Lily

Lily
karma di bayar kontan


__ADS_3

Lily yang melihat pun hanya tersenyum, dan tak sengaja salah seorang melihatnya.


"nduk kenapa kamu malah tersenyum seperti itu melihat seseorang terkena musibah seperti ini?" tegur salah seorang pengunjung warung.


"bapak bertanya padaku, ibu itu mengirimkan santet pada orang lain, dan santet yang dia kirimkan sudah kembali karena ibu yang di santet sudah bertemu orang yang bisa menyembuhkannya, jika tak percaya, coba bawa ke rumah sakit untuk melihatnya, pasti dokter akan bilang, jika dia baik-baik saja," kata Lily.


"jangan sok tau deh," kata pria itu marah.


"jangan membentaknya, kami adalah cucu dari keluarga Rakasa," kata anand yang membela Lily.


"sudah kenapa kalian malah di sana, kita di sini untuk makan, dia tak akan bisa sembuh sebelum mengakui kesalahannya dan meminta maaf," kata Adit.


"oke mas Adit sudah bicara, berarti dia tak akan pernah sembuh," kata Lily yang menarik Riya.


Anand pun juga pergi setelah kedua gadis itu, sedang semua warga tak percaya dan segera melarikan wanita itu.


tapi beberapa pedagang yang ada di sekitar sana yang tau, malah hanya menonton, "jika mereka benar cucu pak Rakasa, berarti yang di ucapkan benar, tak sangka ya orang yang selama ini begitu di kenal baik malah bisa melakukan hal seperti itu,"


"sudah ayo kita kembali saja," kata pria itu.


akhirnya sate dan pesanan mereka pun sampai,tak lupa mereka berdoa sebelum makan.


selama menikmati makanan itu, tak sengaja Riya melihat ada seseorang yang menjatuhkan dompet.


tak lama ada yang mengambilnya, kemudian pergi, dia pun tak peduli toh para warga juga tak peduli dengan satu sama lain.


bahkan berani mengambil yang bukan haknya, tapi anand ingat sesuatu, "mas, aku baru ingat, jika kakek dan nenek dinas sedang sakit, tapi sakitnya aneh kata Dimas,"


"aneh kenapa?" tanya Adit yang memang sudah selesai lebih dahulu di banding yang lain.


"itu, mereka seperti memiliki sisik ular dan setiap malam akan berendam di air, dan kalau siang kulitnya melepuh," kata anand.


"kalau begitu bawa aku melihatnya,jika bisa insyaallah aku akan menyembuhkan mereka, jika tidak maka mereka akan menjadi seperti para pengikut padepokan itu," kata Adit dengan dingin.


"baik mas," jawab Anand.

__ADS_1


mereka pun selesai dan pulang, tak lupa membeli tiga bungkus untuk setiap orang, awalnya Lily tak ingin ikut.


tapi saat pulang ke rumah tak ada siapapun, akhirnya dia ikut dengan Adit dan Anand.


"kenapa muka mu panik seperti itu?" tanya Adit melihat reaksi Lily yang duduk di jok belakang.


"aku pernah di omelin sama neneknya Dimas, gara-gara dia dan Anand yang tak memberitahu ku jika tidak boleh membawa ketan hitam masuk kedalam rumah," kata Lily masih kesal.


Adit melirik ke arah anand, "itu mas, kami yang salah tak bilang memang, tapi aku tak mengira jika Lily dan aku yang sengaja membeli bubur, tapi dia malah minta bubur ketan hitam yang banyak," bantah anand.


"karena setiap apapun yang di lakukan pasti ada pantangan, mungkin itu pantangan bagi mereka, sudah tak perlu takut sekarang ada aku di sini," kata Adit yang akhirnya sampai di rumah Dimas.


rumah mewah tiga lantai dan sangat besar dan luas, tapi ada aura pekat yang sangat negatif.


