Lily

Lily
malam sebelumnya


__ADS_3

Adit dan Anand sedang mengendarai motor masing-masing berkeliling desa untuk menikmati suasana malam.


mereka juga datang ke rumah Riya untuk memastikan jika sesuatu yang buruk tak terjadi.


terlebih lagi acara akan segera di gelar, jadi mereka tak boleh mengambil konsekuensi sekecil apapun.


Adit duduk di atas motornya saat sampai di rumah itu, bahkan yang mengejutkan, rumah sudah di hias dengan mewah dan penuh bunga.


"lihatlah, ini acara lamaran atau pernikahan, kenapa ada pelaminan seperti itu?" kata Anand.


"itu lebih bagus bukan jika ayah menikah, dan kamu akan punya teman di rumah, dan ibu yang akan memperhatikan mua," kata Adit yang menikmati rokok miliknya.


"kamu merepek ya bang, orang aku sebulan lagi akan berangkat ke Surabaya dan menetap disana untuk kuliah, jadi aku tak akan menganggu pengantin baru itu, ha-ha-ha," jawab anand yang juga menikmati rokok.


"ha-ha-ha ku kira kamu tak pengertian, jadi nanti jika butuh sesuatu di Surabaya kamu bisa menelpon ku, begini-begini aku punya uang banyak loh," kata Adit.


"aku yakin itu, terlebih mas bekerja membantu opa mengurus perusahaannya bukan, tapi aku kadang heran, aku pernah dengar jika perusahaan opa itu bergerak di bidang perdagangan yang melanggar hukum," kata anand penasaran.


"terus menurut mu jika itu bukan usaha sah, opa masih bisa bebas seperti ini, ayolah bro kamu bisa menilainya sebdiri..."


"iya mas, maaf aku kan cuma tanya," kata pemuda itu.


"pertanyaan mu tak bermutu," kesal Adit yang menghembuskan asap rokok itu ke udara.


saat kedua pemuda itu bersantai, mereka melihat tukang pembuat masalah datang.


"wah sepertinya, gadis ini akan membuat masalah besar," kata Adit menunjuk Uci yang datang.


melihat gadis itu, anand langsung ingin menghentikannya, tapi anehnya Adit menahannya.


"biarkan dulu, kita lihat drama apa yang dia bawa,setelah semua yang dia lakukan," kata Adit dengan santai.


Uci tanpa babibu langsung menuju ke arah pelaminan dan mulai menyiramkan solar yang dia bawa.


"hei apa yang kamu lakukan!" kata para warga yang sedang begadang.


sedang dua Aryan langsung mengehentikan gadis itu. "mbak apa yang kamu lakukan? kenapa kamu menyiramkan solar," kata kedua orang itu.


"karena aku ingin membakar semuanya, dia itu penghianat," marah Uci.

__ADS_1


dari dalam rumah, Riya keluar karena mendengar keributan, "siapa yang kau sebut penghianat, saat kamu sendiri tak memiliki hubungan apapun dengan ayah kecil, dan jika kamu tak ingat,biar aku ingatkan, jika calon suamimu hampir membunuh ayah kecil dan kakek nenek dari sahabat mu, apa kau tau itu!!" kata Lily yang memang ada ditempat itu.


"apa?"


"ayolah saat kita akan pergi untuk liburan sekolah, apa kamu bodoh? atau kamu memang menyebalkan seperti ini!" marah Lily.


"mang Udin, mang Pur tolong siram bekas solar ini dengan air, aku tak ingin acara keluarga ku berantakan, kita bukan anak kecil lagi, jadi jangan berilah dengan bodoh Uci, aku peringatkan," kata Lily


"bagaimana jika aku menunjukkan rasanya terbakar, sesuai keinginan mu?" tanya Adit yang datang dari belakang uci.


sedang tanpa di duga Anand menyiramkan spirtus ke tubuh Uci dengan sekali guyur.


"siap tinggal bakar, kamu ingin melakukannya, atau perlu aku gunakan rokok ku?" tanya anand tersenyum.


semua orang tak mengira hal itu bisa di lakukan oleh tiga remaja dari keluarga Rakasa itu.


