Lily

Lily
siapa gadis cantik itu?


__ADS_3

akhirnya malam itu semuanya sudah beres, Kuntilanak merah itu pun pergi dan tak mengikuti Adit lagi.


Lily dan Tasya yang berada di rumah pun merasa cemas, tapi mereka sedikit merasa lega saat melihat ketiganya pulang.


Linga juga sempat bangun tapi karena begitu mengantuk, bocah itu tidur di gendongan Adit.


setelah cuci kaki, mereka pun masuk kedalam rumah, tapi tiba-tiba tubuh Adit limbung dan hampir jatuh.


Lily yang reflek menahan pria itu, meski tubuhnya kalah besar dari Adit tapi karena rasa sayangnya, dia bisa menahan pria itu.


"mas gak papa?" tanya Lily khawatir.


"tenang aku hanya kelelahan sepertinya," jawab Adit memberikan Linga pada Arkan.


Lily langsung memapah Adit masuk kedalam rumah, dan menidurkan pria itu di ranjang kamar.


tapi Lily malah ikut jatuh dan menindih tubuh Adit, dia juga sempat terdiam lama memandangi wajah pria itu.


"dek, jika kamu terus begitu, aku bisa khilaf, tolong jangan seperti itu," kata Adit.


"ah maaf mas," jawab Lily.


gadis itu pun panik dan langsung pergi, tapi jantungnya hampir seperti mau lompat keluar dari tadi.


"ya Allah jantung ku kenapa begini, apa aku sakit," kata Lily yang sudah memerah wajahnya seperti kepiting rebus.


Tasya yang melihat pun geli sendiri, pasalnya gadis itu persis dirinya saat bertemu dengan Arkan.


tapi Lily mungkin lebih pemalu di banding dia dulu yang lebih anarkis saat mengejar arkan.


"ada apa mi?" tanya Arkan yang baru keluar dari kamar putranya Linga


"lihatlah, sepertinya putrimu sudah dewasa, bahkan dia sudah malu-malu seperti itu, dan bisa menunjukkan siapa yang dia suka," kata Tasya dengan senang hati.


"apa, aku tidak bisa, aku tak mau dia seperti itu, aku belum siap untuk melihatnya dewasa," kata Arkan.


"kenapa sih, kita dulu juga menikah muda, makanya anak-anak sudah dewasa kita masih muda, jadi tak perlu sebegitunya kali," kesal Tasya.


Arkan pun pasrah setelah dapat ceramah dari istrinya itu, dan tak mudah menang dari sosok Tasya dalam beradu argumen.


"Lily sayang ayo istirahat nak, besok kamu ujian negara nak, biar kakak yang mengantar mu ya," kata Tasya.


"iya mami, aku mengerti," jawab Lily yang lari dengan malu-malu.


melihat itu Arkan pun memeluk istrinya, "kalau begitu tolong buatkan aku seorang anak cewek lagi dong sayang," kata Arkan memohon.


"kamu jangan gila ya, ya kali aku hamil di usia ku," kata Tasya yang tak ingin mengambil resiko besar.

__ADS_1


terlebih usianya susah hampir kepala empat saat ini, meski begitu dia harus konsultasi dulu dengan dokternya.


"sudahlah pria tua mesum ku, sekarang lebih baik kita tidur dan jangan terus memikirkan hal yang tidak-tidak," kata Tasya menjewer Arkan dan mengajaknya masuk kedalam kamar.


mereka pun beristirahat dengan tenang malam ini, terlebih musuh terberat juga sudah di singkirkan.


sayup-sayup terdengar suara adzan subuh, Lily terbangun karena seseorang mengusap pipinya dengan lembut.


tapi tiba-tiba usapan itu berubah menjadi sebuah pukulan cukup keras, hingga membuat gadis itu kaget.


"apa sih?" marahnya.


"bangun dasar males jadi orang, jangan tidur Mulu, bangun," omel Linga.


"iya dek iya... ini bangun, sudah keluar sana aku mau mandi terus subuhan," usir Lily.


pasalnya tadi awalnya adalah Adit yang membangunkan gadis itu, tapi saat melihat bagian bahu Lily.


pria itu buru-buru keluar dari kamar gadis itu dan memanggil Linga untuk membangunkan gadis itu.


