Lily

Lily
pilihan hati Aryan


__ADS_3

semua orang terdiam mendengar ucapan dari Aryan, mereka tak mengira jika pria itu suka daun muda.


"jika kalian tak setuju itu tak jadi masalah," saut anand.


"kamu yakin tak masalah saat ayah mu menikah dengan gadis seusia mu? apa kamu bisa bekerja sama nantinya, karena kalian akan tinggal di satu atap," kata Arkan memastikan.


"tentu saja tak masalah, di keluarga kita menikah dengan gadis yang jauh lebih muda juga bukan hal baru bukan," saut anand.


"kalau begitu ayah dan Amma akan setuju pilihan mu,asal kamu dan anand bisa bahagia nantinya,karena kamu memilikinya di sisi mu nak," kata ayah Raka.


"aku yakin jika dia itu salah satu murid di sekolah kita, apa itu benar ayah kecil?" tanya Lily.


"jangan kepo, yang jelas itu bukan teman mu, karena aku menyukai gadis lain," kata Aryan yang mencubit pipi tembem keponakannya itu.


"tak masalah juga, siapapun itu nantinya yang akan jadi ibu sambung dari putramu, tapi aku ingatkan tolong selidiki jelas siapa keluarganya dan bagaimana perangainya," kata ustadz Faraz.


"iya bang, iya..." kata Aryan yang pasrah.


mereka kini makin sering menggoda Aryan, sedang Lily, Anand saling lihat karena jika bukan Uci lalu siapa.


padahal gadis yang selalu memberikan perhatian khusus cuma gadis itu.


Aryan pun tersenyum melihat wajah bingung dari Lily dan Anand, pasalnya mereka tak akan mengira jika gadis yang di sukai ayah mereka begitu dekat.


akhirnya pesta makan malam itu selesai, dan semua sudah pulang ke rumah masing-masing.


Aryan dan anand sampai di rumah mereka yang memang tak jauh, dan putranya itu langsung berpamitan ingin tidur duluan.


"ayah aku tidur dulu ya, karena besok aku harus berangkat pagi untuk membahas beberapa acara dengan guru pembimbing dan panitia," pamit Anand.


"baiklah nak,ayah mau merokok dulu," kata aryan yang duduk di teras .


dia pun menghela nafas karena putranya itu tak segera menutup gerbang, ternyata saat akan di tutup.


gerbang itu sedikit macet tapi Aryan memutuskan untuk memperbaiki saat ini juga karena besok busa di pastikan jika dia tak akan bisa.


saat sedang berjongkok, dia melihat dari kejauhan ada Riya dan tiga temannya baru pulang dari masjid.


tapi tak terduga, ada dua sepeda motor yang memepet keempat gadis itu.


Aryan yang awalnya kesulitan mengembalikan roda pagar pada tempatnya, melihat itu tiba-tiba jadi sangat mudah.


Aryan pun langsung membuang rokoknya dan membawa linggis untuk menghampiri keempat pria yang berani menggoda gadis-gadis baik itu.


"ayolah cewek, kalian sombong amat sih, masak kita ajak kenalan saja tak mau," kata seorang pria.


"tolong pergi, kami tak mengenal mu," kata Riya yang ketakutan.


"alah gak usah sok suci," kata pria itu yang mencoba menyentuh wajah Riya.


tapi dia kaget saat sebuah tangan besar menahan tangannya, "jangan berani menyentuhnya, atau aku akan mematahkan tangan mu," kata Aryan dengan wajah marah.


"alah, nih bapak-bapak dari mana sih," ledek pria muda lainnya.

__ADS_1


ternyata mereka berempat sudah mabuk, Aryan tanpa basa-basi lagi langsung membuang linggis yang di bawa, dan memberikan tamparan keras pada pria yang berani menggoda para gadis itu.


pria muda itu pun tersungkur di tanah, ketiga temannya pun bingung, mereka pun ingin menyerang Aryan.


tapi pria itu bisa menumbangkan Keduanya dengan dua kali tendangan.


dan kini pria yang berani akan menyentuh Riya, tiba-tiba terdengar suara kretek-kretek dengan sangat keras.


"sudah ku katakan, aku akan membuatmu sakit karena berani mencoba untuk menyentuh gadis ini," kata Aryan dengan nada ancaman.


anand kebetulan naik ke atap untuk mengambil bajunya, dia tak mengira akan melihat ayahnya rela membela keempat gadis muda itu.


"dasar pria bodoh, kalian bisa mati jika bapak Aryan itu sudah mati,bahkan aku anaknya saja pernah hampir di bunuh oleh tangannya," gumam Anand.


benar saja, Aryan kemudian mengambil linggis yang di bawanya dan mengancam keempatnya.


"kalian berani. datang ke kampung ini lagi dan menganggu para gadis, kalian berempat mati dengan linggis ini menancap di dada kalian semua, mengerti!!" bentak Aryan.


mereka pun langsung kocar-kacir mendengar ucapan Aryan. sedang Riya tak mengira akan melihat sosok Aryan yang seperti ini.


"kalian tak apa-apa?" tanya Aryan menoleh ke arah keempat gadis itu.


"tidak apa-apa om," jawab keempatnya.


"baiklah lekas pulang, ini sudah sangat malam,lain kali jangan mau jika di ajak rapat sampai hampir tengah malam tanpa ada yang mengantar pulang," kata Aryan dingin.


"iya om, kami permisi, assalamualaikum..."


