
"kalian akan celaka!!" teriak Lily.
benar saja tiba-tiba lampu kelas tiba-tiba mati hidup dengan sendirinya itu terulang berkali-kali.
"kalian semua keluar dari kelas," kata Lily yang takut jika semua temannya ikut terseret.
"cepat, jangan cuma diam, cepat keluar," kata Anand memerintahkan teman kelasnya.
semua siswa dan siswi pun panik keluar berhamburan, Lily tetap di kelas untuk membantu mereka.
"aku tidak bisa keluar, tolong aku!!" panik ketiga orang itu.
"mereka telah membuatku mati!!" teriak arwah itu pada Lily.
"tolong jangan marah seperti ini kita bisa membicarakan ini baik-baik ini," kata Lily.
"tidak!!!" teriak hantu itu lagi.
tiba-tiba lampu dan kaca kelas pecah, Lily belum sempat bergerak menghindar, jadi Lily memilih berjongkok dan melindungi kepalanya.
tapi seseorang memeluknya dengan erat, aroma itu Lily mengenalnya, pelukan hangat lengan kekar itu Lily mengenalnya.
dia pun segera membuka mata dan melihat ke arah orang yang memeluk tubuhnya.
dia tak percaya dengan apa yang di lihatnya, pria itu adalah pria yang sudah dia rindukan.
Lily menangis tak percaya sambil terus mengenggam baju pria itu, "mas Adit..."
"kamu akan baik-baik saja dek," bisiknya sambil mengecup kening Lily.
Adit pun membantu Lily bangun, setelah itu dia menaruh lily di belakangnya dan kini dia menatap hantu gadis muda itu.
"kamu balas dendam pun tak akan membuat kamu tenang dan bisa menyebrang ke alam kekal, memang apa yang kamu inginkan," tanya Adit.
"aku ingin mereka mengakui semuanya, kamu tak bisa membantuku," kata arwah itu marah menantang Adit.
"aku bisa, tapi tolong tenang," kata Lily.
__ADS_1
"tidak dek, kami bisa dalam bahaya, aku tak ingin kejadian terakhir terulang," kata Adit menahan Lily.
"tapi bagaimana aku bisa membantu mereka agar mereka tak ada yang terluka, aku lebih kuat sekarang mas, tolong jaga aku seperti janjimu," kata Lily mengenggam tangan Adit.
"kalau begitu jangan lepaskan tangan ku dek," kata Adit yang tetap menggenggam tangan Lily.
gadis itu mengulurkan tangannya pada arwah gadis yang mati penasaran itu, arwah itu masuk kedalam tubuh Lily.
"kalian biadab, kalian hewan, bagaimana bisa kalian memberikan aku pada om-om mesum itu, hingga mengorbankan aku sebagai wanita pemuas nafsu, bahkan aku mati di tangan mereka, dan kalian malah bersenang-senang dengan uang itu, kalian jahat!!!" teriak Lily yang sudah kerasukan.
"maafkan aku Wina, seharusnya aku menolong mu bukan hanya melihatmu dari jauh ... aku merasa bersalah... maafkan aku..." tangis Lia.
"bukan kamu yang salah, seharusnya aku yang percaya dengan mu, kamu sudah mengingatkan aku untuk hati-hati pada mereka, tapi aku yang tak percaya dengan mu hingga akhirnya aku seperti ini, terima kasih dan maaf. tapi aku ingin mereka mati merasakan apa yang aku rasakan saat kematian ku!" teriak arwah itu di tarik keluar oleh Adit.
Lily pun jatuh lemas, dan Adit dengan segera menopang tubuh adiknya itu.
"sekarang tenang, aku dan adikku akan membantu mu, tapi tolong tenang dan biarkan mereka pergi, karena mereka mulai sekarang, mereka tak akan bisa berjalan lagi," kata Adit mengendong Lily.
"baiklah," jawab arwah Wina.
pasalnya Lily pingsan dan akan di larikan ke UKS, dan benar saja keempat orang itu bisa untuk lepas dari permainan papan itu.
"seseorang tolong kami, kaki ku tak bisa di gunakan untuk berjalan, tolong...." tangis keempatnya.
