
mereka sudah dapat satu box penuh, dan memutuskan untuk pulang karena hari makin sore.
"mas besok jadi ya, kita ke kolam renang mana?" tanya Linga saat di dalam mobil.
"ow gitu sekarang, kalau mau main yang di ajak cuma Linga , aku gak nih... jahat banget?" kata Lily pura-pura ngambek
"alah mbak mah tukang ngambekan, kan lusa ada acara lamaran, ya mbak bantu di rumah eyang dong," kata Linga.
"hei bocah kamu lama-lama bikin kesel ya, mami lihatlah Linga," adu Lily.
"ya Tuhan anak-anak, tenang oke kasihan mas Adit yang menyetir ke berisikan," kata maki Tasya.
sedang Adit hanya bisa tertawa sambil menghela nafas, karena kedua adiknya yang tak mau kalah satu sama lain.
Adit tak keberatan sama sekali dan untuk mengatakan perasaannya pada Arkan, dia menindaknya karena tak ingin membebani pria itu.
karena semua harus di lakukan dengan pelan-pelan, dan sekarang mereka semua harus fokus pada Aryan dulu, karena Adit masih memiliki hidup yang masih jauh untuk itu.
seperti siang ini Arkan, ustadz Faraz dan Aryan sedang di rumah keluarga ayah Raka.
Aluna dan Husna baru pulang dari sekolah dan kampus, "assalamualaikum.. tumben semuanya ngumpul?"
"emang kenapa sih, gak boleh ya?" tanya Arkan dengan wajah menyebalkan.
"boleh gak sih aku tampar mas Arkan, karena mukanya nyebelin banget, udah tua bukan malah berwibawa, malah nyebelin,"ketus Husna.
"dek..." tegur ustadz Faraz lembut.
"masih ingat kalau punya adek aku sama Aluna," kata gadis itu menjadi kesal.
"kamu ini kenapa sih Husna? kenapa makin judes aja, nanti gak ada yang mau nikahin loh," ledek Aryan.
"kalian bertiga nyebelin sih, aku benci kalian!!" teriak Husna yang langsung berlari masuk kedalam.
"lah... kita salah apa? dasar bocah ini," kata Arkan yang penasaran dan ingin membujuk adiknya itu.
sedang ustadz Faraz yang ingin pergi di tahan oleh Aryan, "sudah Bing, kamu kesana bukan membereskan masalah,makin menambahkannya, ingat ya Husna itu musuh bebuyutan Arkan tapi juga adik paling di sayangi," kata Aryan.
"terus kalau Aluna?" tanya gadis SMP itu.
"kamu itu kesayangan kami," kata ustadz Faraz menarik gadis itu.
Arkan mengetuk pintu kamar adiknya itu, dan kemudian masuk, dia langsung kaget melihat Husna yang menangis sambil memeluk lututnya.
"ada apa dek?" tanya Arkan mengusap kepala gadis itu.
"memang orang tua Husna dulu jahat ya, kenapa semua orang bilang jika bukan karena Amma dan ayah, mungkin Husna bisa saja jadi gelandangan," kata gadis itu sesenggukan.
__ADS_1
"siapa yang bilang begitu, kamu dan mas Faraz itu keluarga kami, ayah dan Amma adalah orang tuamu juga, kenapa kamu bisa percaya omongan orang tak berguna seperti itu," suara Arkan yang menahan amarahnya.
Husna pun memeluk kakaknya itu, "kalau begitu kenapa keluarga dari mas Tian mengatakan semua itu," kata Husna.
"Cristian?" tanya Arkan yang memang mengetahui jika adiknya itu menjalin kasih dengan pria itu.
Husna mengangguk, "cukup,aku akan membuat mereka tau siapa aku, tidak boleh mereka menyakiti adikku seperti ini, beraninya," marah arkan yang langsung meninggalkan kamar Husna.
"mas arkan jangan pergi... mas..." panggil Husna.
Arkan tanpa bicara langsung pergi mengunakan motor yang dia bawa, sedang Husna tak bisa mengejarnya.
"ada apa Husna?" tanya ustadz Faraz dan Aryan kaget melihat Husna.
"mas Arkan ingin menemui keluarga mas Tian," kata Husna yang panik.
"apa, tapi dia marah?"
"iya mas... ayo susul mas Arkan, aku mohon maaf..." kata Husna yang makin kalut.
"aku siapkan mobil, ajak Husna bersama mu," kata Aryan yang langsung lari mengeluarkan mobil.
ustadz Faraz bersama Husna langsung berlari masuk kedalam mobil.
mereka kini mengejar pria itu yang bahkan sangat cepat mengendarai motornya.
dia langsung menggedor pintu rumah keluarga Tian, "hei pria sialan keluarlah..." teriak Arkan
tak lama seorang wanita dan seorang pria membuka pintu, "wah lihatlah, setelah Aditnya yang tak tau malu datang untuk di perkenalkan pada jami, sekarang kakaknya yang juga tak berguna ini datang," kata ibu Tian mengejek Arkan.
tanpa di duga, Arkan langsung mencekik wanita itu, "tutup mulutmu,aku bahkan tak segan mrmbunuh wanita,asal kamu tau,dan berhenti menghina adikku,"
"hei dasar pria brengsek, lepaskan istriku, kamu membunuhnya," kata ayah Tian yang mencoba untuk mendorong Arkan tapi pria itu tak bergeming sedikitpun.
tuan yang mendengar keributan pun turun,dan para warga berbondong-bondong datang, melihat ibunya yang hampir mati.