"waalaikum salam..." jawab Aryan yang mengawasi sampai keempatnya sampai rumah.


jantungnya serasa mau copot dan meledak tadi, karena melihat Aryan dengan sosok yang berbeda.


"hayo kamu ngapain nduk?" kata nenek dari Riya yang mengejutkan cucunya itu.


"ih embah bikin kaget, tidak ada sudah ya Riya mau tidur karena besok harus ke sekolah pagi-pagi," kata Riya yang langsung pamit ke kamarnya.


sedang Aryan masuk kedalam rumah dan memilih beristirahat, entahlah dia sangat marah saat melihat pria tadi ingin menyentuh Riya.


sedang di rumah Arkan, Adit sudah selesai membantu mencuci piring, dan kini dia sedang mencari sesuatu di kamarnya.


saat sebuah tangan memeluknya dari belakang, "Lily hentikan, tak enak di lihat papi dan mami, ini sudah malam, sebaiknya kamu tidur gih,"


"tidak mau, pasti mas akan pergi lagi saat aku tidur nanti," jawab Lily.


"baiklah, kamu tidur di sini, dan akan ku temani," kata Adit.


sebenarnya dia harus melakukan pengawasan pada beberapa tempat, tapi jika Lily tak tidur dan mengikutinya itu akan jadi masalah besar.


Lily terus menggenggam tangan Adit, perlahan gadis itu tak bis menahan kantuknya juga.


Adit pun bertahan sedikit lagi, dan berusaha agar tetap tenang, dan setelah memastikan gadis itu sudah terlelap dengan pulas.


Adit mengambil boneka yang sudah dia siapkan, dan menukar dirinya dengan boneka itu.

__ADS_1


dia pun menemui papi dan maminya untuk pamit, "kamu harus pergi?" tanya Tasya.


"kamu sudah tau jika dia harus membereskan tentang masa lalunya, dan jika kamu butuh bantuan, kamu bisa bilang pada papi karena kamu tak sendiri, mengerti nak?" kata Arkan yang tak ingin putranya itu merasa terabaikan.


"pasti papi, dan aku mungkin akan merepotkan mu, jadi aku pergi dulu, permisi," kata Adit memeluk keduanya sebelum pergi.


dia pun pergi di kegelapan malam, dan malam itu sesosok pria bertopeng tengkorak muncul di atas padepokan Hadikusumo.


dia mengawasi setiap gerak-gerik dari para pemuja siluman ular itu, bahkan di padepokan itu begitu banyak ular yang di pelihara.


dia melihat ada tiga orang yang keluar dan berpakaian bidan dan asistennya.


"sepertinya malam ini mereka mencari mangsa untuk tumbal," gumamnya yang kemudian mengikuti mobil itu.


mobil yang di kemudian oleh ketiganya sudah sampai di sebuah klinik tang cukup mewah, tapi Adit bisa melihat dan merasakan jika klinik itu sangat aneh.


"aih... masih saja ada orang yang mencari kesempatan," kata pria itu


pasalnya saat terdengar suara wanita yang sedang berjuang melahirkan, seorang wanita tua riwa-riwi di sekitar klinik itu.


seorang asisten bidan pun segera mengusir wanita itu dengan menyiramkan air cucian beras.


"jangan mengambil energi orang yang sedang berjuang untuk melahirkan," marah wanita itu.


nenek-nenek itu pun pergi dengan wajah kesal, tapi itu tak membuat asisten bidan itu takut.


"wah ternyata seru juga, seorang penyembah dan pelaku pesugihan,marah saat ada orang yang ingin melakukan penyerapan aura juga, dasar manusia-manusia gila dan haus kekuasan dan harta," gumam pria itu.


tak lama terdengar suara tangisan bayi yang cukup keras, dan tanpa di duga, saat ari-ari di bawa ke belakang untuk di bersihkan.


disaat itulah dia bergerak mencurinya, dia bersembunyi setelah mengamankan ari-ari bayi itu.


"sebentar ya, biar saya bersihkan dulu bayinya," kata bidan itu yang membawa bayi itu untuk di tukar dengan mayat bayi yang sudah dia persiapkan.


tapi saat sampai di belakang rumah, pria itu membuat wanita itu pingsan dan merebut bayi itu dari tangan bidan itu.


"selama aku ada, jangan berharap kalian bisa melakukan hal menjijikkan seperti ini," gumamnya.


dia pun keluar dari belakang, sambil membawa bayi yang masih belumuran darah itu.


"kalian cepat pergi dari sini, bawa bayi kalian dan juga ari-ari ini,cepat jika tak ingin bayi kalian ini jadi tumbal," kata pria itu.


"tapi Bu bidan," kata kedua orang yang kaget itu.


tapi sebuah pedang panjang menusuk dan melukai pria bertopeng itu,"aku tak akan membiarkan mu menghalangi kami mendapatkan timbal untuk Ki Ageng," kata asisten bidan satu lagi.


"pergi!!" teriaknya.


asisten bidan itu ingin menahan kedua orang itu, tapi yang tak terduga.


pria bertopeng itu bisa mencabut pedang yang menancap di perutnya dan langsung menebas kepala asisten bidan itu yang ingin melukai kedua orang tua itu.


pria itu mengusap lukanya hingga sembuh dengan sendirinya, dia juga memastikan mereka aman dan saat sampai rumah.

__ADS_1


pria itu mengeluarkan uang cukup banyak, "untuk berobat, semoga bermanfaat dan jangan pernah kembali ke tempat itu lagi," peringatan pria itu.


kedua orang itu pun merasa bersyukur karena berkat pria itu,putra mereka selamat.


__ADS_2