
"Selamat datang, Tuan Wisman ... ups salah maksudnya calon ayah mertua, kamu kan sudah menjadi ayah angkat dari calon istri dan ibu anak-anakku nanti," ujar Albarta tersenyum manis pada Tuan Wisma.
Tuan Wisma sangat marah mendengar itu keluar dari mulut orang seperti Albarta. "Tutup mulutmu. Dan lepaskan putriku," sentak Tuan Wisma, dengan aura dinginnya.
"Relax, Calon Ayah mertua. Mari duduk dulu," ujar Albarta lagi, dengan sangat tenang kemudian duduk di sofa.
"Ambilkan minuman untuk ayah mertuaku," ujar Alabrta lagi pada pelayang rumahnya.
"Kembalikan putriku atau aku akan membunuhmu," ujar Tuan Wisman, menodongkan senj*ta di kepala Albarta.
Alabrta berdiri dengan santai sambil menggkat kedua tangannya ke atas. "Oh, oh, ayah mertua-" ujarnya terpotong karena Tuan Wisma langsung menyerga ucapannya.
"Berhenti memanggilku dengan itu. Aku sangat tidak sudi," sentak Tuan Wisman masih menodongkan senjata di kepala Albarta.
"Papa," teriak Alda, yang berlari ke arah Tuan Wisman, namun dia langsung di tarik oleh Albarta.
"Ets, mau kemana kucing liar? ( menahan tubuh Alda yang ingin memeluk Tuan Wisman ). Kamu benar-benar kucing liar ( membelai wajah Alda ), karena bisa lolos dari anak buahku," ujarnya dengan menatap tajam anak buahnya yang ia suruh menjaga Alda.
"Lepaskan aku, brengsek," berontak Alda, namun tenagan Albarta bukanlah tandingannya.
"Sabar, Honey ( mengeratkan pelukannya, membuat wajah Alda nempel di dada bidangnya ). Jangan teriak-teriak nanti aku bisa khilaf, kamu tau kenapa? karena suaramu ( mengusap bibir Alda ) ini sangatlah merdu di telingaku dan itu membuatku ingin menerkammu," ujarnya dengan mengedipkan satu matanya, bahkan ia tersenyum dengan gaya *****al.
"Tutup mulutmu. Dan lepaskan aku," sarkas Alda memberontak dalam dekapan Albarta.
"Bawah dia, dan jika sampai dia masih bisa lolos maka kepala kalian menjadi taruhannya," tegas Albarta pada anak buahnya.
"Baik, Tuan," ucap Bodyguard tersebut dengan tegas.
"Ikutlah dengan sebentar, Honey, aku harus menyambut Ayah mertua dulu, ok," ujarnya mengusap wajah Alda dengan mengecup singkat bibir Alda.
Cup.
__ADS_1
"Ets, tidak semudah itu kucing liar," ujar Albarta menahan tubuh Alda yang berlari ke Tuan Wisman.
Anak buah Albarta dengan cepat membawah Alda kembali ke atas kamar Albarta.
"Hei, kau mau bawah kemana putriku," teriak Tuan Wisman, pada Anak buah Albarta.
"Bebaskan putriku cepat!!" tegas Tuan Wisman menatao tajam Albarta.
"Harus ku akui kau berhasil mengubah kucing imutku menjadi kucing liar yang sangat ganas," celetuk Albarta memperbaiki posisi berdirinya, sembari menahan rasa ngilu pada adik kecilnya, yang kena tendangan penalti dari Alda.
Dor
Suara tembakan mengema, membuat semua orang menatap ke arah pintu.
"Angel?" kaget Alda saat melihat Angel berdiri dengan aura kepemimpinannya di amban pintu.
"Angel?" kaget Tuan Wisman menatap putrinya, yang berjalan ke arah mereka.
"Oh, kakak ipar. Selamat datang Kakak ipa-" sambut Albarta, namun Angel langsung menanggapinya dengan satu temb*kan.
Dor.
"Apa yang kau lakukan disini, bukankah sudah Papa bilang tetap dirumah," ujar Tuan Wisman menatap wajah putrinya, yang sudah seperti ekspresi wajah almarhumah istrinya sebelum ia membantai habis para musuhnya yang berniat membunuhnya dulu.
Dor.
Dor.
Dor.
Satu persatu para anak buah Albarta tumban di tangan Angel, para anak buah Albarta tak bisa membalas dan menghindar dari serangan Angel yang terbilang sangat cepat dan tepat.
__ADS_1
"Angel ..." teriak Alda berlari ke arah Angel.
"Alda," shock Angel memegangi tubuh Alda yang ambruk karena menahan puluruh yang tertujuh padanya.
Angel menatap tajam, Albarta yang berdiri membeku menatap nanar gadis yang ia cintai tersungkur di lantai. "Kurang ajar!!!" teriak Angel lalu melepas tembakan pada Albarta.
Dor, dor, dor.
Tiga tembakan pas di ulu hati, leher dan jantung Albarata, membuat Albarta tersungkur ke lantai dengan deraian darah mengalir keluar.
"Al, Al, bangun," ujar Angel memangku kepala sahabatnya.
"Sayang ..." ujar Tuan Wisman memegang bahu putrinya, karena Tuan Wisman memeriksa denyut nadinya tapi denyut nadinya sudah tidak ada.
"Pa, kenapa Alda tidak mau bangun. Al ayo bangun," ujar Angel dengan suara bergetar.
"Sampai ketemu di kehidupan selanjutnya, Honey," ujar Albarta lirih sebelum menutup matanya.
"Tidak, Al. Kau harus bangun, kau sudah berjanji untuk pulang dan melihat perkembangan Anggi bukan?, Ayo bangun Al, hiks, hiks, hiks," racaunya dengan tangisan.
"Sayang, sudah. Kita harus membawah Alda ke markas untuk di keluarkan peluruhnya dan menjahit lukanya," ujarnya menenangkan putrinya.
Angel yang mendengar ucapan Papanya, dengan segera menghapus air matanya. "Iya, Papa benar. Kita harus membawah Alda ke markas secepatnya agar bisa mendapat penanganan lebih lanjut," ujarnya, langsung berdiri dan meminta anak buahnya mengangkat Alda ke mobil.
"Cepat bawah dia ke mobil. Hati-hati," ujarnya tegas.
Mereka pergi, meninggalkan Albarta yang terkapar di lantai dengan berlumuran dar*ah.
"Ini baru permainan, sekali tembak dua pulau terlampau, tinggal menyingkirkan wanita itu dan anaknya, setelah itu kedua klan itu menjadi milikku, dan aku akan menguasai dunia hitam," ujarnya penuh tawa kemenangan namun terdengar menyeramkan.
...#continue ........
__ADS_1
...Jika suka jangan lupa tinggalkan jejeknya, Readers. ...
...See you the next episode....