
pria bertopeng itu kembali ke dalam klinik itu dan ternyata para pengawal dari padepokan sudah datang dan membereskan dua orang yang menurut mereka tak berguna itu.
bahkan ketiganya kini akan di bawa untuk di jadikan persembahan untuk Ki Ageng yang mereka sembah.
"wah sepertinya aku telat, kalian sudah membereskan mereka duluan ternyata," kata pria bertopeng itu.
"memang kamu siapa? hingga berani menganggu setiap acara kami?" tanya pria berjubah hitam.
"aku hanya orang lewat yang biasa di panggil Geni, aku hanya tak menyukai kalian yang bersikap kurang ajar," kata pria bertopeng itu.
"ha-ha-ha aku ingin lihat sampai seperti apa kamu berani mengusik kami," tanya para pria berjubah hitam itu.
tanpa mereka duga, tiga dari keempat pria itu mati dengan kepala terpenggal dan yang mengejutkan.
pria yang mengaku Geni itu bisa membunuh dengan cepat dan membakar ketiga tubuh itu.
"aku adalah maut untuk mu dan padepokan ilmu hitam mu, dan bilang pada pimpinan kalian dapat salam dari Aryo Cokro Hadikusumo dan Nyai Ayu Hapsari, bilang pada pria yang mengaku keturunan terakhir itu, jika mautnya akan segera datang, sesuai dengan apa yang dia lakukan," kata pria bertopeng itu sebelum pergi.
tiba-tiba api membesar dan berkobar dengan sangat hebat, dan pria itu tersenyum mengawasi dari atas pohon.
"hi-hi-hi... ternyata ada manusia berjiwa iblis ada di tempatku, mau menjadi anak buah ku?" tanya sosok kuntilanak lusuh itu.
"aku jadi anak buah mu, sayangnya kamu tak pantas karena kamu hanya hantu yang paling rendah," kata Geni meledek kuntilanak itu.
"kamu mau coba, aku membunuhmu dengan cakar ku," kata kuntilanak itu yang kalah cepat dengan pemuda itu.
"sayangnya, cakar mu tak lebih cepat dari ku, jadi selamat terbang tanpa kepala, ha-ha-ha..." pria itu menendang kepala kuntilanak itu hingga terbang jauh.
setelah itu dia pun pergi, karena dia juga butuh istirahat karena dia kelaparan setelah pertarungan tadi.
Lily terbangun pukul setengah empat pagi, dan tak menemukan Adit di dalam kamar.
pria itu benar-benar menghilang, dengan marah dia keluar dari dalam kamar.
dia tak mengira Adit akan meninggalkan dia seperti ini, "mas Adit jahat," marah Lily.
"memang mas jahat kenapa, orang lapar gak boleh makan ya?" kata Adit yang selesai membuat sambel mentah dan mengireng ayam.
Lily mengucek matanya untuk memastikan tidak mimpi sedikit pun, "mau makan, duduklah," panggil Adit.
tanpa di duga, Lily tiba-tiba memeluk Adit dengan erat, "dek mas lapar loh,bukan mau pelukan gini," kata Adit.
"mas jahat,aku kira nas pergi, kenapa malah makan jam segini?" kesal Lily mengusap air matanya.
"aduh adek mas yang cantik, bukan maksud mas jahat, habis mau bangunin kamu tak enak,jadi mas masak sendiri," kata Adit.
"baiklah boleh aku ikut makan?" tanya Lily.
__ADS_1
"boleh, sini sama mas saja," ajak Adit.
jadilah mereka berdua makan sepiring berdua, setelah makan mereka menunggu waktu sholat subuh dengan menonton film.
setelah sholat, keduanya pun berganti baju dan langsung memilih lari pagi.
Arkan merasa senang kembali melihat senyum putrinya yang sempat hilang beberapa waktu yang lalu.
Adit pun menyapa semua warga, sedang Lily memilih berhenti untuk membeli beberapa belanjaan titipan dari sang mami.
mereka pun berjalan berdua dengan santai saat menuju rumah, "Lily, bolehkah mas tanya? kenapa kamu tak menutup aurat mu seperti umi Kalila atau mami Tasya?"
"ah... pertanyaan yang selalu ku benci,memang kenapa sih aku harus menutup aurat ku," tanya Lily dengan nada kesal.
"tidak apa-apa jika kamu tak siap, tapi sebagai seorang muslim kamu punya kewajiban, tapi jika belum bisa juga tak masalah," jawab Adit yang hanya tersenyum begitu saja.
mereka sampai di rumah, Lily langsung pergi bersiap untuk ke sekolah karena hari ini ada rapat penting untuk karya wisata bagi jelas tiga.
"Adit bisa antar Lily ke sekolah nak?" tanya Tasya yang tau jika putrinya itu bisa kemana-mana nanti saat bawa kendaraan sendiri.