Tian datang dan langsung memukul kepala Arkan dengan vas bunga, bahkan itu juga tak membuat pria itu gentar.
"siapapun yang berani menghina adikku pantas mati," kata Arkan menampar Tian dengan tangan kirinya hingga tersungkur dengan keras.
mobil Aryan dan ustadz Faraz datang, Arkan berbalik dan mendorong wanita itu tepat di depan mobil.
"kamu belum tau siapa diriku, minta maaf pada gadis yang kau hina, atau aku tak segan melakukan apa yang tak pernah keluarga ini bayangkan," ancam akan dengan murka.
"Arkan tenanglah... aku mohon kita bisa membicarakan ini semua baik-baik," bujuk Aryan.
"tidak ada yang boleh menghina adikku, bahkan meski itu orang tuaku sendiri, karena bagiku dia adalah kehormatan ku seperti halnya putriku," kata Arkan dengan murka.
__ADS_1
Husna tak mengira, jika kakak yang sering sekali menganggunya sejak kecil begitu menyayanginya.
"dek... saat seperti ini, hanya yang bisa membujuknya," kata ustadz Faraz.
Husna pun tak menggubris ibu Tian yang masih kesakitan, dia berjalan untuk menenangkan Arkan.
tapi tak terduga saat melewati ibu Tian, wanita itu bangkit dan melempar sebuah batu kearah Husna.
melihat itu Faraz yang terlanjur menendang wanita itu hingga tersungkur.
sedang Aryan dan Arkan memeluk Husna bersamaan untuk melindungi gadis itu.
"kalian keluarga biadab, bagaimana bisa melakukan semua ini pada ibuku," marah Tian.
"hei pemuda sok ganteng, siapa yang jamu sebut biadab, dari tadi yang kami lihat ibu mu itu yang terus mencari masalah, kami semua saksinya," kata warga.
Husna menangis melihat kedua kakaknya, "maafkan aku..." tangis gadis itu.
beruntung batu tadi mengenai lengan dari kedua pria itu dan tak mengenai Husna.
"kalian semua buta ya," maki ayah Tian.
"bukankah tadi ibu mu menghina gadis itu mengatakan jika ibunya wanita kejam, penyuka harta, suka menggoda pria dan ayahnya pria tak berguna, dan jika bukan karena keluarga barunya mungkin sekarang dia jadi gelandangan, semua orang tadi juga mendengar itu," kata seorang ibu
"apa.... kalian berani mengubah orang tuaku, aku akan membunuhmu!!" marah ustadz Faraz yang kini terpancing emosi.
dia dan Arkan adalah tipe pria yang tak segan meski menghadapi wanita parasit.
"ya Allah... sabar mas, ingat titel mu," kata Aryan menahan pria itu yang ingin sekali merobek mulut wanita itu.
"dia berani menghina bunda ku, aku harus merobek mulutnya, dia bahkan hanya seorang wanita yang merebut pria orang lain, dan menikmati hidup mewah, dan berani mengomentari keluarga ku, jangan lupa aku bisa membuat mu mati kamu tau itu," kata ustadz Faraz yang penuh kemarahan.
tiba-tiba seorang wanita menghampiri ustadz Faraz yang masih marah, dan seorang gadis kecil memeluknya.
"Abi bilang kita harus bisa menahan emosi," kata Shafa memeluk tubuh ustadz Faraz.
"mbak Kalila..." panggil Husna.
"siapa anda berani menghina kedua mertua ku yang bahkan sudah tidak ada di dunia ini, sebagai wanita saya malu mendengar ucapan seperti itu, terlebih kami mendidik adik-adik kamu dengan agama, jika anda tak menyukainya tinggal menolaknya, dan memang tak pantas bagi Husna yang menjadi putri kesayangan keluarga Rakasa, harus menikah dengan pemuda tak tau adab dan agama seperti putra anda, jadi ini terakhir kalinya atau anda ingin melihat ketiga pria ini membuat keluarga anda hancur," kata umi Kalila dengan tenang.
"apa ... keluarga Rakasa?" kata seseorang kaget
"memang keluarga mana yang berani menghina putri ketiga keluarga ku, hanya karena dia merahasiakan siapa orang tuanya," kata ayah Raka yang datang dengan umi Kalila dan Shafa
"ayah!!" panggil keempat orang itu.
"apa..." lirih keluarga itu kaget.
__ADS_1
PP