Lily

Lily
orang baik


__ADS_3

"ayo mas antar ya," kata Adit yang ikut turun.


dia ingin memastikan jika bocah itu sampai dengan selamat, pasalnya bocah itu membawa uang cukup banyak.


"assalamualaikum..." salam Adit dan bocah itu.


"waalaikum salam... iya siapa?" kaget ibu itu saat membuka pintu.


wanita itu terpaku melihat Adit, "ibu ini saya dapat uang banyak, soalnya dagangan saya di beli masnya," kata bocah itu.


"ah terima kasih mas, sudah membeli dagangan dan mengantar putraku," kata ibu itu.


"iya Bu, dan ini ada sedikit untuk anak-anaknya, kalau begitu permisi ya Bu," kata Adit pamit.


"iya mas, terima kasih," jawab wanita itu.


Adit pun pergi bersama kuntilanak merah yang selalu mengikutinya, tapi kuntilanak itu tau jika dia tak akan bisa masuk ke dalam rumah Arkan maupun rumah Adit sendiri.


"wah temen baru nih, kamu baru disini cantik," goda genderuwo yang stay di depan rumah keluarga Arkan itu.


"jangan ganggu ya, aku kesini itu ngikutin cowok ganteng tadi,"kata kuntilanak merah itu.


"hahahaha... kamu lucu ya, kamu gak tau ya jika mas Adit saja tak tertarik dengan perempuan normal, kenapa mau suka kuntilanak macam kamu," kata genderuwo itu.


"baiklah kalau begitu," Jawab kuntilanak itu tak peduli.


Adit masih mencuci kakinya karena baru dari luar rumah, tapi saat akan masuk dia sudah melihat Lily berkacak pinggang.


"ada apa dek? kamu gak belajar buat ujian," tanya Adit yang langsung mencoba masuk kedalam rumah.


tapi Lily menahan kakaknya itu, "mas dari mana, kenapa baru pulang, memang mencari apa sih, hingga pergi begitu saja," tanya Lily.


"tidak cari apa-apa, sudah ayo masuk sudah malam," kata Adit yang langsung merangkulnya masuk kedalam rumah.


"oh ya ini tadi mas beli cekeremes, sambil bantu anak kecil yang menjualnya,mau gak?" tawar Adit yang duduk di karpet.


"mau dong, aku buatin kopi atau teh biar enak makannya?"


"boleh deh kopi pahit ya," jawab Adit yang tersenyum pada adiknya itu.


"wah ada cemilan nih, papi padahal juga bawa loh," kata Arkan yang baru datang juga.


"ya Allah papi dari mana, kenapa bajunya kotor begitu?" tanya Tasya yang mendengar suara suaminya itu.

__ADS_1


"kan papi habis bantuin Nino, dan sedikit ada kejadian tadi, tapi gak papa kok, semuanya sudah baik-baik saja mani, tenang saja," kata arkan yang duduk di samping putranya itu sambil melepaskan baju kotornya.


"ih papi kenapa begitu sih, padahal punya anak gadis loh," kesal Lily melihat papinya itu.


"gak papa anak sendiri ini, sekarang bentuk tubuh papi tak sebagus dulu, ya maklum udah tua, tapi kan seperti perut om-om mesum yang buncit begitu kan," kata Arkan tertawa.


"garing papi, sudah ini teh panas buat temen makan yang manis atau mau kopi item milikku?" tawar Adit.


"gak le, kopi milikmu terlalu pahit, aku bahkan. suka kopi pahit tapi punya mu itu kayak kopi tanpa gula," kata Arkan yang menolak.


Adit hany tertawa mendengar ucapan dari Arkan, mereka pun menonton film di malam itu, Linga sudah kelelahan dan tertidur sejak sore.


pukul sepuluh malam, ada dua rumah yang tiba-tiba terjadi kekacauan.


pasalnya putra-putra mereka kerasukan dan terus mencoba mencelakai diri sendiri.


pintu rumah Arkan di gedor malam itu dengan cukup keras, "assalamualaikum... pak Arkan tolong pak!!!"


"waalaikum salam... ada apa kalian panik begini?" tanya Arkan yang melihat keempat orang yang panik.


"anu pak .. itu ... anak pak Irwan... itu..." kata pria itu dengan nafas ngos-ngosan hingga ngomong tak jelas.


