Lily

Lily
acara selamatan


__ADS_3

kondisi Lily sangat baik, bahkan wanita itu sangat sehat, dan tak terasa sudah menginjak tujuh bulan.


semua orang sibuk dengan persiapan untuk acara tujuh bulanan.


Lily sudah siap mengikuti rangkaian prosesi yang akan dia ikuti bersama dengan Adit.


mereka berdua mengikuti adat istiadat Jawa, terlihat semua saudara datang.


bahkan ada beberapa teman dari Linga juga datang karena di undang.


setelah adat siraman, dan memilih pakaian yang pantas dan sesuai, kini di lanjutkan dengan dodol dawet.


saat ini Adit menemsni Lily yang berjualan dawet, dan semua orang pun merasa senang melihat kebahagiaan ini.


pukul tiga sore semua acara selesai, dan nanti malam akan di adakan acara wanaqiban bersama seluruh santri.


"bagaimana semuanya ayah, apa pengajian untuk nanti malam sudah siap?"


"tebang le, Semuanya sudah siap, ayah harap nanti kamu bisa datang, setidaknya perwakilan saja," kata ustadz Faraz.


"baik ayah, nanti biar aku yang pergi ke yayasan untuk mengikuti semua rangkaian acara," jawab Adit.


Linga sekarang merasa sepi, pasalnya dia sudah tak bisa bermain dengan semua makhluk ghaib miliknya karena bisa berpengaruh pada Lily yang sedang hamil,jadi dia di minta bersabar sebentar lagi.


mami Tasya melihat putranya itu, dia pun ikut duduk di sebelah Linga, "ada apa sayang, kenapa kamu diam seperti ini Hem..."


"tidak ada kok mi, aku hanya merasa sepi saja, biasanya kalau aku duduk di sini, temen tak kasat mata langsung pada datang makan kue," kata bocah itu menghela nafas.


"sabar sayang, mau kamu sekarang bagaimana biar mami yang memenuhi keinginan mu, kamu mau adik?"


"aku ingin punya sepeda lipat milikku sendiri boleh ya mami," mohon bocah itu," mami Tasya mengeleng pelan


"kamu yakin mau sepeda lipat, toh sebentar lagi SMP kamu pasti mau naik motor," kata mami Tasya memberi saran.


"tidak mami, aku ingin naik sepeda lipat saja, setidaknya itu lebih hemat tempat di banding sepeda gunung, dan aku harus menjaga kondisiku, karena aku ingin ikut tim basket SMP," jawab Linga.


"baiklah, kalau begitu besok saat libur sekolah, mami akan mengantar kamu untuk membelinya, dan kamu bebas memilihnya,"


Linga pun memeluk mami Tasya sebagai ucapan terima kasih, sedang Papi Arkan yang melihat dari jauh pun hanya tersenyum melihat keduanya.

__ADS_1


Adit sedang membagi beberapa keuangan yang di transfer ke beberapa rekening keluarga Gilbert.


bahkan Adit sudah menyiapkan semua dana pendidikan untuk anak dari opa Alan.


bagaimana pun dia sekarang yang menjadi direksi di perusahaan itu, jadi dia punya wewenang itu.


dia melihat lily yang nampak tenang, istrinya itu sudah nampak tidur nyenyak karena lelah kemungkinan.


dia pun sudah bersiap untuk pergi ke pondok pesantren, tak lupa dia mencium kening dari Lily.


"aku berangkat ke pondok ya sayang, kamu jangan mencariku, maaf harus meninggalkan mu sendiri," bisiknya.


dia berpamitan pada kedua orang tuanya dan Linga, sedang Lily bangun dan tersenyum melihat Suaminya itu.


"betapa beruntungnya aku, kamu orang baik mas, semoga tetap seperti itu hingga nanti, maut memisahkan kita ya," kata Lily yang bangun.


tapi dia kembali tidur karena hati ini kegiatannya terlalu banyak dan dia merasa begitu lelah.


Adit sampai di pondok pesantren milik keluarga Faraz, terlihat seluruh lapangan sudah penuh dengan para santri yang duduk berjajar rapi.


dia pun langsung menyapa ustadz Faraz yang nampak mengatur beberapa hal, Keduanya berpelukan dengan erat.


