
Linga masih belum bisa terima, Adit masih mencoba untuk menenangkan adiknya itu.
"sudah atuh dek, jangan ngambek seperti ini, nanti gantengnya ilang loh, itukan anak dari opa, jadi jangan marah dong, kamu tak kasihan melihat opa dan Oma ya, lihatlah tadi Oma kaget dan sedih saat melihat mu seperti tadi," kata Adit membujuk adiknya itu.
"tapi Linga malu mas..." tangis bocah itu masih sesenggukan.
"kenapa harus malu, bukankah lucu ya kita punya om yang malah seperti anak mas, ha-ha-ha," kata Adit membuat perumpamaan.
"iya deh, Linga gak jadi sedih..." kata bocah itu.
Adit tersenyum dan mengajak adiknya itu bertemu semua orang. "sudah sekarang minta maaf ya, dan sekarang kita harus jaga calon om kita, benerkan?"
"iya, ayo kita keluar mas," ajak Linga yang sudah tenang.
keduanya keluar dan Linga langsung memeluk Oma utami yang nampak sedih.
Adit mengacungkan jempolnya pada semua orang, "Oma... Linga minta maaf, seharusnya Linga senang mau punya on baru, bukan malah sedih, kalau Linga punya mbak Lily dan mas Adit, mami jadi punya adik lagi, sekarang Linga janji akan jaga om kecil ya," kata Linga dengan semangat
"terima kasih Linga... bagaimana pun kamu tetap kesayangan Oma kok," kata Oma utami.
semua orang tak mengira Adit begitu mudah membujuk Linga, "ya siapa yang tak terbujuk oleh mas Adit, bahkan Kuntilanak saja bisa jadi pengemar setia loh," kata Lily mencibirnya.
"memang kenapa nona, anda iri karena saya bisa menggombali kuntilanak di banding anda," jawab Adit yang duduk di samping Arkan.
"opa... lihatlah mas Adit begitu menyebalkan, dia selalu saja seperti itu padaku.." adu Lily dengan suara yang di buat sedih.
"ssttss ... sudah sudah jangan sedih,Adit jangan begitu sama adiknya, kamu harus menjaganya ya le," kata opa Alan.
"tebang opa, seperti janjiku, oh ya opa aku ingin melaporkan sesuatu, ini kemarin aku dan om logan berhasil menang tender besar," kata Adit yang bangkit dan mengambil tablet miliknya.
"ayah... mau tablet seperti punya kakak," kata Lily.
"beli sendiri, kamu punya tabungan banyak kan," kata Arkan enteng.
"ih.. itukan buat kuliah di luar negeri karena aku ingin sukses seperti kak Adit," terang Lily.
"memang yakin Lily, orang masih cariin mami terus gitu mau kuliah di luar negeri," ledek mami Tasya.
__ADS_1
"beneran mami, tapi papi dan kak Adit harus menarik semua kekuatan milikku, karena aku ingin hidup normal," terang Lily.
"itu bisa di atur," jawab Arkan tersenyum.
opa Alan kaget melihat laporan yang di buat Adit begitu jelas hingga mudah di pahami.
"kamu memang paling bisa di andalkan, dan tak salah menunjuk mu dan logan untuk menjalankan semua usaha ku," kata opa Alan.
"terima kasih atas kepercayaannya opa," jawab Adit yang tersenyum.
sebenarnya opa Alan sudah bilang pada Adit untuk mengurus usaha yang dia berikan padanya.
tapi Adit bersikukuh membantu untuk mengembangkan perusahaan milik opa, meski itu nanti akan di berikan pada kedua cucu kandungnya.
tapi yang Adit belum tau, jika Tasya juga telah mengatasnamakan beberapa usaha yang di berikan ayahnya itu untuknya.
"sudah sekarang ada yang mau makan, atau di buatkan sesuatu, saya siap membuatkan makanan untuk para orang tua tercinta saya ini," kata Adit.
"boleh pangsit rebus dengan kuah bening seperti yang pernah kamu buatkan dulu Adit," kata Oma utami.