Lily memilih subuhan sendiri di kamarnya, sedang Adit baru pulang bersama Linga dan Arkan yang tadi sempat subuhan di masjid.


"ibu masak sarapan apa? atau kita beli nasi pecel Mak Rondo ya," ajak gadis bocah itu.


"ya kebetulan sekali, mami males masak, cepat beli gih, nanti kesiangan lagi kalau gak segera beli," kata tasya yang memang sedang malas masak.


"iya-iya mami tetap buatkan, sudah cepat pergi sana," kata Tasya.


Adit langsung mengeluarkan motor N-max yang biasa di gunakan oleh papinya.


tak butuh waktu lama mereka pun sampai di warung yang sangat sederhana.


terlebih orang itu jualan hanya di teras rumah, Adit pun tak mengira jika banyak warga dari desa nya yang juga membeli di sana.


"wah mas Imin juga beli disini, kalau begitu terjamin ya," sapa Adit yang langsung bersalaman dengan pria itu.


"iya mas, oh ya sudah dua hari tak melihat mas Adit, ternyata pulang ke rumah orang tuanya ya, terus rumahnya memang mau di bongkar dan di bangun mas?" tanya mas Imin


"iya mas, buat rumah saya dan istri masa depan, insyaallah..." jawab Adit.


"Bu pesen nasi pecelnya lima ya, bungkus," kata Adit.


"iya mas, tunggu antrian ya," kata wanita itu.


Linga sedang duduk manis sambil memainkan ponsel Adit, sedang Adit membahas beberapa masalah dengan mas Imin.


akhirnya pesana pria itu selesai dan pamit lebih dahulu, saat sedang antri seorang wanita datang.

__ADS_1


bagi semua orang gadis itu sering di sebut bunga cantik idaman di desa itu, tapi bagi adit dan Linga.


gadis itu begitu seram, gadis itu memilih duduk di sebelah Adit, "innalilahi wa inna ilaihi Raji'un...." gumamnya.


Linga pun kaget karena ponsel Adit berdering, ternyata Lily yang telpon.


"mas,mbak Lily telpon," kata Linga yang memegangi lengan Adit takut.


"iya dek ada apa, mas sedang antri nasi ini," jawab Adit.


"ih... aku kok di tinggal sih,kalau begitu mas harus minta ekstra bumbu untuk ku," kata Lily yang terdengar kesal.


"ibu bisa beli bumbunya saja, karena istri saya yang minta," kata Adit dengan sopan.


Lily yang mendengar pun syok karena Adit mengakuinya sebagai istri, begitupun Linga yang nampak kaget.


"iya mas, pasti istrinya ngidam ya," kata ibu penjual itu.


"ya Allah... masih muda anaknya sudah sebesar itu, terus istrinya hamil,nikah umur berapa .." bisik ibu-ibu di sana.


Adit melakukan itu agar gadis yang memiliki aura mencekam dan aroma busuk itu tak menganggunya, karena Adit sadar jika gadis itu mengincarnya.


"jangan lihat saya muda Bu, saya sebenarnya sudah tua kok," jawab Adit yang tak sengaja mendengar ucapan itu.


"he-he-he maaf ya mas, habis kami kaget kok," jawab ibu-ibu itu.


"ini mas nasinya," kata ibu penjual itu.


"jadi berapa Bu, nasinya lima plus bumbu, kalau ibu-ibu ini bungkus berapa?" tanya Adit sopan.


"saya bungkus enam," saut ibu berjilbab hitam.


"saya pesen empat mas," jawab ibu yang tak berjilbab.


"tolong hitung semuanya Bu, jadi nasi lima belas dan plus bumbu," kata Adit dengan sopan.


"tujuh puluh lima ribu mas, untuk bumbunya gratis," kata ibu penjual itu.


"ini Bu uangnya, kalau begitu saya permisi," kata Adit.


"loh mas kembaliannya!" panggil ibu itu.


"buat ibu saja, saya ikhlas kok," jawab Adit yang sudah pergi dari sana.


semua orang terbengong-bengong melihat pemuda yang sebaik Adit, tapi gadis yang di sebelah Adit itu merasa aneh, kenapa pemuda tampan itu tak bisa dia gaet.


meski sudah menikah biasanya malah lebih mudah di gaet.

__ADS_1


__ADS_2