"apa apaan ini, anand bukankah kamu mendukung ku, tapi kenapa kamu sekarang malah menyetujui dia wanita itu jadi istri ayah mu!" marah Uci.


"siapa yang bilang, aku hanya mendukung siapapun wanita yang akan membuat ayah ku bahagia,aku akan membunuhnya atau menyiksanya saat berani melukai ayah ku, jadi berhenti bersikap seolah kamu memiliki ayah ku, dan aku ingatkan jika calon suamimu itu berani muncul dan berulah, aku sebagai putra dari ayah ku akan membuatnya cacat seumur hidupnya," kata Anand.


mendengar itu, Uci merasa marah, kecewa dan juga merasa di hianati, tapi ketiganya tak peduli.


"tak usah buru-buru,besok aku akan menunggunya," kata Adit tersenyum.


"apa semuanya baik?"tanya Adit.


"iya mas..." kata Lily yang menoleh ke arah belakang rumah.


"ah sial..."


Adit dan Lily langsung berlari kebelakang, Lily mengambil cambuk miliknya.


sedang Adit menarik penampakan itu dan Lily menjeratnya dengan cambuk miliknya.


Adit menoleh, "aih... kamu lagi, ternyata tidak kapok ya,sekarang jawab siapa yang mengirim mu, atau gadis yang tadi kamu takuti akan membunuhmu," kata Adit.


mahluk itu mengirimkan tranmisi pada Adit dan setelah pemuda itu tau segalanya.


Adit menyentuh cambuk Lily dan menariknya hingga membuat makhluk itu musnah.

__ADS_1


"makhluk itu bilang apa mas?" tanya Lily penasaran.


"tak ada, dia hanya ingin mengecoh kita, jadi kamu harus terus hati-hati ya dek,terlebih makhluk itu sangat berbahaya," kata Adit yang kini terlihat sangat marah


mereka berdua pun melewati dapur, ada sesosok wanita berpakaian kebaya sederhana sedang berdiri di depan pawonan.


"Nino Thowok," kata Lily melihat Adit


"ah sepertinya, tapi aneh jika sampai dia menampakkan diri pada kita," gumam Adit yang merangkul pundak Lily.


keduanya pun pergi dari area dapur, dan menuju ke parkiran sepeda motor tadi setelah berpamitan.


Lily memeluk Adit, dan malam itu kedua pria itu sampai di rumah keluarga Rakasa yang kini semakin besar.


ternyata Riana juga datang bersama kedua anaknya dan Aditya. pria itu bahkan langsung merangkul Adit dengan gemas sendiri.


"ada apa om?" tanya Adit yang merasa sesak karena di potong oleh Aditya.


"hei kenapa sekarang kamu begitu lemah, jangan mempermalukan mu yang susah mengajari mu teknik beladiri yang begitu banyak," kesal pria itu.


"bukan begitu om, aku hanya tak enak mau melawan mu," kata Adit.


"tapi aku ingin kamu mengalahkan ku," kata Aditya.


"baiklah om..." jawab Adit yang melakukan beberapa teknik untuk menjatuhkan pria itu.


Aditya tak mengira jika Adit lebih kuat sekarang, bahkan tubuhnya yang jauh lebih besar bisa di banting dengan mudah.


"pria yang sempurna dan mesin pembunuh yang unggul," bisik Aditya tersenyum menepuk bahu Adit.


ya pria itu memang di persiapkan menjadi mesin pembunuh oleh Aditya,itulah kenapa dulu dia mengajari Adit berbagai jenis beladiri.


belum lagi permintaan opa Alan yang ingin menjadikan pemuda itu menjadi pewarisnya yang tak terkalahkan.


Lily melihat Adit yang cuma diam saja, dia menunduk pipi Adit, "mas syok tak, kenapa cuma diam," gumam Lily


"berhentilah, atau aku akan mencium mu," bisik Adit menahan tangan Lily.


"memang kamu berani melakukannya di depan keluarga kita, kamu memang kuat, tapi pengecut saat berurusan dengan papi.."

__ADS_1


"kita lihat saja nanti..." kata Adit dengan wajah meledek Lily.


__ADS_2