Aryan kini tak percaya dengan apa yang dia lihat, akhirnya dia meminta para siswa membantu teman mereka untuk di bawa pulang.
ternyata ketiga orang itu tak tinggal bersama orang tua mereka melainkan tinggal di kosan bebas.
sedang Lily berada di sebuah kamar kost, dia bisa melihat teman-teman sekelasnya sedang berpesta.
"hei ... sekarang kita harus mencari anggota baru untuk di jual dong,kalian tak ingat permintaan om Nirwan," kata Sasa.
"iya inget atuh sayang, tapi gadis kesukaan dari om Nirwan itu sangat sulit di cari," kata Andi.
"bagaimana kalau Wina, dia itu termasuk paling cantik kan, setidaknya tidak harus Lily karena dia itu anak ketua yayasan, lagi pula aku dengar jika Wina itu seorang anak yang tak punya uang dan orang tua," kata Lola.
"atau bagaimana dengan Riya, dia juga cantik dan tubuhnya juga bagus, meski sering mengunakan baju cukup longgar," saut Andi.
__ADS_1
"kamu gila, bisa-bisa kita berurusan dengan Lily kalian juga tau jika Riya lebih dekat dengannya dari pada Uci," terang Sasa.
"ya kamu gebar, tapi yang aku dengar Uci itu sebenarnya juga tak sebaik itu, dia itu anak dari istri kedua juragan Wawan, dan dulu dia itu bahkan pernah tak di terima di keluarga itu,tapi karena istri juragan terlalu baik makanya dia itu di terima kembali," kata Lola.
"anjrit,aku gak nyangka, jadi kita susah setuju untuk membujuk Wina dan bagaimana pun caranya kita harus berhasil," kata Andi.
mereka pun bersulang mengunakan bir kalengan, ketiganya ini memang anak-anak yang tak bisa di atur.
Lily pun berpindah lagi, kini di dalam kelas kedua gadis itu mendekati Wina.
dia akan bisa melihat dirinya yang sibuk dengan dua temannya saja, Wina pun terbujuk dengan rayuan dari Sasa dan Lola.
bahkan Lia yang sebagai temannya saja tak tau akan keputusan gadis itu.
"kita berhasil untuk mendapatkan gadis bodoh itu, ternyata dia juga mudah di bodohi, terlebih saat aku mengatakan akan mengajaknya bekerja agar bisa membayar uang ujian Nasional yang cukup besar," kata Lola.
"bagus," jawab Andi.
tiba-tiba Lily di tarik oleh arwah Wina, "kenapa sekolah hanya memberikan beasiswa pada murid yang berprestasi, kenapa tidak pada murid yang miskin seperti ku?" tanya Wina.
"kamu salah paham, semua murid yang kekurangan mendapatkan bantuan pemotongan lima puluh persen dari apa yang harus di bayarkan, apa kamu tak pernah heran, jika kamu tak mendapatkan bantuan, apa bisa kakek nenek mu membayar biaya, bahkan ayah kecil dan papi mengeluarkan uang yang tak sedikit demi membuat kalian semua bisa terus sekolah!" marah Lily.
arwah Wina pun diam, "berarti aku di tipu oleh mereka," tangis arwah itu.
"tolong jangan menangis, aku akan mencoba untuk melihat apa yang mereka lakukan hingga kamu bisa mati tak tenang begini?" tanya Lily.
dia pun kini berpindah ke ruangan kosong, ternyata dia kaget melihat Wina yang sudah di ikat di atas ranjang.
dan di atas ranjang terdapat lambang sebuah ular yang melilit sebuah keris.
"apa petinggi keluarga Cokro Hadikusumo sudah datang?" tanya seorang pria yang tak pernah di lihat oleh Lily.
"tuan Nirwan, tuan Bimasena Cokro Hadikusumo susah datang," kata seorang pria.
Lily pun kaget melihat pria itu, pria yang semua rambutnya hampir memutih,datang sambil tersenyum menyeringai.
"kalian sudah pastikan dia itu perawan?" tanya pria itu.
__ADS_1
"iya Ki Ageng," jawab semua pria di ruangan itu.