Lily langsung mengandeng tangan Adit, sedang anand pun mencebikkan bibirnya melihat itu.


"beh ... manja kali.." katanya sebelum menekan bel rumah.


sedang Adit hanya mengeleng pelan, dan mengajak Lily masuk, pintu terbuka ternyata itu Dimas.


"woilah kalian, siang pak Adit, ayo masuk Semuanya," ajak pemuda itu.


"iya mas, ayo masuk yuk,"


saat menginjakkan kakinya, Adit pun mulai membawa beberapa ayat suci Al-Qur'an.


tanpa di duga dari lantai atas, ada dua orang keluar dalam keadaan basah.


dan yang mengejutkan kedua orang yang sudah lansia itu berlari turun saat melihat Adit.


melihat itu Dimas dan Anand berusaha untuk menahan mereka tapi malah terdorong hingga jatuh.


mereka berdua menyerang Adit dan membuat pemuda itu terlempar jauh, melihat itu Lily terkejut.


"mas Adit!!" panggilnya

__ADS_1


nenek dari dinas menahan Lily, "cah ayu... dadi panganan ku ya, aku lama gak makan gadis manis seperti ini, emm... rasanya begitu enak..." kata nenek Dimas yang menjilat pipi dari Lily.


"mas Adit... tolong mas...." kata Lily susah menangis ketakutan.


Adit bangun dan langsung berlari ke arah pria tua itu dan menendangnya hingga terpental menabrak tembok.


tak hanya itu, Adit langsung menarik wanita tua itu untuk melepaskan Lily.


"cepat baca surat Yasin, anand dan Dimas!!!" teriaknya saat menahan wanita tua itu.


Adit yang sedang melakukan kuncian, di serang oleh kakek Dimas, karena kesal Adit langsung menarik pria itu dan membenturkan wajah pria itu ke lantai.


dan dia menahannya, setelah surat Yasin mulai di baca keduanya pun mulai berontak.


Adit pun meminta tolong Dimas, untuk memegangi neneknya dan Adit mengikat sosok kakeknya yang terus menggeliat seperti ular yang terbakar.


akhirnya keduanya sudah terikat dan terus bergerak, Adit mengambil air yang sudah di campur dengan garam, dan membacakan surat alfatihah dan setelah itu menyiramkan air itu ke arah keduanya.


Lily selesai,dan suara teriakan menggema di rumah itu, kedua orang tua itu pun pingsan.


Adit hanya duduk bersandar di sebuah tiang yang ada di tengah rumah.


ada sesosok ular ghaib yang turun mengira pria itu lemah dan tak mungkin bisa melawannya.


tapi dia salah, Adit langsung mencengkram leher ular siluman itu dan melakukan ikatan pemilik dengan ular itu.


"sekarang kamu jadi pengikut ku, dan berani kamu melukai manusia aku akan membuatmu terbakar hangus," katanya dengan suara nada mengancam.


ular itu pun mengangguk, kini Adit punya ular miliknya sendiri, dan bukan khodam pelindung keluarga Arkan.


karena ular yang di miliki keluarga itu milik Linga saat ini, dan ular milik Adit ini berwarna merah, dan telihat lebih tinggi kedudukan di banding Ki Sesnag.


"mas, bagaimana keadaan kakek nenek ku, apa mereka terluka atau bahkan..." tangis Dimas yang takut setengah mati.


pasalnya jika kedua orang itu juga meninggal dunia maka Adit tak memiliki siapapun lagi di dunia ini

__ADS_1


"tidak, beruntung dulu kakek bebek mu tak meneruskan pesugihan itu, dan mungkin mereka akan merasakan sakit di sekujur tubuhnya jadi tenang saja, dan setelah ini setiap hari kamis malam Jum'at lakukan pengajian rutin,mengerti dimas, untuk membersihkan rumah dan menjauhkan keluargamu dari mars bahaya," kata Adit berpesan.


"baik mas," jawab Dimas.


__ADS_2