"baik Oma, saya siap melaksanakan, dan cewek cepat bantu aku," kata Adit memanggil Lily.
"habis hanya kamu yang bisa di perintah, sudah ayo bantu aku, dan kamu adalah Adit tersayang ku jadi mau ya cantik bantuin mas?" kata Adit menggoda Lily
"baiklah, jika kak Adit bicara semanis ini bagaimana bisa aku menolak," jawab Lily.
mereka pun segera ke dapur dan mulai memasak, beruntung di freezer ada udang dan ayam fillet.
Adit dengan cekatan langsung membuat adonan sedang Lily merebus sawi putih untuk bungkus dan tak lupa memotong beberapa kulit pangsit juga.
saat adonan selesai, Adit mulai mengisi kita pangsit dengan cekatan, bahkan dia bekerja dengan sangat cepat.
tak hanya itu, Adit sudah mulai mengukus bagian pertama yang kulit pangsit, dia membuat cukup banyak.
sedang Lily membantu mengisi yang mengunakan kulit sawi putih, kini Adit sibuk dengan membuat kuah dan sambal serta cuci piring.
akhirnya dapur tetap bersih mereka berdua selesai masak, Lily pun terus merasa senang saat memasak bersama Adit.
__ADS_1
"ya Allah seandainya nanti dia jadi Suamiku,pasti aku akan jadi wanita paling bahagia kan di dunia, bagaimana tidak, agama punya dan fasih, ilmu pengetahuan juga yang terbaik, dan dia juga chef yang handal," batin Lily.
"kenapa kamu terus menatap ku seperti itu, lebih baik mulai gulung terus mas mau selesai ini," tegur Adit.
"iya mas, ini juga mau selesai kok," jawab Lily.
Adit bahkan sempat membuat pentol juga, pria itu bener-bener kerja dengan sangat cepat.
dia merasa ada sesuatu yang dia rasakan, "pergi jangan menganggu... atau aku akan membuat mu kesakitan meski kamu hanya menyentuhnya dengan ekor mu," suara batin Adit.
"dasar pria aneh, kenapa kamu begitu melindungi gadis ini yang mungkin hanya beban untuk mu," saut Ki Dwisa.
"urus saja urusan mu," suara batin Adit.
ular merah itu pun pergi begitu saja, dia tak berani mengusik Adit karena pria itu bukan tandingannya.
dia pun pergi, dan Ki Sesnag pun menertawakan ular merah itu. "aturan pertama rumah ini, jangan pernah menganggu Lily dan Linga saat ada Adit, karena dia tak segan untuk melukai siapapun demi melindungi kedua adiknya itu," terang Ki Sesnag.
"kenapa bisa begitu, padahal semua orang tau jika Adit hanya anak keluarga ini," kata ku Dwisa.
"karena pemuda itu adalah kebanggaan keluarga ini, meski dia mati dia tak akan pernah kecewa selama bisa melindungi keluarga ini," terang Ki Sesnag.
"dia memang pria yang keras sepertinya, bahkan bisa berpikiran seperti itu, saat dia bisa lari dan hidup sendiri," kata makhluk itu tak percaya.
"kamu tak akan ngomong seperti itu saat tau dan melihat perjalanan mereka selama ini," kata Ki Sesnag.
Ki Dwisa bingung, ada Linga yang keluar membawakan makanan, "ini tadi di suruh mas Adit, semoga kalian suka,"
"terima kasih Linga, dan berhenti membuatku berbohong seperti kemarin," kata Ki Sesnag.
"iya Ki, maaf ya..." jawab bocah itu.
tak butuh waktu lama semua orang menikmati semangkuk bakso yang sangat enak.
"cocok nih di jual, bagaimana jika di buat peluang usaha saja, bukankah kami bisa menjual ini di kota," kata Arkan.
"bisa saja papi, tapi itu berarti aku harus meninggalkan desa ini dan pindah ke kota," kera Adit terdengar sedih.
__ADS_1
Lily yang awalnya menikmati, tiba-tiba dia menjadi kesal dan menaruh sendoknya dengan keras.
"Lily tak sopan," tegur Arkan.