
Adit sudah selesai jam mengajar dan memutuskan akan pulang, tapi sebuah telpon memaksanya harus datang ke kampus Lily.
Adit menjadi perhatian semua mahasiswi yang sedang istirahat atau nongkrong di area kampus.
dia langsung menuju ke ruangan untuk rapat, dari kejauhan Riya mengenali sosok itu.
"Lily, bukankah itu mas Linga ya?" kata Riya berbisik.
"iya, itu dia tapi kenapa malah ke ruang dekan, memang mau apa?" tanya Lily heran
"apa mungkin ada masalah sama yayasan ya?" kata Riya yang menebak-nebak.
"sudah duduk saja, kita makan itu lebih penting, jika kita ngurusin pekerjaan mas Adit, aduh gak kebayang aku, kamu tau itu meja belajar yang besar di ruangan khusus di kamarnya, penuh dengan tumpukan dokumen, ada yang Gilbert Corps, belum ada dokumen sekolah, ada juga yayasan dan ada banyak lagi, sepet mataku melihatnya," kata Lily dengan gayanya.
melihat itu Riya hanya tertawa, "berarti kamu harus siap-siap punya suami super sibuk dong, memang kamu kira ayah kecil mu juga tidak seperti itu, itu ruang kerja tumpukan dokumen juga segunung, ada laporan restoran dan bengkel, belum lagi masalah sekolah dan yang lainnya," kata Riya tak kalah heboh.
"alah gayamu mamcan, meski begitu kamu tidak lupa buat anak kan,tuh inget tanda merah cinta tercinta," kata Lily mencebikkan bibirnya.
"sudah kita makan deh, hari ini aku traktir, tapi mana Retta," kata Riya yang heran karena tak melihat gadis itu dari tadi.
"iya yah, mana tuh bocah," kata Lily yang mencari sisik Retta.
ternyata Retta baru keluar dari perpustakaan, Lily langsung memanggilnya dengan melambaikan tangan.
akhirnya gadis itu datang ke tempat teman-temannya, "kalian disini? ku kira ada di kelas?"
"jangan terlalu rajin, kami mengisi perut sebelum pelajaran dosen killer itu datang, kamu makan juga, lumayan ini istri kepala sekolah yang mentraktir,"
"boleh kalau begitu, mie ayam saja aku," kata Retta.
"mang Jo, mie ayam spesial nuklir tiga dsn minumya es teh tiga," kata Riya.
"baiklah tunggu sebentar," kata penjualnya.
ternyata rombongan kakak senior juga lewat, pria itu melihat ke arah meja ketiga gadis itu.
tapi dia tak berani menganggu gadis itu karena bisa jadi masalah besar, karena tangannya saja belum sembuh akibat di banting oleh Adit semalam
dia tak mengira ada pria yang sebegitu kejam dan tanpa ampun, "hei bukannya itu kakak senior yang pas ospek terus mengerjai kalian?"
__ADS_1
"siapa? si kak Rico? dia tak akan berani ganggu karena semalam sudah di hajar habis-habisan oleh kekasihku, jadi dia tak akan berani lagi," kata Lily tersenyum memainkan ponselnya.
"wah gak babak belur gitu kok," kata Riya yang merasa aneh
"iya gak babak belur, tapi tangannya mungkin akan salah bentuk dan wajahnya juga terluka kalau gak salah," jawab Lily.
"apa? memang calon suamimu itu tukang tinju ya?" kaget Retta.
"bukan kok, dia cuma seorang guru BK di yayasan pendidikan Noviant," kata Lily.
tapi Retta tak percaya, pasalnya tak mungkin seorang guru BK bisa seperti itu.
Rico menghampiri meja ketiga wanita itu, Lily pun mencium aroma yang cukup menganggunya belum lagi bentuk arwah yang nemplok di punggung Rico.
"hei, aku boleh gabung," kata pemuda itu.
"kamu tak kapok semalem hampir mati masih berani sok kenal dengan ku," kata Lily yang kesal.
"memang kenapa, toh kekasih mu yang posesif itu tak ada di sini, karena di sini aku yang berkuasa," kata Rico.
