
pagi itu, acara selamatan dulu di mulai, setelah itu baru pembongkaran penggilingan dan rumah di belakang rumah.
tak lupa ada beberapa pohon besar di belakang rumah juga di tebang. bahkan ada tiga pohon aren, tiga pohon trembesi dan satu pohon mangga di depan rumah.
semua warga tak mengira jika kepala keluarga itu sangat nekat, bahkan dia tak mengira akan senekat ini.
kini yang ketakutan adalah warga kampung, tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa karena rumah dan apa yang di lakukan oleh keluarga itu adalah murni hak mereka.
pembongkaran penggilingan itu sangat memakan waktu karena harus mencopot satu persatu mesin giling yang berukuran besar.
sedang papi Arkan memindahkan beberapa makhluk ke tempat yang sudah menjadi tempat pembuangan, tapi dia dan Linga akan membantu arwah yang ingin tenang dan agar bisa menyebrang.
beberapa makhluk pergi dari rumah itu, entahlah mereka kemana karna papi Arkan tak menanyai satu persatu mungkin juga balas dendam.
"papi, kue dari mami, tadi kata mami sama Oma mau ke dokter untuk periksa kandungan dan belanja, jadi aku ke sini dari pada di rumah sendirian gak jelas," kata Lily yang datang-datang sudah mengomel.
"iya cantik, ada apa sih kok kayak kesal gitu? apa ada yang membuat mu marah?" tanya papi arkan pada putrinya itu.
"iya, aku marah karena mas Adit tidak ada kabar, memang kerja di perusahaan itu apa sesulit itu?" tanya Lily sedih.
"aduh mbak Lily ku yang cantik nan cerewet, mas Adit itu kerja, bukan main dengan wanita lain," kata Linga yang sedang bermain rubik.
"apa? kamu menyebalkan sekali sih, papi dengar ucapannya?"
"memang kenapa kalau Adit bermain dengan perempuan, dia sudah dewasa dan sudah waktunya untuk menikah bukan?" jawab papi Arkan yang pura-pura tak mengerti.
"tidak boleh!" kata Lily marah
"memang kenapa dia bukan pria beristri, jadi kenapa tak boleh," jawab papi Arkan dengan menyebalkan.
"aku tak suka karena aku mencintai mas Adit," kata Lily.
"wah akhirnya jujur juga..." kata Linga mengejek Lily
"sudahlah, yang penting jangan melakukan hal aneh sebelum kalian menikah, karena papi sepenuhnya akan mendukung kalian," kata papi Adit.
"benarkah papi?"
"tentu nak, asalkan putriku bahagia, apapun akan papi lakukan, tapi sebelum itu, kita lihat nanti malam pasti semua warga desa akan terancam karena kita melakukan renovasi," kata papi Arkan.
"lihatlah orang tua ini, dia begitu pendendam begitu," kata Linga.
"iya kamu benar, papi itu memang seperti itu," kata Lily yang setuju dengan pendapat adiknya itu.
__ADS_1
Arkan memang terkenal dermawan dan baik, tapi sekali membuat pria itu marah atau menganggu keluarganya, maka bersiap-siaplah menerima dendam pria itu.
terlebih yang di ganggu oleh semua warga adalah Tasya, wanita yang sangat di cintai oleh papi Arkan.
"mbak Lily..."
"apa?" jawab Lily melihat Linga
"coba telpon mbak Riya dong, dia sedang apa? kan sekarang udah sana ayah nih," kata Linga dengan wajah menyebalkan.
"kamu ini ya, ganggu orang honeymoon saja, sudah mending kita di sini, biasanya sebentar lagi ada penjual mie ayam," kata Lily yang tak habis pikir dengan keusilan dari adiknya itu.
tak lama memang benar ada penjual mie ayam, dan Lily memberhentikan penjual itu.
"bang mie ayam lima dong makan di sini ya," kata lily.
"biasa apa yang spesial neng?"
"spesial bang," jawab Linga.
kapan lagi dia di traktir Lily, butuh waktu untuk ke Lina mie ayam itu selesai.
dan seperti biasa, dia mangkuk di taruh di bawah,dan penjual bakso itu sedang sibuk melihat banyak orang yang bekerja.
"mbak ini yang satu buatku ya," kata Linga.
"apa, bentar dek paruh dang,"jawab Lily.
akhirnya kelima mangkok itu blas tak bersisa, "jadi berapa bang?"
"lima puluh ribu neng," jawab penjual mie ayam itu.
"ini uangnya bang, terima kasih ya," kata Lily yang sudah kenyang sekali
sore hari, dia dan Linga pulang duluan karena arkan masih harus mengurus beberapa hal.
para warga merasa aneh, karena tiba-tiba terdengar suara lolongan anjing padahal baru juga mau Maghrib.
"sepertinya, malam ini akan terjadi hal buruk ya," kata pak RT.
"alah mungkin orang yang sedang mencari biawak saja,sudah tak usah di gubris," jawab pak RT.
papi arkan baru pulang pas adzan Maghrib berkumandang, "ayah ini dari mana, kenapa baru pulang,bikin khawatir saja,"
__ADS_1
"aduh mami maaf ya, tadi papi beli sate di langganan kita, habis papi tiba-tiba ingin makan sate nih," jawab papi Arkan.
"kamu kok lucu, kayak orang ngidam saja, sudah sana mandi dulu," kata opa Alan.
"iya ayah," jawab papi Arkan.
keluarga itu menikmati waktu mereka dengan tenang, tapi tidak dengan seluruh warga desa.
setelah pulang dari shat Maghrib, beberapa warga sedang berjalan dan melihat ada seorang wanita yang sedang mencari sesuatu.
mereka tak curiga dan langsung berniat memberikan bantuan, "permisi mbak, sedang mencari apa?"
"saya kehilangan sesuatu yang penting pak,tolong bantu saya..." kata wanita itu dengan suara menangis lirih.
"mbak kehilangan apa? jika anda tak bilang bagaimana saya dan teman-teman bisa bantu," kata pak RT yang khawatir.
"saya kehilangan mata saya pak.... hi-hi-hi..." jawab wanita itu sambil menoleh dengan lubang besar di matanya.
"hantu!!" teriak ketiga pria itu kocar-kacir.
"hi-hi-hi... tolong bantu cari mata saya," kata makhluk itu.
mereka bertiga berlari hingga tanpa sadar sampai di depan pos kamling.
"ya Allah ini masih sore, kenapa itu setan usah nonggol," kata mereka dengan nafas tersengal-sengal.
"bang... tolong bukakan tali pocong bang..."suara lirih itu terdengar.
mereka bertiga saling tatap, "kalian mendengar sesuatu?"
"iya pak RT, seperti dari dalam pos ya," jawab pak Yono yang berada di samping pak RT.
"lihat deh men,"perintahnya.
"gak mau pak,takut saya," panik pria itu.
"tolong bukakan tali pocong saya...."
tiba-tiba pocong Sardi dengan wajah buruk rupa dengan darah mengucur dari lubang mata dan hidung, belum lagi wajah hancur lebih belatung.
"tolong...."
"pocong!!!" teriak ketiganya yang tak bisa lari malah terkencing di celana sambil berpelukan Teletubbies.
__ADS_1
pocong Sardi pun melompat mencari pertolongan untuk membuka talinya.