
Star menatap Franc dengan mata yang membara. "Kamu tau jawabannya hanya satu ...."
"Tidak!"
"Aku tidak akan melupakan kematian, Mam Anggel."
"Aku tidak akan melupakan tangan-tangan yang mengambil, Mam Anggel dariku. Tidak akan!"
"Aku juga tidak akan membiarkan dendam di hatiku ini padam, sampai dadaku ini dilumuri darah dari tangan pembunuh, Mam Anggel. Tidak akan pernah!"
Star berucap dengan suara yang bergetar menahan amarah, dendam dan kebencian.
Star berbalik melihat Franc, matanya dipenuhi dengan amarah, kebencian, dan balas dendam.
"Dendam ini selamanya akan menyala, akan terus menyala!" ujar Star menunjuk dadanya sendiri.
Franc menatap mata Star. "Lalu mengapa kamu menikahinya?"
"Karena ... " ujar Star menceritakan kenapa sampai dia menikah bersama Vino.
"Kita tidak bisa gegabah," ujar Star.
Star berjalan keluar menuju balkon lorong, menatap lapangan hijau dan para anak buahnya latihan.
Memang benar jika kita menyerangnya dengan kekuatan kita bisa mengalahkan mereka, karena dari segi kekuatan, senjata, dan anggota. Klan Two's Tiger masih jauh berada diatas. Tapi ... jika kita lakukan hal itu, akan menimbulkan begitu banyak seorang anak yang akan kehilangan orang tuannya, ia akan mengalami apa yang aku alami," ujar Star suaranya mulai serak menahan tangis.
__ADS_1
"Star ... " panggil Star.
Star mengangkat tangannya, dan melanjutkan ucapannya, "Mereka akan mulai mendapatkan bully dari teman-temannya, dipandang sebelah mata, dihakimi banyak orang, berjuang untuk hidup, merindukan sosok orang tua, dan masih banyak lagi. Mereka akan merasakan hal itu ketika tak ada orang tua."
"Liatlah kedepan," ujar Star menunjuk anak anak yang bermain dan berlarian dilapangan rumput hijau.
"Dia begitu ceriah bermain, Kalista putri kecil Two's Tiger, dan disana, disana, disana, bukankah begitu banyak seorang putra dan putri yang masih membutuhkan cinta orang tuanya," ujar Star menunjuk semua anak kecil, pura dan putri para anggotannya.
"Tapi saat kita melakukan peperangan, mereka semua akan begitu kehilangan banyak orang yang mencintainya, ia juga tidak akan lagi merasakan usapan tangan di kepalanya. Mereka akan merasakan semua itu Franc ... huusss ...."
"Star ...."
Franc memeluk Star. Star menangis tersedu seduh didalam pelukan Franc.
"Maaf, karena sudah berfikir kamu menghianati diriku."
"Maaf, karena aku fikir kamu melupakan pembunuh, Mam Angel.:
"Maaf, karena aku membuka lukamu kembali."
Franc juga kembali menangis, ia merasa bersalah karena dirinya sudah membuka luka yang begitu tidak ingin di ingat oleh Star.
Franc melepas pelukannya lalu menangkup wajah Star. "I'm sorry princes, Mam Angel."
"Tidak!" ujar Star menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku yang minta maaf, melakukan hal itu tanpa memberitahu dirimu," ujar Star menunduk.
"Sudah kita lupakan hal itu dan kembali fokus pada tujuan kita," ujar Franc sembari membuka kotak P3k yang di berikan oleh Lues tadi.
"Itu benar."
"Aauuhh," rintih Star Saat lukanya diobati Franc.
"Lebay."
"I don't care. Lebaynya juga sama Macan betina Two's Tiger," ujar Star tersenyum.
"Auh, auh, auh. Sakit Franc," rintih Star lagi saat Franc sengaja menekang lukanya.
"Katanya tadi tidak apa-apa yang penting sama Macan betina Two's Tiger," ujar Franc mengejek.
"Yah bukan begitu juga konsepnya," ujar Star.
"Oiya, Franc. Bagaimana dengan ayahmu apa- " ujar Star tapi terpotong karena Franc langsung menyerga ucapnya.
"Jangan mengatakan pria brengsek itu adalah ayahku. Karena dia tidak pantas disebut ayah," ujar Franc yang tiba tiba kembali marah.
Matanya dipenuhi dengan amara, kebencian, dan dendam yang begitu membara.
#contenue ...
__ADS_1