"maaf mami,Adit ada janji dengan ayah besar, karena aku harus melakukan sedikit belajar ilmu, dia sudah besar bisa berangkat bawa motor sendiri," kata Adit.
"bukan masalah itu mas, tapi mbak Lily suka jalan-jalan saat bawa motor sendiri,bahkan dia pernah pulang sampai hampir Magrib, dan membuat papi heboh dan mami khawatir," terang Linga.
"dasar bocah tukang adu," kata Lily kesal
Adit hanya melihat ly dengan tatapan kecewa, ya susah mami aku berangkat dulu, Linga di rumah apa mau ikut, sekalian bisa main bareng Shafa nanti."
"baiklah, kalau begitu Adit pamit dulu ya mami," kata pria itu.
Lily merasa jika Adit menjauhinya, "sudah ayo mami antar, nanti biar pulangnya di jemput papi," kata Tasya.
mereka pun berangkat,dan Linga juga tak mau ketinggalan sedikit pun.
sedang di rumah Aryan, pagi ini sedang sarapan cukup enak, u
yaitu dadar jagung dan juga sayur bening.
"tumben hari ini masak sayur bening, bukannya ayah tak bisa memasaknya?" tanya anand heran.
"gak masak memang, ini tadi di kasih calon ibu mu, sudah makan saja, oh ya itu tadi ayah coba buat semur gagal,jadi ayah goreng, maaf sedikit hitam," kata Aryan.
"gak masalah kok, yang penting rasanya tetap yang terbaik," jawab Anand.
dia belum tau siapa yang di maksud oleh Aryan tentang siapa calon ibunya itu.
tapi dari rasa masakannya, pasti dia gadis yang sangat pintar dalam urusan dapur dan sangat bersih.
__ADS_1
Anand akan pergi saat Riya juga sudah siap di depan rumah, "mau bareng riya?" tawar Anand.
"tak perlu, aku akan naik sepeda milikku saja," jawab gadis itu.
"iya maksud ku bareng goes, aku juga bawa sepeda biasa, karena lagi hemat," kata anand.
"hei bocah, ini minuman mu kenapa di tinggal," panggil Aryan.
"iya maaf ayah, aku berangkat dulu," pamit anand.
"iya hati-hati, itu temennya di jaga," kata Aryan.
"siap ayah," jawab anand yang berangkat dengan Riya.
Aryan juga nanti siang akan ke sekolah untuk memastikan jika pekerjaan di sekolah beres.
butuh empat puluh lima menit untuk sampai si sekolah, ternyata lily sudah datang di antar oleh maminya.
"wah ... kalian bawa sepeda, kenapa tak bilang, kalau begitu aku bisa ikut naik sepeda tadi," kata Lily.
"ya gak tau ini saja mendadak," jawab Riya.
"sudah ayo masuk, pasti pak Heru sudah datang, atau pria itu bisa mengomel lagi," kata anand.
ternyata Erland dan Dimas sudah datang dan berada di ruangan guru itu.
mereka langsung rapat untuk memilih beberapa destinasi untuk liburan setelah ujian nasional.
Lily ingin berkemah begitupun dengan Riya, sedang para pria ingin ke pantai untuk menikmati suasana santai.
akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan vote dengan para siswa dan siswi.
Adit sampai di pondok pesantren milik ustadz Arifin, tapi dia tak di pondoknya melainkan di sebuah rumah yang sangat mewah yang berada di sekitar area pondok.
"aduh.... ini rumah ustadz Faraz kenapa begitu mewah di banding pondoknya?" goda pria itu.
"datang bukannya ucap salam," tegur ustadz Faraz.
"assalamualaikum Abi... maaf aku baru datang," kata Adit berpelukan dengan ustadz Faraz
"waalaikum salam anakku, bagaimana kabar mu... ayo masuk," ajaknya.
tak lama Shafa berlari keluar dan memeluk Adit, "aduh Shafa sudah besar ya, dan makin cantik dengan cadarnya,mau jadi istri om gak?"
"gak mau,Shafa tak menyukai om Adit, karena om Adit milik kakak Lily," jawab gadis itu.
"tapi om suka gadis seperti Shafa, jika setiap perjodohan kita bisa memilih,om ingin punya istri yang menutup auratnya dari dia kecil," kata Adit tanpa sadar.
__ADS_1
"amiin... semoga ya le, sudah ayo masuk kita mulai saja," kata ustadz Faraz yang mengajaknya ke kamar khusus.
Shafa terus bersama umi Kalila karena umi-nya itu ada jam ngajar, dan sekarang ustadz Faraz cuma pemilik yayasan tapi bukan sebagai ketua pengasuh,jadi dia tak sesibuk dulu.