Lily

Lily
rasa cinta


__ADS_3

Lily sedang membersihkan sayuran yang memang susah tersedia di kulkas, dan beruntung nasi juga sudah matang.


"mas Adit, Linga ayo sarapan," panggilnya.


kedua orang itu pun datang, Linga sudah siap dengan seragam sekolahnya dan tak lupa membawa kaos yang di beli kemarin lalu.


dia akan membagikan oleh-oleh itu pada teman-teman terdekatnya, "wah sarapannya pecel tapi gak ada peyek ya?"


"sudah makan sama kripik saja enak kok, kamu juga duduk dek," panggil Adit.


mereka bertiga sarapan, dan setelah selesai Adit yang mencuci piring yang kotor.


setelah itu Adit pamitan dengan Lily dan tak lupa mencium kening istrinya.


"Linga bareng mas atau naik sepeda sendiri?" tanya Adit yang tau jika bocah itu bisa saja telat.


"bareng saja, nanti kalau pulang gampang mas," jawabnya.


mereka pun pergi dari rumah, Lily pun melihat dua orang wanita datang ke rumah, "assalamualaikum mbak Lily ya, perkenalkan saya yang bantu-bantu di rumah ini, suruhan dari mas Adit," kata salah satu wanita.


"loh tapi suami saya tak mengatakan apapun," bingung Lily.


"coba mbak hubungi, karena sebelum ke Surabaya dan tadi pagi mas Adit menghubungi kami untuk mulai bekerja," kata wanita itu.


"tunggu sebentar ya," kata Lily yang mengambil ponselnya.


Adit pun langsung menjawab panggilan itu, "assalamualaikum dek, ada apa?"


"waalaikum salam mas, ini ada dua mbak-mbak datang, katanya kamu yang nyuruh untuk mulai kerja di tempat kita," kata Lily.


"aku memang mencari dua orang yang akan membantu dan menemanimu di rumah agar kamu tak capek, namanya mbak nur dan mbak Wiji, tapi mereka sudah setengah baya kok," kata Adit.


"baiklah mas kalau begitu," jawab Lily.


dia pun menutup panggilan nya, dan kembali ke tempat dia orang itu sekarang berdiri, "anu mbak berdua ini namanya siapa?"


"saya Bu nur, dan ini bu wiji,"


"owh ... enggeh leres lek ngoten, mati Bu silahkan masuk, maaf saya baru pulang jadi belum sempat beres-beres tadi," kata Lily.

__ADS_1


"tidak masalah mbak, ini tugas kami, jadi mbak hanya tinggal mengawasi kami saja, dan tolong istirahat," kata kedua wanita itu.


"baiklah Bu, kalau begitu saya masuk kedalam kamar ya, untuk mengerjakan semua tugas kuliah," kata Lily.


"Monggo.."


Lily pun masuk membawa air minum kedalam kamar utama rumah itu.


dia mengambil obat yang dia sembunyikan, dan setelah itu dia pun duduk di sofa sambil memejamkan matanya.


"aku harus kuat, semangat," kata Lily yang bangkit dari sofa tempatnya duduk.


dia melihat beberapa laporan, di sudut kamar ada Ki Dwisa yang mencoba mendekati Lily dan menarik sesuatu.


Lily merasa tubuhnya seperti tertekan sesuatu yang begitu berat, tapi tiba-tiba dia merasa lega.


"kamu harus sehat, demi anak cucuku, dan aku yang akan menjaga mu," kata Ki Dwisa yang kemudian pergi.


di salah satu rumah, pria itu tertawa karena rencananya berhasil, dia tak bisa menyakiti Adit.


tapi dia bisa menyakiti Lily, meski gadis itu bisa di katakan sangat kuat, tapi nyatanya sebuah santet ringan bisa menembusnya.


karena yang jadi impiannya adalah menyiksa Adit karena saingan untuk mendapatkan Lily telah berubah menjadi dendam pribadi.


terlebih kini pak Ari sudah menjadi guru yang terbuang dari sekolah, belum lagi reputasinya juga sudah hancur karena Adit.


pria itu tak tanggung dalam menghancurkan karir seseorang, "sekarang kamu akan ku buat gila dengan kehilangan gadis yang kamu cintai, karena dia akan mati atau tersiksa saat aku menginginkannya,"


Ki Dwisa melempar jenglot yang tadi menempel di tubuh Lily, dan makhluk itu berani menunjukkan dirinya saat Adit sudah pergi.


"kalau begitu biar aku membunuh mu," kata Ki Dwisa marah yang langsung membakar jenglot itu.


otomatis, tubuh pak Ari tiba-tiba terbakar dengan sangat hebat. meski tak menimbulkan api.


tapi tubuh pria itu melepuh memerah dan mengeluarkan asap dengan tebal.


bahkan aroma daging panggang tercium dengan sangat semerbak memenuhi seluruh kamar pria itu.


"panas!!!"

__ADS_1


orang tua dari pria itu bergegas ingin masuk tapi tak bisa karena pintu kamar itu terkunci dari dalam.


sedang Ki Dwisa menyaksikan pria itu mati terpanggang hidup-hidup, tak hanya itu, ki Dwisa memastikan jika pria itu mati sepenuhnya.


"kamu ingin mencelakai istri cucu ku, jangan mimpi,karena bagiku kebahagiaan Adit adalah segalanya," kata Ki Dwisa yang kemudian pergi.


Lily pun merasa tubuhnya sedikit mendingan tapi dia merasa aneh karna bangun sudah di lantai


"ah sepertinya aku pingsan tadi, sudahlah lebih baik aku mandi saja," kata Lily.


dia pun langsung mencari baju yang dia ingin pakai,tapi dia seperti orang bingung saat ini.


"aku ingin melakukan apa, ah iya aku harus ke kampus, dasar lemot kenapa tiba-tiba bisa pelupa sih," gumamnya.


dia mengambil gamis yang batu di beli dan itu berwarna merah muda kesukaannya.


Adit melihat rekaman CCTV di kamarnya, dan di rumah juga untuk memastikan jika semuanya baik-baik saja.


tapi dia sedikit kaget melihat tingkah istrinya yang sempat seperti orang bingung.


"sebenarnya Lily kenapa, kenapa beberapa detik dia seperti orang bingung seperti itu," kata Adit.


"sudahlah mungkin dia hanya kelelahan saja, apa yang aku pikirkan, dasar pria aneh, sudahlah lebih baik aku pulang dan mengajaknya ke kampus," gumam Adit.


saat masuk mobil dia melihat oleh-oleh untuk Shafa, akhirnya dia memutuskan untuk mengantarkan baju itu dulu baru pulang.


meski tak menemui keluarga ustadz Faraz, Adit memilih menitipkan pada satpam yang berjaga di gerbang masuk pesantren.


setelah itu dia langsung pergi kembali ke rumah, ternyata Lily sedang duduk bermain ponselnya.


"sudah siap sayang?" panggil adit.


"salam dulu dong mas, assalamualaikum..."


"waalaikum salam... ya Allah maaf karena melihat wanita cantik ini, aku jadi lupa segalanya," kata Adit tersenyum.


"kamu itu lucu deh, sudah ayo antar aku pergi," kata Lily.


mereka pun berangkat ke kampus bersama, tak lupa Adit memastikan semua aman dan dua orang yang membantu pekerjaan rumah tak akan melakukan hal aneh-aneh.

__ADS_1


__ADS_2