"papi... mereka akan di bawa oleh penghuni pohon jambu monyet yang ada di kuburan...." tangis Linga yang terbangun dari tidurnya.


pasalnya dia langsung mengendong adiknya itu dan bergegas lari membawa Linga, "Linga ... minta maaf... Linga tidak ikut-ikutan tadi .." tangis bocah itu.


Arkan tak bisa mengejar Adit karena dia harus melihat kondisi dari kedua anak yang kesurupan itu.


"tak akan ku biarkan kamu terluka dek," kata Adit yang sampai di kuburan bersama Linga.


kuntilanak merah pun turun dari pohon, "kamu yakin mau menantang mereka?"


"tentu demi adikku, dan juga aku tak ingin ada korban lagi," kata Adit yang menitipkan Linga pada sosok kuntilanak merah itu.


Adit berjalan maju ke arah pocong itu, "kamu yang mengirim anak buah mu untuk melakukan teror itu, merkea hanya anak-anak," kata Adit tanpa takut.


"mereka lancang menganggu ku, jdi ini balasannya," kata pocong itu.


"menganggu apa, tadi kata adikku mereka cuma mengambil jambu mente yang bahkan bukan kamu penanamnya, kamu hanya menghuninya sebagai tempat, jadi kenapa kamu menganggu mereka!" bentak Adit.


"karena kedua bocah tadi berani mengencingi tempat tinggalku tanpa permisi," jawab pocong itu marah.


"tapi kenapa adikku juga kamu ikut teror," marah adit tak terima.

__ADS_1


bahkan pria itu sudah maju dan ingin menyerang pocong itu, tapi yang aneh pocong itu malah mundur.


"tidak... kamu adalah cicit dari pembabat desa, maafkan aku ... tapi aku harus membawa kedua bocah itu karena mereka telah mengotori tempat tinggal ku," kata pocong itu.



pocong itu pun menghilang, dan ingin menyentuh Linga tapi kuntilanak merah menyerangnya karena dia melindungi bocah itu.


Adit yang tau langsung mencengkram pocong itu dan melemparnya.


setelah itu membacakan ayat suci agar sosok itu tak menganggu orang atau manusia lagi.


bahkan Adit mengambil senjata miliknya dan menyayat pohon jambu mente itu.


"maafkan aku, bukan aku membunuh mahluk hidup ciptaan Allah, melainkan aku menghilangkan semua malapetaka jika kamu terus tumbuh dan menjadi tempat tinggal semua makhluk astral yang melukai manusia," kata Adit yang langsung menyayat-nyayat pohon itu.


sedang di rumah orang tua yang putranya kerusakan, Arkan pun kaget pasalnya mereka kini sedang marah.


"dia berani merusak rumah ku, aku harus membunuhnya, dia pria busuk itu!!!" teriak kedua bocah itu.


"lepaskan, kita akan lihat mereka akan kemana karena mereka tak bisa melukai siapapun," kata Arkan


kedua bocah itu berlarian ke arah makam desa, dan ternyata di sana, Linga sedang duduk di bawah pohon besar.


tapi Adit sedang berdiri di depan makam desa, "kalian marah karena rumahnya aku tebang, bagaimana jika sekarang aku yang membinasakan kalian seperti pocong tadi" kata Adit dengan Sura dingin.


semua orang yang melihat pun tak mengira jika anak angkat dari Arkan juga begitu sakti.


kedua bocah itu langsung mundur melihat Adit yang berjalan perlahan-lahan ke arah mereka.


saat semua orang tak bisa melihat apa yang terjadi, tapi kedua bocah itu ketakutan karena mereka melihat kepala pocong di tangan Adit sudah terpenggal.


tanpa di duga Arkan menahan Keduanya dan menyeretnya ke arah Adit, "tidak!!!!!"


kedua bocah itu langsung pingsan karena Adit menarik kedua pocong itu keluar.


sedang Arkan merasa aneh karena Linga terlihat lelap di bawah pohon dalam lindungan kuntilanak merah.


"putra mu tampan ya, persis seperti ayah mu," kata kuntilanak itu yang kemudian menghilang.


para orang tua dari kedua bocah itu kaget, tapi mereka senang putra mereka sudah baik-baik saja.


sedang Arkan juga mengendong Linga yang sudah lelap tertidur. sedang Adit sudah membereskan semua sosok di sana hingga tak akan ada yang berani bertingkah lagi.

__ADS_1


__ADS_2