Lily

Lily
kamu ingin mati


__ADS_3

Adit sudah berada di rumahnya untuk melakukan pekerjaan yang baru saja di kirimkan oleh logan.


dia pun memilih mengerjakan itu karena dia juga tak tau mau apa pagi ini.


dia juga tak ingin menyamar lagi di sekolah, apalagi dia juga kurang menyukai hal itu, terlebih itu sangatlah melelahkan.


meski kondisinya terlihat sangat baik, meski kadang-kadang rasa sakit itu tetap ada.


seperti hari ini, setelah tiga hari tubuhnya sedang tak fit, terlebih sudah tiga hari ini dia kekurangan tidur.


Adit pun tiba-tiba terjatuh pingsan, dan tak ada yang mengetahui itu.


dia pun seakan di tarik ke suatu tempat, dia sekarang ada di sebuah gua yang cukup gelap.


dia melihat ada sesosok ular emas yang sedang melingkar di atas batu, Adit tak langsung mendekat.


sosok ular itu langsung bangkit dan melihat Adit, pemuda yang sedang berdiri di kejauhan yang hanya diam saja.


tapi tak terduga ular itu langsung menyerang Adit, dan membuat pria itu terkejut hingga tersadar lagi.


"apa ini, kenapa aku memimpikan hal ini," gumam Adit.


tak terduga sesosok mahluk cantik sedang tersenyum kearahnya. dia pun hanya melihatnya sekilas saja, Adit juga tak menggubrisnya.


"ayolah kak, jangan cuekin aku seperti itu, bagaimana pun aku dan bentuk ku, aku itu tetap adikmu," kata wanita itu.


"Arum, kau ingin jadi adikku, kalau begitu kami harus jadi manusia terlebih dahulu, karena aku tak mau punya saudara makhluk astral begini," kata Adit dingin.


"tapi kenapa mas begitu jahat, bukankah sebagai saudara kita harus saling mendukung dan membantu," kata gadis itu.


"maaf tapi aku tak ingin membantumu jika itu tentang dendam yang kau bicarakan, karena aku tak mau berurusan dengan masalalu orang tua kandung ku," kata Adit tersenyum saja.


"tapi sepertinya terlambat, karena mereka sudah tau jika anak dari keturunan murni ini masih hidup, dan mereka bisa melakukan apapun demi mendapatkan mas," jelas Arum tersenyum menyeringai


Adit hanya diam tak memberikan reaksi apapun, "kamu mengancam ku Arum, kamu ingin aku melakukan sesuatu padamu, atau kamu ingin aku melakukan sesuatu padamu, jangan lupa aku bukan pria yang akan bisa bersabar Arum,"

__ADS_1


"tentu saja aku tau, tapi bagaimana jika aku memerintahkan anak buah ku untuk menyakiti salah satu dari adik angkat mu itu..." kata Arum sambil tersenyum.


Arum merasa menang karena bisa mengancam Adit, tapi tak terduga Adit malah mencekiknya hampir membuatnya kehilangan nyawa.


pria itu terlihat marah, bahkan Arum tak mengira jika Adit bisa menyentuhmu karena dia kira jika pria itu tak sehebat ini.


"kau berani menyentuh mereka, maka aku pastikan akan membuat mu mati di tangan ku," ancam Adit.


"memang kenapa, mereka hanya adik angkat mu dan aku adalah saudara mu," kata Arum dengan kesakitan.


tapi Adit tak bergeming sedikit pun, "ku bilang tarik semua anak buah mu, jika tidak aku akan membunuh mu sekarang!!" bentak Adit marah.


Arum tak mengira reaksi Adit akan semarah ini, jadi dia pun memutuskan untuk menarik kembali ular yang dia kirim.


"sudah aku lakukan, sekarang lepaskan aku, tak mungkin kamu tetap ingin membunuhku bukan," marah Arum yang seakan tak di perdulikan oleh Adit.


"dengar ini baik-baik,jangan pernah berniat menyakiti kedua adikku jika tak ingin mati, karena siapapun yang ingin menyakiti mereka akan ku habisi tanpa ampun," kata Adit yang kemudian pergi.


sedang di sekolah, Lily dan kedua temannya sedang melakukan pelajaran olahraga saat ini.


Uci dan Lily saling sikut untuk bertanya, sedang gadis itu menghela nafas panjang.


"ada apa Riya, sepertinya kamu sedang ada masalah ya?" tanya Lily yang penasaran.


