Lily

Lily
jalan-jalan mesra


__ADS_3

"akhirnya kalian datang, itu ibu kalian sudah menunggu, ayo masuk semuanya," kata opa Alan.


mereka pun segera masuk kedalam apartemen, dan ternyata Oma sedang duduk menyiapkan cemilan.


"halo ibu," sapa mami Tasya.


"halo Tasya, ya ampun akhirnya aku bisa memeluk dan bersama kalian lagi," kata Oma utami dengan senang hati.


sedang Linga memilih langsung ke ruang tv untuk menonton tv, "ya ampun ini anak," kata papi Arkan yang melihat putranya itu.


"sudahlah papi, mungkin dia ingin merenggangkan ototnya yang tidur di dalam mobil," kata Adit.


Oma utami kaget melihat semua bawaan itu, bahkan ada rendang untuk setahun mungkin karena begitu banyak.


"kalian ini mau berkunjung atau mau jualan, kenapa bawaan kalian sebanyak ini?"


"gak papa Oma, siapa tau calon om kecil ingin makan rendang seperti opa jadi kami membawakannya, dan kapan hpl nya kok perasaan lama banget ya gak launching-launching adik ku ini..." kata mami Tasya.


"harusnya besok, tapi sampai hari ini tak ada tanda-tanda jadi nanti malam rencananya kami akan ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan atau jika mungkin harus di lakukan tindakan operasi, agar bisa segera di lakukan," kata opa Alan.


"owh begitu, baiklah aku akan membantu bersiap, atau Semuanya sudah siap?" tanya mami Tasya.


"sudah siap, jadi tenang saja, dan sekarang kalian temani kami saja," kata Oma utami.


"baiklah, tapi sepertinya aku harus membelikan iPad dulu, jika tidak aku tak akan bisa tidur," kata Adit yang tak mau harus terus di teror oleh adik iparnya itu.


"aku boleh ikut?" tanya lily pada suaminya itu.


"tidak mau, mbak Lily menyebalkan kalau ikut, pasti akan menempel terus menerus pada mas Adit, dan aku akan jadi obat nyamuk kalian, dan itu menyebalkan," kesal Linga.


"tidak untuk kali ini, mbak boleh ikut ya?" mohon Lily.


Linga pun mengangguk dan mereka berangkat bersama, meninggalkan para orang tua.


mereka menuju ke salah satu mall terbesar di Surabaya, dan Linga terlihat begitu senang.

__ADS_1


mereka ke tujuan pertama yaitu membelikan bocah itu iPad, setelah dapat dan sudah sesuai keinginannya.


mereka pun kini beranjak pergi menuju ke food court untuk membeli cemilan mumpung di Surabaya.


"sudah sekarang mau beli apa lagi, ras, sepatu atau apa lagi Linga, mumpung kita disini," kata Adit


"aku mau beli kaos tapi yang diskon gak papa mas, tapi beli Lina untuk teman ku semua, boleh tidak," kata Linga.


"tentu, dan kamu sayang?" tanya Adit.


"aku ingin beli beberapa baju saja, untuk ke pesta dan jika ada aku ingin belajar mengenakan cadar juga," kata Lily


"Alhamdulillah..."


mereka ke distro untuk membeli kaos untuk Linga dan teman-temannya, serta tak lupa membeli topi juga.


mereka memilih beberapa kaos dan topi, setelah selesai, kini mereka berpindah ke toko khusus pakaian muslimah.


dan disana Lily mencoba beberapa gamis yang menurutnya bagus dan sesuai dengan kesukaannya dan yang pasti bukan warna hitam.


sedang Adit mengambil sebuah cadar dan membawanya kepada Lily.


dan benar saja karena warna mata, Lily seperti gadis Arab, bahkan dia nampak begitu cantik dan anggun saat ini.


"maaf mbak aku ingin cadar model ini dalam warna yang netral ya kecuali putih, dan model yang bisa di gunakan untuk pesta yang ini," kata Lily


dia pun sudah kembali mengenakan baju yang tadi dia gunakan, dan mengambil satu cadar dan langsung memakainya saat ini juga.


Adit pun dengan senang hati melihat perubahan baik dari istrinya, sedang Linga masih melihat beberapa kerudung yang terlihat bagus.


"kamu mau membelikannya untuk Shafa, Linga?"


"tidak usah mas, itu akan berlebihan, karena kita tak bisa berharap pada manusia," kata Linga.


"hei ucapan itu, siapa yang mengajarimu seperti itu, memang kita tak boleh berharap sesuatu pada manusia, tapi ini hadiah jadi tak usah berpikir sedalam itu Linga," kata Adit tersenyum

__ADS_1


"baiklah tapi aku tak ingin membelikannya," sakit Linga yang langsung pergi.


dia sudah keluar duluan bersama dengan Lily, Adit menunjuk beberapa jilbab berwarna cerah beserta cadarnya.


Adit berdoa semoga nanti Shafa menyukai tiga jilbab syar'i itu, dan setelah itu dia pun bergabung dengan Lily dan Linga.


mereka juga mampir ke toko penjual kue lumpur legendaris di kota pahlawan itu.


ketiganya duduk menunggu antrian, Lily membantu Linga mengoperasikan iPad baru itu.


sedang Adit yang mengantri, tapi saat pria itu masih sibuk dengan ponselnya seseorang menepuk bahunya.


Adit pun menoleh dan menajamkan matanya, "hei... kamu disini, bagaimana kabarnya," kata Adit yang langsung berpelukan dengan pria itu.


"Alhamdulillah, aku baik-baik saja, sekarang kerja dimana rek, ya Allah murid paling pintar se sekolah kita duku ini," puji pria berseragam loreng itu.


"cuma seorang guru BK di sekolah kita duku, sedang mas Afif sudah jadi abdi negara sesuai keinginannya dulu ya," kata Adit.


"iya bung, sendiri saja ke sininya? oh ya ini perkenalkan calon istriku namanya Farhana,"


"haloo... aku juga bersama istriku dan adik iparku, itu mereka sedang duduk di sana sambil membeli es," kata Adit menunjuk tempat istrinya.


kini giliran Adit yang membeli kue lumpur itu cukup banyak, dan baru ke tempat Lily bersama temannya itu.


"jadi apa kamu jadi menikah dengan adik angkat mu itu, yang dulu begitu sangat menempel padamu?" tanya mas Afif.


"tentu saja, karena dia adalah cinta pertama ku tau," kata Adit dengan bangga.


"Lily, ingat mas Afif, lihat siapa pria ini?" panggil Adit yang langsung merangkul pundak istrinya itu.


"ah teman mas Adit yang usil itu, wah benar-benar jadi abdi negara," kata Lily tersenyum.


"wah tak ku sangka kalian menikah di usia yang bahkan belum dua puluh tahun," kata mas Afif.


"eh bukannya itu teman mas, harusnya dia berusia sana dengan mu bukan dua puluh lima tahun bukan?"

__ADS_1


"tentu saja tidak, karena dia lompat kelas beberapa kali, dan aku satu kali tak naik kelas, jadi kami sekarang kamu mengerti sayang," kata mas Afif.


istrinya pun mengangguk saja, ternyata ada hal yang seperti itu.


__ADS_2