
rombongan kedua juga lewat dengan aman, rombongan ketiga adalah rombongan dari Riya.
gadis itu terus memegang baju Erland karena dia ketakutan, terlebih suasana malam ini begitu mencekam.
saat mereka hampir sampai di pos pertama, Erland melihat ada sesosok pria sedang berdiri di bawah lampu di kiri jalan.
"Erland, kamu mau kemana sih?" tanya Riya takut.
"itu guru kita," jawab Erland melepaskan tangan Riya.
"tidak mungkin, tadi Lily dan para guru pembimbing bilang jika semua di posisi kanan,"kata Riya menghentikan langkah dari temannya itu.
kalau begitu kenapa tidak bilang, lari!!" teriak salah satu teman Riya.
bayangan itu pun hilang, dan seperto mengejar kelompok tiga, tak hanya itu mereka mereka akhirnya sampai di pos satu.
Adit sampai di pos itu dan langsung memukul punggung salah satu murid.
pemuda itu langsung muntah batu-batu kecil, Adit membacakan ayat kursi dan membuat pemuda itu tak ketempelan lagi.
"lain kali, jangan sembarangan, untunglah aku tau ada yang tak beres." gumam Adit.
"gila di Jinggo makan batu dong," kata salah satu murid.
"dasar bodoh, dia bukan makan bayi tapi dia ketempelan, sudah ayo kita ke atas dan segera menyelesaikan tugas ini,"kata Erland.
mereka pun kembali mengingat apa yang di ucapkan oleh teman-teman yang berangkat duluan.
di tim Lily sudah hampir menemukan titik pos terakhir, yaitu pos Arkan dan Tasya.
tapi saat mereka akan sampai, tiba-tiba terdengar sayup suara gamelan dan tapak kaki kuda.
mendengar itu, Lily kaget dan panik, "semuanya pegangan tangan, apapun yang terjadi jangan lepaskan pegangan tangannya," perintah Lily.
"baiklah," jawab Semuanya.
Lily pun terus membaca tasbih dan dzikir, ternyata di depan ada sosok yang sedang menari.
Lily dan yang lain mencoba cuek, dan sosok itu juga hanya terus fokus menari.
tak berhenti di sana, sosok itu sempat tersenyum ke arah Rika dan gadis itu makin menggila ketakutan.
__ADS_1
tak lama mereka pun sampai dan yang kedua malah tim sepuluh yang juga sampai.
"apa kalian tak melewati tim lain, kok cepet amat," kata Lily heran.
"tidak kok, kami juga heran kenapa hampir sampai bersamaan dengan tim satu," kata pemimpin kelompok itu.
"sudah sekarang mending kalian hitung kelompok kalian kalau sudah lengkap duduk di sana dan tinggi yang lain," kata Arkan.
"baik pak," jawab dua puluh orang itu.
Arkan terus melihat ke arah kelompok sepuluh, tenyata salah satu dari mereka ada yang ketempelan hantu bocah.
hantu itu hanya terus di gendongan punggung pemuda itu, "sepertinya malam ini aku dan Adit akan banyak membantu hantu deh,"
Tasya hanya menoleh dan mengeleng pelan, satu persatu murid berdatangan.
mereka semua akan di bawa pulang tapi sebelu itu seorang sesepuh desa memercikkan air ke arah kumpulan murid itu.
setelah itu Adit mulai membaca beberapa ayat dan membuat sepuluh siswa mulai mengerang kesakitan.
"kalian yang menganggu anak didik ku,lekas keluar dari tubuh mereka, atau aku akan mengeluarkan paksa," marah Adit.
tapi Adit langsung menarik arwah itu dan memusnahkannya, "seharusnya kalian menyebrang dan tak meninggalkan dendam seperti ini," gumam Adit yang melihat arwah yang hilang.
sedang Lily berlindung di balik tubuh Adit,"mas itu Rika terus tersenyum kearah kita, dan aku melihat ada sosok berpakaian merah yang menarik di atas batu besar tadi," bisik Lily.
"tidak perlu khawatir, dia akan baik-baik saja karena itu khodam penjaganya," jawab Adit.
akhirnya malam itu semuanya berhasil dan mendapatkan hadiah kejutan nanti pas wisuda.
"baiklah semuanya ayo kita kembali ke homestay," ajak Adit.
mereka pun semua berbondong-bondong untuk kembali, sesampainya di penginapan ada yng tidur ada juga yang cuma duduk-duduk sambil menunggu waktu subuh.
Adit memilih melempar singkong ke api unggun yang baru dia nyalakan lagi, lumayan buat cemilan.
"pak Ari jika ingin bertanya sesuatu tanya saja, kenapa terus melihat ku seperti itu, mumpung ada papi dan mami juga," kata Adit
"apa? tidak ada kok mas," jawab pak Ari.
"yakin, padahal setelah ini kami semua mungkin akan berangkat ke Singapore untuk menikmati liburan dan akan kembali saat Linga akan ujian negara," kata Adit yang membuat pria itu kaget.
__ADS_1
"apa? kenapa liburannya jauh sekali?" tanya pak Ari
"ah Anda tak tau ya, mami saya adalah orang asli Singapura," jawab Adit
pak Ari pun diam,dia pun makin merasa tak pantas sekarang, tapi Adit tau apa yang di pikirkan pria itu.
"pak Ari mau bertanya apa bisa melamar Lily kan, Papi bagaimana menurut mu?" kata Adit mtlihat Arkan.
"aku tak bisa menjawabnya, karena itu adalah hal yang harus di jawab oleh yang menjalankan hubungan itu ," jawab Arkan.
"apa bapak tak keberatan?" tanya pak Ari tak menyangka mendengar reaksi itu
"tentu saja tidak, kenapa harus keberatan, toh jika anaknya mau bukankah bagus karena nanti saat dia kuliah ada yang menemaninya," kata arkan.
sedang Tasya fokus pada Adit yang saat ini begitu pendiam, bahkan pria itu pergi dan memilih masuk bus untuk mengambil kue instan.
"tapi kenapa papi begitu buru-buru, biarkan saja Lily yang menentukan masa depannya," kata Tasya.
"sayang jika mereka menikah muda, itu akan baik," kata Arkan.
"itu menurut papi,tapi menurut ku kondisinya tak sama dengan kita dulu, karena Lily masih terlalu manja dan aku tak siap kehilangan putriku," kata Tasya yang nampak marah.
Adit datang membawa mie di dalam gelas, "lah mami... aku buatkan mie Soto kesukaan mami," panggil Adit.
"kamu yang makan, mami mau istirahat dulu," jawab Tasya.
pak Ari pun tak mengira akan tejadi perselisihan seperti ini, "ah maaf pak Ari kami harus melihat kami beradu argumen,"
"iya pak tak apa-apa, seharusnya aku juga datang dengan sopan,bukan malah bertanya saat kita sedang liburan seperti ini," kata pak Ari.
Adit memilih sibuk makan, mumpung dia sedang ingin, karena biasanya dia akan memilih tak makan daripada muntah.
ya akhirnya pria itu berani berkata jujur jika dia menyukai Lily, gadis yang sudah dia sukai sejak pertama masuk ke SMA itu.
pukul tiga pagi semuanya sudah tidur kecuali Adit, dia sedang duduk sambil melihat ke arah api.
dia pun seperti kembali mengingat masa kecilnya, dia yang selalu kehilangan.
memilih memasrahkan segalanya pada takdir, jika Lily memang bukan jodohnya.
dia akan meninggalkan keluarga itu jika Lily menikah dengan pria yang dia cintai dan bukan karena paksaan.
__ADS_1