
pukul dua dini hari, Adit menunggu para muridnya untuk berkumpul, Lily juga datang sambil membawa tas ransel.
"kamu sudah cuci muka, sudah bangun atau masih ngantuk," kata Adit yang melihat wajah Lily.
"udah bangun mas," kata Lily dengan suara serak.
"baiklah berdiri di sampingku," kata Adit yang tetap menggenggam tangan Lily.
hingga tanpa sadar Lily malah memeluk Adit karena dingin, dan dengan santai Adit pun membiarkan ulah adiknya itu.
"kalian semua sudah siap, sekarang kita berangkat dengan mengunakan Jeep,dan nanti lanjut naik dari lautan pasir ya," kata Adit.
mereka pun semua langsung keluar dan tak lupa membawa perlengkapan agar tetap hangat.
Riya ternyata di minta Aryan bersama dengannya karena takut jika gadis itu terluka.
karena beberapa murid mengundurkan diri dari acara itu karena lelah.
Adit memeluk Lily sebelum berangkat dan memastikan gadis itu sepenuhnya sadar.
"pelukan mas Adit hangat ya," katanya yang duduk di Jeep.
"ya karena daging kak Adit lebih tebal daripada kamu," jawab Adit tertawa.
"ingin rasanya liburan bareng kak Adit, kapan ke Singapura, aku mau ikut dong," kata Lily memohon.
mereka sudah baik Jeep bersama beberapa murid lainnya.
"mungkin Minggu depan untuk melakukan cek up, ya karena dokter ingin memastikan aku sudah sepenuhnya sehat," jawab Adit.
mobil semua berhenti dan beberapa sudah baik,"jadi ayah yang naik duluan tim siapa?" tanya Adit yang memasang tali pada Lily agar gadis itu tak lari jauh darinya.
"Aditya, mas Arkan dan mbak Tasya, mereka naik jadi satu tim," kata Aryan.
"baik semuanya ayo naik," kata Adit.
Lily pernah dengar mitos jika mereka tak boleh menoleh saat mulai menaiki bukit cinta.
itulah kenapa sebisa mungkin Lily tak memanggil Adit dan menyamakan langkah kakinya.
sedang di tempat penginapan, pak Ari menyadari sesuatu, jika tak selamanya apa yang di inginkan, terutama hati seseorang.
seperti barusan, biar hati ingin memberikan obat tapi dia malah melihat Lily yang begitu manja pada Adit.
meski dia tau jika mereka saudara, tapi jahat saudara angkat dan apapun bisa terjadi,itulah kenapa sekarang dia nampak sedih.
Arkan yang jadi penunjuk jalan di tim pertama, beberapa kali melemparkan batu.
semua murid heran karena melihat ketua yayasan yang bersikap aneh, "pak Aditya itu pak Arkan gak Kenapa-kenapa kan?" tanya salah satu murid.
"biarkan saja, sudah ayo cepat naik," kata Aditya.
mereka pun berhenti untuk beristirahat sebentar karena rasanya udara makin tipis.
__ADS_1
meski begitu jalur pendakian itu cukup ramai, pukul lima pagi mereka sudah sampai puncak Bromo karena besok akan mengunjungi bukit Teletubbies.
perlahan matahari pun muncul dan beruntung suasana cerah, tak hanya itu mereka sempat foto bersama.
pukul tujuh sekitar puncak mulai ramai jadi mereka semua memutuskan untuk turun.
Adit memastikan tak ada yang ketinggalan karena bisa repot, mereka semua turun lebih sedikit cepat di banding naik.
saat sampai di bawah mereka sempat makan mie yang di bawa, ternyata Aryan membawa kompor khusus.
"ini nih enaknya baik sana anak gunung," kata Arkan tertawa.
pasalnya Adit juga membawa hal yang sama, setelah membuat mie mereka pun lanjut naik Jeep melintasi pasir berbisik dan akan menunggu rombongan yang lain.
Lily dan Adit sudah puas berfoto bersama orang tua mereka meski ada yang kurang karena Linga tak ada.
pukul sembilan semua murid sudah datang dan tengah berfoto dan menyebar tapi Adit memberikan batas waktu pada mereka semua.
karena tujuan mereka tak hanya di sana melainkan ada beberapa wisata juga.
"mas pinjam kameranya ya," kata Lily.
"tentu,tapi ingat jangan ke pura ya, kamu lagi halangan," kata Adit mengingatkan.