"aku sedang sedih saja, kita sudah jelas tiga dan pasti membutuhkan uang banyak, belum lagi pembayaran ujian yang ya kalian tau sendiri, dan bagaimana caranya aku bisa mencari uang untuk membayar semuanya?" kata Riya sedih.


"loh bukannya selama ini kamu selalu dapat beasiswa penuh," bingung Lily.


"untuk kali ini tidak bisa karena peraturan baru, bahkan tata usaha bilang jika aku harus tetap membayar ujian," terang Riya.


mendengar itu Lily langsung bangkit dan menarik Riya dan mengajak gadis itu ke ruang kepala sekolah.


dia sempat berpapasan dengan karyawan tata usaha. melihat mereka yang berjalan ke arah ruangan kepala sekolah membuat wanita itu panik.


"hei Nuriyah Abdullah, kamu mau kemana? pak Aryan tak ingin menemui mu," kata wanita itu.

__ADS_1


tapi tak terduga, Lily yang sekarang berdiri di depannya, "memang kenapa ayah kecilku tak mau bertemu dengan keponakannya?"


wanita itu terdiam, dia tak mengira jika Lily yang selama ini selalu diam, kini berani bicara.


"tolong jaga sikap mu, aku bukan gadis yang akan tetap diam saat kamu melukai teman ku, dan aku ingatkan jika aku juga bukan murid biasa di sekolah ini," kata Lily menekan wanita itu.


"Lilyana Arkana Gilbert, apa ini kamu mengancam orang di kawasan sekolah," kata Aryan yang kebetulan sedang lewat setelah dari kamar mandi.


"ayah kecil yang apa-apaan, kenapa beasiswa Riya dicabut,bahkan dia sekarang harus membayar tiga juta untuk ujian Nasional," marah gadis itu menunjukkan kertas yang di tandai tanggani olehnya.


Aryan kaget, karena gadis itu adalah penerima beasiswa khusus, karena sering menjadi perwakilan dari sekolah dalam lomba akademis.


"apa ini Bu Latifa, saya tak pernah meminta mu mengeluarkan surat ini, kenapa anda lancang meminta uang bayaran kepada siswa berprestasi di sekolah kita,bahkan kamu tau jika murid ini sangat berprestasi," marah Aryan.


"maaf saya pak," kata wanita itu.


"kesalahan mu besar, Lily dan Riya kalian kembalilah ke kelas, biar aku menyelesaikan semua dan sepertinya kamu butuh ketua yayasan sendiri yang menjelaskan semuanya, apa kamu ingin seperti itu?" tanya Aryan yang tak habis pikir.


Bu Latifa pun mengeleng keras, kecemburuannya sudah membawanya dalam kesulitan.


dia tak mengira jika pilihannya untuk membuat surat itu atas nama Aryan akan menjadi masalah di kemudian hari.


"maafkan saya pak, saya bisa menjelaskan semuanya," kata Wanita itu


"ikut aku ke kantor dan jelaskan, jika kamu tak bisa menjelaskan, kamu dalam masalah besar tentunya," kata Aryan dingin.


dia marah karena karyawan yang memegang bagian tata usaha di sekolahnya berani mengambil keputusan dan memalsukan semuanya.


sesampainya di kantor, Aryan melempar surat itu ke meja dan dia duduk dengan melompat kaki dan menatap tajam wanita itu.


"sekarang jelaskan apa yang kamu lakukan,atau kamu ingin ketua yayasan yang lebih kejam turun tangan?"


"tidak pak, saya melakukan ini gabya cemburu pada gadis itu yang beberapa kali anda lihat dengan tatapan penuh kasih sayang," kata wanita itu.


"kamu gila apa, aku menatap dia kasihan, aku adalah tetangganya, aku tau benar bagaimana kehidupannya, dan kamu mengatakan hal semenggelikan itu,kamu ini salah satu orang terpelajar!" kata Aryan mengebrak meja kesal.

__ADS_1


wanita itu pun ketakutan melihat reaksi dari Aryan yang marah besar, "dia itu yatim piatu, bahkan setiap hari harus membantu menaruh dagangan ke warung-warung tetangga demi membantu kedua kakek neneknya yang sudah membesarkannya, dan belum lagi harus terus mempertahankan nilai-nilai miliknya agar tetap baik, kau pikir kehidupan seperti itu mudah, kenapa kamu begitu egois," kata Aryan yang benar-benar merasa bodoh mendengar alasan itu.


__ADS_2