"waalaikum salam le, ayo bergabung dengan yang lain, tenang semuanya sudah oke," jawab pria itu


"Alhamdulillah kalau begitu," jawab Adit


acara wanaqiban dan juga istighosah bersama pun di lakukan dengan sangat khusyuk.


akhirnya setelah semuanya selesai, mereka pun melakukan makan bersama.


Adit mengambil dua botol air mineral untuk di gunakan Lily minum di rumah.


"jadi rencananya setelah ini kalian mau bagaimana, apa kalian akan tetap di sini atau menyusul opa kalian ke Singapura?" tanya ustadz Faraz.


"niat awalnya ingin menyusul opa ke Singapura, tapi melihat kondisi Lily dan ke khawatiran kami, jadi kami memutuskan untuk tetap di sini saja," jawab Adit tersenyum.


"iya tidak apa-apa, karena aku yakin jika kalian akan lebih suka di sini saat bayi kalian lahir, kenapa? karena banyak yang akan membantu menjaganya, bahkan mungkin mereka akan berebut," kata ustadz Faraz.


"iya ayah itu benar, tapi boleh aku ambil satu botol lagi untuk di berikan pada ayah Aryan, semoga mamcan bisa cepat melahirkan," kata Adit yang ingat dengan wanita itu.

__ADS_1


"baiklah kamu bisa mengambilnya, dan segera pulang, karena tak baik meninggalkan istrimu terlalu lama seperti ini," perintah ustadz Faraz.


"iya ayah terima kasih, saya pamit," kata pria itu yang langsung pergi membawa tiga botol air mineral dengan ukuran cukup besar itu.


mobil yang di kendarai oleh Adit menuju ke rumah Aryan, dan terlihat ada anand yang sedang duduk di teras dan langsung berdiri saat mobil Adit berhenti.


"assalamualaikum bro, kapan pulang," tanya Adit yang masuk dengan menenteng air di tangannya.


"hai mas, pulang kemarin, ada apa ini kok bawa air segala, habis ngilmu ya?" ledek pria itu.


"mulut mu minta di lakban, ngilmu ngilmu, aku baru dari pondok untuk mengikuti acara istighosah bersama yang di lakukan, dan ini ada air yang sudah di doakan, semoga bisa membantu mamcan agar segera bisa melahirkan, kan kasihan jika kemana-mana harus membawa perut besar seperti itu," kata Adit.


"ya mas Adit benar, kadang aku juga heran kenapa itu adek ku gak mau keluar, padahal kakak tampannya ini sudah menunggu," kata Anand dengan percaya diri.


"aduh bisa gila dan muntah aku jika terus di sini dan melihat tingkah mu itu," kata Adit yang langsung masuk di ikuti anand.


"assalamualaikum ayah dan mamcan," sapa Adit dengan sopan.


"waalaikum salam,wah Adit masuk le, kapan datang," tanya Aryan yang melihat suami keponakannya itu.


"dari tadi ayah cuma kebegal di depan, sama pria ini nih," kata Adit menunjuk Anand.


"alah cuma tanya doang, sini airnya biar aku bantu mama ku ini minum," kata anand yang begitu baik pada Riya.


"wah terima kasih,aku tau jika di pondok ada acara,tak menyangka akan dapat air doa juga," kata wanita itu.


"tentu, ini sengaja untuk mendoakan semua orang agar terhindar dari sihir dan juga terus di berikan kesehatan," kata Adit.


Rita membaca alfatihah yang di tunjukkan untuk dirinya dan putranya yang di salam kandungan, setelah itu dia meminum air itu.


setelah selesai minum, tiba-tiba perut Rita merasakan mulas yang begitu kuat.


dan di belakang rumah terdengar suara ledakan, Adit berlari ke belakang rumah ternyata ada bungkusan yang terbakar dan itu adalah santet untuk menutup jalan lahir.


"ayah kecil cepat bawa mamcan ke rumah sakit," kata Adit yang sibuk menyiram air garam dan membiarkan benda itu hangus terbakar dan hilang sendiri.


tak butuh waktu lama mereka sampai di rumah sakit, dan Riya langsung di bawa ke ruang bersalin, tak sampai sepuluh menit.


Riya sudah melahirkan putranya yang begitu tampan dan berukuran besar karena seharusnya sudah dari dua Minggu yang lalu bayi itu lahir.

__ADS_1


Adit pun bergegas pulang untuk menyampaikan kabar bahagia ini, dan mungkin keluarganya akan sangat senang .


__ADS_2