
mobil papi arkan sampai di rumah luas itu, ternyata Husna dan Aluna sedang di teras sambil membaca buku.
"assalamualaikum..." sapa papi Arkan.
"waalaikum salam... apa kabar mas," jawab Husna yang langsung memeluk tubuh pria itu begitupun dengan Aluna.
mami Tasya juga menyapa kedua adik iparnya itu, dan begitupun dengan Lily.
"bagaimana liburan lama aunty Aluna, menyenangkan?" tanya Adit pada Tante kecilnya itu.
"menurut mu, aku tidak menyukainya, beruntung Senin aku sudah bisa masuk," jawab gadis itu.
"baiklah kalian lanjutkan berbincang bincang, aku dan papi akan masuk untuk menemui yang lain, Adit tolong bawakan semuanya tadi ke belakang ya," kata mami Tasya.
"baik mami," jawab Adit.
Aslan, Radi dan kak Rania serta suaminya juga datang, "loh Lily dan Linga saja, mana Adit," tanya pria itu.
"opa tolong... berhenti mengajari calon suamiku beladiri, ya Tuhan dia sekarang sudah seperti algojo tau tidak, masak sekali pukul bisa mematahkan gigi orang," protes Lily.
"hei kenapa gadis ku,kamu tak suka jika calon suamimu ini kuat?" tanya Adit yang keluar dan langsung memeluk Aditya.
"bukan begitu, ya kali suamiku nanti gak sengaja bunuh orang kan gak lucu," kesal Lily.
"sudah buktinya, Omacan gak masalah kok, sudah tak usah menganggu kesenangan para pria asal baik, dan Omacan masuk dulu ya," kata Rania yang tersenyum dan pergi.
"kalian semua silahkan main tapi ingat harus tau batas, karena aku ada urusan bersama Adit," kata Aditya menarik cucu angkatnya itu.
Lily pun selalu tak suka karena dia akan selalu kehilangan Adit saat datang ke rumah kakeknya.
"kenapa Linga kecil sendiri sih, terus ini kemana lagi ayah besar," protes bocah itu.
"hei apa yang kamu katakan, ini ada Nina yang jauh lebih kecil lagi, kamu memang aneh ya kok gak bisa cepet gede ya," kata Radi.
"hei jangan ngomong sembarangan ya, aku ini termasuk paling besar di jelas tau," kata Linga tak terima.
__ADS_1
"masak!!" kata Aslan.
"kak Aslan..." kata Linga.
mobil ustadz Faraz baru datang, dia turun dan membantu putri kecilnya yaitu Shafa, dan juga bersama umi Kalila dan baby Abrar.
melihat Shafa, Linga langsung berlari menghampiri gadis itu dan menariknya untuk berkumpul dengan yang lain.
ustadz Faraz hanya mengeleng melihat keponakannya itu,"kalian semua kalau main ingat jangan ke pemakaman,"
"siap ayah besar," jawab semua anak.
"kalian main ya, aku masuk dulu karena ada yang ingin aku bicarakan dengan keluarga kita," kata Husna yang memisahkan diri.
"baiklah kak," jawab semua orang.
Husna pun ke belakang dan melihat semua sedang sibuk saking membantu untuk memasak.
"karena Husna sudah ada di sini, ayah ingin bilang jika Husna dapat lamaran dari nak Nino untuk menjadi istrinya," kata ayah Raka.
papi Arkan yang sedang minum pun tersedak, "apa ayah, si kampret Nino, wah... dia berani melamar adikku, wah... dia kita nyawanya banyak," kesal papi Arkan.
"iya mas, dan semalam saat aku sudah istikharah dan Alhamdulillah aku sudah dapat jawabannya, dan ayah untuk lamaran itu, aku menerimanya," jawab Husna.
"Alhamdulillah..." jawab semua orang.
papi Arkan yang tadi sangat marah seketika merasa bahagia, karena dia sangat mengenal Nino dan tak mungkin pria itu akan melukai hati adiknya itu.
