
"Ma ..." teriak bisu kedua anak kecil di balik sebuah pohon.
Mereka menagis menutup mulut mereka melihat Ibu mereka di tembak, setelah itu kembali di masukkan ke dalam mobil yang sudah di pasangkan bom. Dengan mata telanjang, mereka melihat bagaimana Ibu mereka meledak bersamaan dengan ledakan dari bom dan mobil.
Salah satu anak gadis itu terlihat matanya memerah, kedua tangannya terkepal, sembari mendekap erat adiknya yang tak sanggup melihat Ibu mereka di bakar di hadapan mereka.
"Aku akan kembali, dan pada saat itu kalian semua akan melihatku sebagai mau kematianmu," guman anak gadis tujuh tahun memindahi wajah-wajah yang menjadi pembunuh ibunya.
"Sayang ..." ujar Tuan Wisman dengan cepat memeluk kedua cucunya, yang kabur dari rumah menyusul Angel, namun dianamalh melihat pembunuhan ibunya secara langsung.
"Grandpa, meleka membunuh Mama," aduh Star memeluk erat Tuan Wisman.
"Iya, Sayang, iya," ujar Tuan Wisman mengusap punggung cucunya, yang sangat bergetar.
"Ayo Anggi, kita harus pergi dari sini," ujar Tuan Wisman menarik tangga cucu sulungnya yang terus menatap tajam kearah pelaku pelaku pembunuhan ibunya.
__ADS_1
15 tahun kemudian, seorang wanita dengan pencahayaan minim, namun sorot matanya terlihat sangat terang akan tetapi terangnya bukan cahaya postif namun terang karena merah amarah, dendam, kebencian, natasha begitu terlihat tajam, haus akan darah. "Aku telah datang, bersiaplah kalian!!!" ujarnya dengan dengan dingin, sorot mata yang tajam, aura membunuh yang begitu kuat.
"Film selesai," ujar Lues, menekan tombol of/on remot.
Lues memutar tubuhnya menatap dingin Tuan Albarta dan Alberta yang terlihat shock dan terdiam seribu bahasa.
"Pa itu?" ujar Vano menunjuk layar yang sudah mati. Wajah Vano masih shock setelah melihat bagaimana dengan santai dan dinginnya Papanya yang selama ini dia kenal sebagai seseorang yang sangat suka memberikan dan melindungi orang-orang dari penjahat, walau dia tau Papanya seorang mantan pimpinan mafia, tapi ia tak pernah menyangkah sanggup membunuh seorang perempuan, bahkan ia sangat berambisi membunuh anak dari wanita tadi, tapi untung anak itu tak di ketemukan.
"Ma ..." ujar Vino juga menatap tak percaya Mamanya. Karena Mamanya adalah sosok yang begitu lembut di hadapan mereka semua, ternyata Mamanya adalah sosok wanita yang sangat kejam dan licik. Mungkin bukan dia membunuh tapi dia adalah otak di balik semua pembunuhan itu, hanya demi mencapai ambisinya terhadap Papa mereka dulu.
Lues tersenyum miring mendapat respon dari mereka semua, tapi todak dengan kedua wanita cantik, Franc dan Star, matanya sudah sangat memerah. "Bagaimana bukanlah film sangat bagus?" tanya Lues berjalan mendekati mereka semua, dan dengan cepat ia mencengaram lengan Franc, berdiri lalu mendorong Frnac ke anak buahnya.
"Auh," rintih Franc.
Pandangan Vano terahlih, ia menatap tajam anak buah Lues menyeret istrinya masuk kesebuah jalan rahasia di tepi jurang. "Berhenti!!!" teriak Vano, namun sia-sia karena Franc hilang di balik pintu.
__ADS_1
"Dari mana kau mendapatkan semua itu?" tanya Albarta yang sedari tadi terdiam, kini mengangkat suara.
"Dari mana?, kalau aku sebut namanya apa kau akan percaya?, tapi kalau di fikir-fikir lebih baik, aku panggilkan saja orangnya, gimana?" ujar Lues, dengan meminta pendapat Albarta.
"Aarrhhh ..." teriak Franc kesakitan.
"Kau apakan istriku brengsek," emosi Vano, saat mendengar jeritan kesakitan Frnac, namun ia kembali di lumpuhkan oleh Lues. Vano benar-benar tak berdaya sekarang, ia hanya bisa memandang tajam Lues yang terlihat sangat santai dan tersenyum bahagia.
Tak lama setelah jeritan panjang kesakitan Frnac, dua wanita terlihat lihat berjalan membelakangi sorotan cahaya lampu yang menyilaukan, aura keduanya begitu pekat, dingin, dan tak tersentuh. Semakin dekat semakin jelas wajah kedua wanita itu, membuat tenggorokan Albarta dan Alberta terasa tercekat.
...#continue .......
...Semoga suka, selamat membaca....
...See you the next episode. ...
__ADS_1