena opa harus ada pertemuan, kamu bisa jalan-jalan sama Oma?" tawar Opa Alan.


"boleh, berangkat kapan opa?" tanya Linga yang tak sabar lagi.


"besok sayang, kita pakai pesawat pagi, karena jika perjalanan darat itu akan sangat melelahkan," kata opa Alan mengacak-acak rambut cucunya itu.


"yey... adik ke Jakarta, kakak ke gunung,idih... kasihan deh," kata bocah itu senang sambil meledek kakak-kakaknya.


Lily pun cemberut melihat tingkah adiknya itu, "jangan sedih, Lily dapet uang saku saja ya dari opa, toh kamu juga liburan gitu kok,"


"iya deh, lima belas ribu ya," mohon gadis itu


"tidak, itu kebanyakan, lima ribu saja opa," marah Adit mendengar permintaan Lily.

__ADS_1


"mas ih.. memang kenapa sih, kan Lily pingin beli iPad juga," mohon gadis itu.


"sudah nanti saat kuliah, Oma belikan sekarang tidak dulu, sudah Linga ayo bersiap Oma bantu," panggil Oma utami


"siap Oma," jawab bocah itu semangat.


"sudah opa transfer, ingat jangan boros, Adit jaga adik mu itu dia itu ceroboh soalnya," pesan opa pada Adit.


"siap Opa, asal uang sakunya juga beres," jawab Adit.


opa Alan tertawa, dia juga mentransfer cukup banyak karena dia tau jika cucunya itu pasti akan membelikan dan menjaga murid-murid sekolah.


akhirnya sore itu semuanya selesai,adit juga sudah memeriksa mangkok dan kebutuhan lain.


"sekarang ayo aku antar pulang, Lily ikut apa di rumah saja?" tawar Adit pada adiknya itu.


"tunggu mas, ini sate daging buatan mami di suruh bawa," kata Lily yang berlari dari dapur.


beruntung saat Lily akan jatuh Adit menangkap tubuh gadis itu hingga tak jatuh ke lantai.


"hati-hati, ayo..." ajak Adit.


"maaf permisi, ada apa kalian berkerumun di rumah ayah ku," kata Adit yang tak kenal takut.


"wah... kamu tak tau malu ya, sudah punya anak sepantar Uci, kamu masih mau menggodanya, cih tak tau malu," hina pria tua itu.


"sudah ku katakan berkali-kali, jika aku tak tertarik pada gadis itu, dan berhenti bicara," marah Aryan.


Adit memberi kode, untuk Lily ikut Riya pergi, sedang anand dan dia membantu Aryan.


"yang aku tau, Uci sendiri yang tergila-gila pada ayah ku, dan tak ku kira dia berani memfitnah ayah ku di melindungi dirinya sendiri, dasar gadis sialan," kata anand.


"kamu siapa, Berani berkomentar seperti itu," marah pria itu.


"aku teman sekelasnya, dan dia yang terus mendekati ayah ku dengan berbagai macam makan dan kue, jadi bukan salahnya," kata Anand yang tak kenal takut.


tak terduga saat Adit fokus pada para preman itu, dua orang masuk kedalam rumah Riya.

__ADS_1


dan ternyata mereka berdua sudah mengamankan kakek dan nenek gadis itu.


"hai manis... kalian akan kami jadikan sandra, jadi jangan berontak agar kalian tak terluka," kata pria-pria itu.


"kenapa kalian bisa masuk, dimana nenek dan kakek," tanya Lily khawatir.


"mereka sudah aman di kamar, tentu kami ikat mereka," jawab keduanya.


Lily pun marah mendengarnya, pria itu ingin menangkap Lily dan Riya, tapi tak terduga.


Lily menendang salah satu pria hingga terpental keluar rumah.


dan yang satu lagi sudah mati karena Lily mematahkan leher pria yang tiga kali dari bobot tubuhnya itu.


"kenapa kamu melukai kakek dan nenek sahabatku!!" marah Lily.


Adit yang melihat itu bergegas menghajar para preman itu hingga terkapar.


Aryan tak mau kalah,dia juga menghajar mereka semua hingga habis babak belur.


Lily tak melepaskan pria itu yang tadi mengancamnya sedikitpun, bahkan bos tua itu juga sudah kena tonjok dan tendang oleh Anand.


lali menarik pria itu yang ingin kabur dan langsung mematahkan tangan dan kakinya dengan mudah.


"ini baru peringatan," kata Lily.


Adit mengangguk dan sosok do dalam tubuh Lily keluar, dan dia menahan tubuh Lily.


"cepat pergi, atau kamu mau aku menghancurkan aset mu juga agar kamu tak bisa melakukannya dengan calon istrimu itu hah!!" bentak Aryan.


pria tua itu pun lari bersama preman yang sudah babak belur, Ki Dwisa melahap orang yang mati itu untuk menghilangkan jejak.


Aryan pun langsung berlari melihat kakek dan nenek dari Riya, beruntung mereka tak terluka hanya di ikat.


"maafkan saya Mbah, ya Allah... karena saya kalian sampai seperti ini," kata Aryan sedih.


"tidak bak,ini bukan salah mu, ini hanya alah paham, dan beruntung kamu dan Riya selamat," kata Mbah Riya dengan suara putus-putus

__ADS_1


"ambilkan minum Riya," kata Aryan yang mencoba menenangkan keduanya.


sedang Adit menyadarkan Lily,dan beruntung adiknya itu baik-baik saja, anand juga tak mengira jika pria yang akan jadi suami temannya itu berani sejauh ini.


__ADS_2