"cih mending pergi deh, kamu sebelum mendekati seseorang hilangin dulu tuh bau ketek, bikin orang mau muntah," kata Lily yang mengatakan sejujurnya.
"tapi muka ku ganteng tau, dan uang ku banyak,"
"tak minat, itu uang orang tua mu, dan lagi keluarga ku lebih kaya sari mu, sudah pergi sana jangan menganggu kami," usir Lily.
"dasar gadis sombong," kata Rico yang menarik jilbab Lily.
tapi Lily menahan jilbabnya, agar tak lepas, sebuah tangan menyentuh tangan Riko yang ternyata masih berfungsi.
"kamu belum kapok ternyata," kata Adit yang langsung mendorong Rico hingga terpental jauh.
"hei!!" teriak semua teman Rico.
"kalian mau mati juga! berani menganggu calon istriku," jaya Adit dengan suara dingin yang melihat Lily.
"dasar sialan," kata seseorang yang ingin memukul Adit.
Adit berbalik dan langsung menendang pria itu cukup keras hingga membuatnya terpental jauh.
__ADS_1
"semalam aku sudah memperingatkan dirimu, aku tak segan padamu meski kamu itu keponakan dekan, karena aku adalah orang yang tak bisa di ganggu," kata Adit dengan dingin.
"pak nanti yang rusak di hitung dan saya akan menggantinya," kata Lily yang tau jika pedagang itu kaget melihat kejadian itu.
"iya non," jawab pedagang itu.
pasalnya satu meja hancur karena Adit yang nendang satu orang begitu saja
"kita lihat aku ingin tau jika kamu itu pembohong," kata Rico yang langsung menelpon omnya.
"halo om-" kata Rico kaget saat ponselnya di rebut Adit begitu saja, "datang ke area pujasera kampus, jika tidak datang dalam dua puluh detik, kepala keponakan mu akan aku pecahkan," ancam Adit yang langsung melempar ponsel itu kearah Rico.
Lily mencoba untuk menenangkan kekasihnya itu, karena mereka sudah jadi tontonan semua mahasiswa.
"sudah mas, jika opa tau dia akan marah dan memecat semua dekan," bisik Lily.
"kalau begitu sama saja dengan apa yang akan aku lakukan bukan," kata Adit dengan lembut.
dia mendorong Lily pelan untuk bersama Riya, dan Adit mulai melepaskan jas yang dia gunakan, dan menggulung lengan kemejanya.
dia langsung berdiri di depan Rico, "dua puluh detik om mu selesai, jadi memilih tangan mu yang patah atau lehermu," kata Adit dingin.
"jangan berani mendekat, aku akan membuat mu menyesal karena semua orang yang aku kenal adalah orang penting," kata Rico ketakutan.
tapi Adit tak peduli dan langsung menendang pria itu, dan rico pun jatuh terkapar.
dari jauh ada seorang pria yang cukup tua dan tengah berlari dengan ngos-ngosan.
"siapa yang berani mengacau di kampus, dan berani mengancam dekan," kata pria itu dengan sombong.
"aku yang melakukannya," saut Adit dengan dingin.
pria itu kaget melihat Adit, "loh mas Adit, saya kira sudah pulang, dan kenapa dengan Rico?"
"aku susah bilang aku tak ingin melihat ada yang bertingkah di kampus ini, terlebih menganggu kekasihku, sekaligus cucu pemilik yayasan kampus ini, sedang dengan lancang pria itu dari kemarin malam tak tau diri, kamu sebagai omnya tak bisa mendidiknya, lebih baik kamu aku pecat saja, lagi pula kampus ini tak ada kemajuan di tangan mu, jadi lebih baik besok aku menerima surat pengunduran diri mu, atau perlu aku memecat mu tanpa hormat, ingat semua kartu as mu ada di tangan ku," kata Adit yang dengan santai pergi dari kampus.
"mas aku masih ada kelas," kata Lily yang di tarik pulang.
"mamcan titip absen, bilang Lily di bawa oleh Aditama, dan aku ingin lihat siapa yang berani bicara," kata Adit dingin
__ADS_1