
papi Arkan sudah keluar setelah sholat Isyak, pria itu sekarang berada di sebuah pohon asem yang cukup besar, dia duduk sambil menikmati tontonan itu.
melihat sebuah kebakaran rumah yang seperti tak bisa di padamkan, bahkan dia mobil damkar datang tapi tak bisa menjinakkan api.
sedang di tempat lain beberapa warga membantu Retta, dia pun sangat sedih melihat mobil itu akhirnya bisa di padamkan dengan air dari sungai.
dia hanya bisa menangis melihat sosok sahabatnya yang mati dengan mengenaskan.
"Ali... sudah ku katakan... kamu salah mencari musuh..." lirih gadis itu.
Adit hanya melihatnya dari jauh, kemudian dia pun pergi, melihat sosok pria itu Retta berlari dan langsung menarik pria berbaju Koko berwarna putih itu.
tapi saat pria itu berbalik dia kaget karena itu bukan Adit, melainkan seorang pria lain.
"ada apa mbak?"
"maaf saya salah orang," kata Retta malu.
tapi saat wanita itu diam, seseorang membisikkan sesuatu,"jangan bertingkah atau kamu bisa bernasib sama dengannya, terutama menganggu wanita ku,"
Retta menoleh dan kaget saat tak melihat siapapun di belakangnya, dia pun bergegas pergi untuk ikut mobil jenazah yang membawa Ali ke rumah sakit.
Adit hanya tersenyum dari jauh, dia pun pergi dari tempat itu dan langsung ikut duduk di samping Papi Arkan.
"papi minta dia berhenti, para warga sudah mulai curiga karena api sudah dua jam berkobar dan hanya melalap rumah pria itu," kata Adit.
"sayangnya aku tak ingin mengakhirinya karena aku ingin melihat mereka kesulitan dulu, terlebih mereka yang sering bicara seenak jidatnya sendiri," kata papi Arkan.
Adit mulai berdoa dan hujan pun turun dengan derasnya, papi Arkan melihat pemuda itu.
"dasar bocah sialan, kenapa ikut campur?" kata papi Arkan dengan sedikit kesal.
sedang Adit hanya tersenyum dan turun dari pohon asem itu, bahkan dia mendapatkan asem matang cukup banyak.
papi Arkan juga turun dari pohon itu, dari belakang muncul sosok Miss Kun dengan wajah marah.
"kalian menyebalkan," suara hantu wanita itu.
__ADS_1
Adit dan Arkan menoleh, bukan ketakutan Keduanya malah tertawa melihat penampilan sosok kuntilanak merah itu.
"ha-ha-ha, kamu kenapa mis Kun kok lepek begini, gak lucu banget ada kuntilanak lepek, rambut mu capek tuh," ledek Adit.
"gak lepek adit cuma gak ada waktu ke salon saja, salonnya bubar ya Miss Kun," saut papi Arkan juga.
"kalian menyebalkan, dasar pria semua itu sama, tukang bully dan menganiaya wanita, hi-hi-hi-hi..." kata kuntilanak yang terbang menjauh.
baru juga beberapa puluh meter, kuntilanak itu malah tersambar petir dan auto gosong.
bukan kasihan papi Arkan dan Adit malah tertawa makin menjadi, bahkan ada sosok hitam di belakang mereka pun tak pengaruh.
"dasar manusia suka menganggu," suara besar itu dengan lantang.
Adit tersenyum melihat genderuwo itu, "halo om... mau aku botakin lagi,"
genderuwo itu auto kena mental saat Adit tersenyum, dia pun duduk meringkuk di pojokan sambil menangis membuat lingkaran.
"bocah sialan ini lagi, butuh puluhan tahun untukku menumbuhkan rambutku lagi..." lirih genderuwo itu sedih.
sedang papi Arkan mengeleng mendengarnya, ya Adit dari dulu memang terlalu berani hingga apapun yang dia penasaran akan di lakukan.
keduanya sampai di rumah dan terlihat Lily, mami Tasya dsn Linga sedang bermain karambol di teras.
"alah ini udah pada tau kok malah main hujan?" kata mami Tasya
"tadi habis cari asam di pohon di kebun, lumayan ini buat cemilan kami mandi dulu," kata papi Arkan.
"baiklah, nanti sekalian buat susu hangat dan camilan ya papi..." kata Lily.
"hei minta calon suamimu," kata papi Arkan tersenyum.
situasi desa benar-benar sedikit kacau tapi tak ada yang curiga jika itu ulah dari dua pria berbahaya ini.
sedang di sebuah halte di dekat kampus,seorang gadis masih menunggu mobil online pesanannya.
dia sudah mulai keinginan karena hari ini memang ada acara di kelasnya jadi dia pulang sangat telat.
__ADS_1
tapi saat gadis itu menunggu, sebuah mobil polisi berhenti di depannya.
saat kaca terbuka, gadis itu menghela nafas lega ternyata itu adalah Nino teman kakak-kakaknya.
"Husna belum pulang," tanya pria itu menghampiri gadis cantik itu.
"iya mas, masih nunggu mobil online dan tenyata di cancel barusan, sekarang aku bingung mau naik apa, karena ayah juga sedang tak di rumah," kata Husna yang sudah mulai menggigil.
Nino melepaskan jaketnya dan memberikannya pada Husna, "kami antar, kebetulan aku ada keperluan juga dengan adik mu,"
"ada apa dengan Aluna? apa dia terlibat masalah lagi?" tanya Husna khawatir.
"tidak ada, nanti kamu akan tau, sudah ayo ini makin malam dan tak baik gadis muda seperti mu didik sendirian di sini," kata Nino tersenyum lembut.
Husna pun ikut kedalam mobil polisi dan Nino ternyata bersama dengan dua orang lainnya dan yang satu seorang polwan.
"memang ada apa dengan Aluna, semenjak dia di skors, dia selalu saja bersikap aneh," tanya Husna.
"sepertinya adik mu sedikit ketakutan, karena temannya tertangkap sedang pesta narkoba dan mereka semua menyebut Alina juga, karena aku menghormati ayah jadi aku ingin memastikan sesuatu, toh aslinya mereka hanya ingin mengikuti sertakan adik mu," jawab Nino
dua bawahan Nino hanya merasa aneh, sejak kapan pimpinan mereka bisa sebaik ini pada lawan jenis dan ini lagi gadis muda.
"kamu sendiri kenapa belum pulang Jan segini?"
"tadi ada kelas sore dan ternyata kuis mendadak, setelah itu ada perayaan ulang tahun dosen kesayangan, jadilah aku makin telat pulang, tapi bisakah aku minta pendampingan dari salah satu kakek ku?" tanya husna yang takut Aluna syok.
"boleh tapi jangan Arkan karena aku sedang tak ingin berurusan dengan pria gila itu," kata Nino yang benar-benar lelah.
"baiklah kalau begitu semoga mas Faraz sedang senggang, dan aku bisa melihat bayi Abrar juga," kata Husna senang.
"kenapa tak memiliki bayi sendiri?" tanya Ryan yang menjadi supir kali ini.
"hei apa katamu, dia belum menikah, dasar pikiran mu itu?" kata Nino tak suka mendengar gurauan dari anak buahnya itu.
"tak ada yang mau menjadi suami gadis seperti ku kak, karena aku bukan gadis sempurna seperti yang lainnya," kata Husna
"jika kamu mau aku bisa menjadi imam mu Husna," batin Nino yang merasa sedih mendengar ucapan gadis cantik itu.
__ADS_1
bukan tidak ada yang mau meminang, tapi Faraz terlalu melindungi adiknya itu hingga tak gampang lelaki datang meminang.