Lily

Lily
ayah yang luar biasa


__ADS_3

ayah Raka berdiri di sana, Husna berlari dan memeluk ayahnya itu, "maafkan Husna ayah ..."


"hei tiga bocah ini melindungi adiknya saja tak bisa," kata ayah Raka.


"maaf ayah," jawab ketiganya dengan muka sedih.


keluarga Tian pun tak mengira akan benar-benar melihat sosok pria yang selama ini tak pernah menunjukkan dirinya.


bahkan ayah Raka terlihat begitu berwibawa saat ini,"jadi siapa yang berani menghina putriku, kalian belum tau apa yang bisa aku lakukan,"


"ayah boleh aku memanggilnya, lumayan untuk membuat keluarga ini tau apa yang bisa kita lakukan," tanya papi Arkan.


"kamu ingin membunuh mereka? dengan cara diam bukan?" tanya ayah Raka melihat putranya itu.


"ya setidaknya mereka tau jika aku bisa melakukannya," kata papi Arkan tertawa


mereka pun bingung apa maksud dari pria itu, "kamu tak harus memanggil Adit kemari, toh kamu bisa melakukannya sendiri," jawab ayah Raka.


"patah..." kata Arkan.


tiba-tiba tubuh tuan terdengar suara tulang patah, "Aaaaa.... sakit!!!" teriak pria itu.


semua orang kaget, bagaimana bisa tanpa di lakukan apapun tapi pria itu bisa kesakitan seperti itu.


ayah Raka memberikan kode untuk papi Arkan tenang, ustadz Faraz dan Aryan pun menyentuh bahu saudaranya itu.


"sudah lihat Husna, dan kamu masih ingin bertanya kenapa ayah melarang mu berpacaran dengan pria itu, bukan karena hal lain, tapi lihatlah, bahkan orang tuanya saja tak melihat mu saat tau kamu bukan anak orang kaya," kata ayah Raka.


"iya ayah, maafkan Husna seharusnya Husna tak melakukan itu, seharusnya Husna menuruti semua ucapan ayah dan Amma," kata gadis itu.


"baiklah, sekarang ayo kita pergi, dan ku pastikan jangan temui putri saya lagi," kata ayah Raka.


Husna pun di ajak pergi, "sekali lagi aku tau kamu mendekati Husna, bukan hanya lengan mu yang patah mungkin lehermu yang akan patah," ancam papi Arkan sebelum pergi.


ustadz Faraz yang awalnya marah kini diam karena tak ingin putrinya tau sosoknya yang kejam.

__ADS_1


bagaimana pun dia harus menampilkan sosok yang baik di depan putrinya.


mereka semua sampai di rumah, mau Tasya dan anak-anak baru datang, dan melihat sosok suaminya itu.


"puas main?" tanya wanita itu dengan nada sedikit ketus.


"maaf ya mami, tapi ya sedikit lepas kendali melihat wajah keluarga busuk itu, bagaimana bisa dia menghina adikku yang cantik, pintar dan sempurna ini, argh.... mendengarnya saja aku mau membunuh mereka semua," kata papi Arkan.


"papi mau membunuh orang..." kata Lily yang masuk ke ruang tamu membawa minuman.


"hah- bukan sayang, papi mau membunuh lalat-lalat ini sangat menyebalkan," kata papi Arkan yang langsung ciut di depan putrinya itu.


"awas saja kalau papi aneh-aneh, ini semua minum dulu,"kata Lily dengan sopan.


"minuman dingin bagus untuk meredakan emosi,"gumam Aryan yang terlihat sangat lelah.


"kenapa sepertinya kalian sangat kelelahan, apa tejadi sesuatu?" tanya Adit penasaran.


"sepertinya ayah harus mencarikan jodoh untuk Husna, karena dia tak sabar untuk menikah," kata ayah Raka.


"kamu yakin, dari dua kali caramu berpacaran, ayah sudah ingatkan jika jangan membuat dirimu terluka, tapi apa yang ini malah sangat ya tuhan..."