"tak ku sangka,kita akan jadi saudara pria menyebalkan itu," kata papi Arkan.
"itu tak masalah, akan lebih baik kita memiliki petinggi polisi seperti ini, anggap saja sebuah keberuntungan," kata ustad Faraz.
"iya terserah woy, dan ini kemana si kecil," kata papi Arkan yang menunggu kedatangan saudara kembarnya.
sedang Husna sudah dapat pelukan dari mami Tasya dan Omacan Rania.
__ADS_1
ayah Raka ingat jika kesehatan dari om Adri tak baik, "jadi Rania, bagaimana kondisi dari ayah mu?"
"kondisinya semakin menurun mas, kami sudah membawanya ke dokter, dan dokter bilang jika ayah harus menjaga makanannya, tapi siapa yang akan bisa bertahan saat cinta dan belahan hidupnya mati, kondisi ayah semakin turun setelah bunda meninggal dan sering sekali bilang jika ingin menyusul bunda, dan menitipkan Aslan pada kami," kata Rania yang telihat sedih.
"seharusnya kalian jangan meninggalkan dia seperti ini?" kata Amma Wulan
"tak apa-apa mbak, ayah bersama dua orang yang khusus menjaganya, dan mas Aditya bahkan meletakkan CCTV yang terhubung dengan ponselnya untuk mengawasi ayah," kata Rania yang meyakinkan jika semuanya baik-baik saja.
"mungkin itu semua akan di alami setiap pria yang kehilangan belahan jiwanya, seperti ku dulu yang harus berpisah dengan istriku," kata papi Arkan.
"itu pasti, aku bahkan sampai mengutuk diriku sendiri saat menyaksikan istri ku kesakitan melahirkan bayi kamu," saut ustadz Faraz yang juga mengingat perjuangan mereka.
sedang ayah Raka dan Amma Wulan yang memang tak terpisahkan pun hanya bisa tersenyum.
"sudah dong, ini kenapa tiba-tiba jadi melow gini sih,bikin sedih tau," kata mami Tasya yang menangis.
mereka pun hanya bisa tertawa mendengarnya, sedang di sungai dam.
Aditya dan Adit sedang duduk di depan makam desa, "sebenarnya ada apa opa? kenapa terlihat begitu sedih,"
"aku bingung Adit, apa kamu bisa melihat bebek buyut mu, karena kakek buyut mu terus memanggilnya saat tidur, aku tau jika kondisinya terus menurun, tapi kehilangan bundanya saja hampir membuat Aslan bunuh diri, aku takut jika ayah menyusul bunda, bagaimana kami harus menghadapi Aslan yang mungkin bisa syok berat nantinya?"
"kalau begitu opa dan Omacan harus berperan sebagai orang tuanya, dan nanti jika bisa biar aku ajak dia bicara dengan nenek buyut jika memang beliau datang," kata Adit.
sedang di rumah,Aslan dan semua saudaranya kini bermain boi'an, tapi masih kurang satu pemain karena mereka berlima dan tak mungkin Shafa dan Nina di ajak main, bisa-bisa mereka di amuk oleh kakek mereka.
beruntung mobil dari Aryan datang, anand turun dan bergabung dengan semua sepupunya itu.
dan mereka pun mulai bermain permainan jaman dulu itu, dan mereka sangat menyukai permainan itu.
Anand dan Lily adalah pemain paling besar, dan mereka menjadi ketua tim yang akan main.
mereka pun sangat senang bermain dan berlarian menghindar dari serangan Lily.
entahlah mereka semua seperti melupakan jika mereka semua sudah di usia dewasa.
__ADS_1
sedang di belakang para orang tua sedang berbincang serius, tapi saat Aryan datang dan membawa kabar bahagia, Semuanya pun jadi ikut bahagia mendengarnya.
"selamat saudaraku akhirnya kamu akan menyusul kami juga memiliki penerus lagi!!" kata papi Arkan dan ustadz Faraz.