"siap mas," jawab Lily.
ternyata Tasya bersama dengan Lily dan teman-temannya. terlihat semuanya senang bersama Tasya yang memang bisa bergaul dengan siapapun.
"hubungan yang rumit bukan, kaji tak perlu di pikirkan, lihat saja," saut Arkan yang duduk di samping Adit.
"wih ayah bawa ubi panas, mau dong," kata Adit yang langsung memakannya dan alhasil mulutnya kepanasan.
"makanya hati-hati tak akan ada yang merebutnya darimu," kesal Arkan melihat tingkah Adit.
"maksudnya pak Arkan," bingung pak Ari.
"sudah pak Adi akan pusing sendiri, tak perlu di pikirkan, mending sarapan dulu," kata Arkan mengalihkan pembicaraan.
"ah begitu ya, maaf jika saya kepo dengan kehidupan keluarga anda," kata pak Ari merasa tak enak.
"tak masalah," jawab Arkan.
"pak Ari duduk di sini kan, gak kemana-mana?" tanya Adit.
"sudah pergi sana, biar om yang jaga tas kalian, aku tau kamu mau apa," kata Aditya yang sedari tadi diam dan hanya mengawasi dan melihat gelagat dari pak Ari.
"wih mantap, papi.. ayah... kita lomba naik kuda yuk," kata Adit menantang kedua orang itu.
"tentu siapa takut," jawab Aryan dan Arkan siap.
Aditya melihat kearah pak Adi saat ketiganya pergi, "jika kamu ingin menantangnya kamu pikirkan lagi, karena Adit bukan pria biasa seperti mu, meski dia terlihat tenang, tapi aku dan dia tak jauh berbeda,"
pak Ari cuma diam saja mendengarnya, pasalnya dia tak percaya pria muda yang tersenyum lembut itu bisa memiliki sifat kejam.
__ADS_1
Adit, Arkan dan Aryan kini berkuda dengan sangat lincah, melihat itu Lily pun mengambil foto.
Adit pun menuju ke arah para gadis-gadis, semua pun bersorak melihat Adit yang makin terlihat gagah saat ini.
"mau ikut," tawar Adit pada Lily.
"tapi ku takut," jawab gadis itu.
Adit langsung menarik tangan Lily hingga gadis itu terduduk di atas pelana kuda
Adit pun membawa dia berkeliling sebentar, sedang Arkan dan Aryan memilih turun dan membiarkan siapa pun yang ingin naik kuda bisa merasakannya.
"loh aku tak melihat Uci dek?" tanya Adit yang sekarang turun dan menuntun kuda.
"dia merasa tidak enak badan tadi kata Rika, jadi dia menunggu di penginapan, dan ada beberapa murid lain juga," terang Lily.
"baiklah jika begitu," jawab Adit yang langsung membawa Lily berkeliling.
pukul tiga sore semua orang sudah kembali ke penginapan, Adit langsung mandi.
sedang kini beberapa murid bersama tujuh guru lain menuju ke sebuah kebun sayur dan buah.
sedang Adit memilih untuk menghampiri catering yang menyediakan makanan bagi murid-murid.
Lily kaget melihat ada sosok yang mengikuti Adit, "mas...."
pria itu menoleh dan berhasil melihat sosok itu dan dengan sekali pukul arwah itu hilang.
"itu tadi siluman ya mas," kata Lily yang masih nampak syok.
"ya... tapi itu pelindung ku, jadi tak usah takut ya Lily," bisik Adit.
Lily bahkan sempat diam saat mendengar Adit yang berbincang dengan orang-orang sana dengan mengunakan bahasa Madura.
bahkan terdengar sangat lancar, Lily kemudian ikut menuju ke sebuah perkebunan dan membeli beberapa ubi yang nanti akan di bakar.
setelah itu mereka kembali ke penginapan dan nanti ada jagung serta ubi yang di kirim.
saat berjalan, Adit sempat membeli beberapa camilan dari warga sekitar, dan membuat Lily heran.
"ini rasanya kok aneh?" tanya Lily.
"tapi enak kan?" kata Adit.
"iya mas, tapi ini apa?" tanya Lily yang masih belum sadar.
Adit hanya tersenyum dengan muka menyebalkan, Lily pun langsung terdiam dan ingin menangis.
melihat itu, Adit langsung memeluk adiknya itu, "tenang dek itu hanya jangkrik goreng,"
"mas Adit...." tangis gadis itu malah pecah.
bukan menenangkan, Adit malah tertawa tak bisa berhenti, pasalnya dia tau jika adiknya itu tak suka dengan hal seperti itu.
__ADS_1