"maafkan Husna ayah, sekarang Husna ingin fokus belajar dulu, dan semuanya tolong fokus pada lamaran mas Aryan saja," mohon gadis itu.


"tapi jika aku melihat mu berpacaran lagi,aku akan menikahkan kamu saat itu juga, tapi dengan pria yang menurut mas baik dan cocok," kata ustadz Faraz.


"iya mas .. tak ku kira ketiga kakakku ini sangat menyayangiku," gumam Husna.


"pasti dek, pasti..."


akhirnya semua pun berakhir, dan sekarang Lily membantu berbelanja beberapa barang yang akan di berikan jadi seserahan.


Amma Wulan sedang kesal karena ketiga putranya, memang mereka tak terluka, tapi lengan dari Aryan lebam karena lemparan batu tadi.


"sudah Amma, ini hanya luka kecil, tiga hati lagi juga hilang, tolong jangan sepanik ini, toh besok ada acara yang penting," kata Aryan.

__ADS_1


"kalau kamu tau, seharusnya harus lebih bijak," kata Amma Wulan yang tiba-tiba menangis diperlukan aryan.


"Amma kenapa? jujur saja, jangan seperti ini?"


"Amma hanya merasa kasihan pada Husna, dia terus di lukai oleh pria, Amma takut jika Husna akan membenci dirinya," kata Amma Wulan.


"tenang Amma, aku yakin jika ada seseorang yang sudah di persiapkan untuknya, dan yang akan melindunginya," kata Aryan.


malam itu, Adit dan Anand sedang menghiasai beberapa seserahan untuk acara besok pagi.


mulai dari alat sholat, baju,tas dan sepatu hingga yang lainnya. sedang Kalila dan Oma utami membantu menghias kue.


ya agar besok pagi tak terburu-buru, sedang yang punya acara malah sibuk menelpon tim yang menanggani di rumah calon istrinya.


"hei kenapa tegang begitu, tenanglah, seperti kamu tak pernah menikah, ingat tuh pemuda sudah Segede itu," ledek papi Arkan.


"sialan, tapi mau bagaimana pun, aku merasa deg degan, karena sudah sendiri selama ini," jawab Aryan.


"tenang bro, santai saja, oh ya aku tadi dari rumah Riya semua persiapan berjalan lancar, dan aku juga menaruh beberapa orang di sana untuk mengamankan lokasi, ya setidaknya tak akan ada orang yang ingin menganggu gadis itu dan keluarganya," kata ustadz Faraz


"baiklah.. terima kasih," jawab pria itu.


malam ini semua susah beristirahat, dan keluarga Tian Benar-benar hancur, semua usaha mereka tiba-tiba kehilangan dukungan.


banyak supplier yang tak ingin bekerja sama lagi, terlebih bank juga mulai menagih pinjaman dana usaha.


"kenapa bisa seperti ini, aku tau keluarga Rakasa itu berpengaruh, tapi kenapa kita bisa hancur dalam semalam,ini seakan mustahil!!" marah ayah Tian.


"ayah tidak tau, keluarga itu memiliki besan-besan yang sangat berpengaruh, besan pertama adalah pemilik pondok pesantren Miftahul Jannah, besan kedua adalah seorang pengusaha sukses dari Singapura, bahkan harta mereka tak akan habis tujuh turunan, bahkan aku juga baru tau dari teman ku, jika setiap anak dari keluarga itu pasti memiliki usaha sendiri dan kekayaannya sekitar satu milyaran,"


"berarti gadis yang kami hina itu?"


"dia memiliki dua usaha dan kata temen ku yang kenal keluarga itu, dia memiliki tabungan sekitar dua milyaran, belum lagi warisan yang di tinggalkan orang tuanya," kata tuan yang baru sadar jika Husna memiliki harta yang begitu banyak.


"bodoh... kita menghina gadis yang salah, ikan besar itu lepas sekarang ..." kata ibu Tian.

__ADS_1


"ya kita tak beruntung karena menghina orang yang salah," gumam ayah Tian yang menyesal.


__ADS_2