
"Ouhhmm."
Vano meraba kasur bagian sampingnya. "Sayang," ujarnya dengan mata masih terpejam.
Vano membuka matanya saat tak mendapat keberadaan sang istri di sampingnya.
"Pergi kemana dia?" ujarnya turun dari ranjang.
"Sayang, apa kamu ada di dalam?" tanya Vano mengetuk pintu kamar mandi.
"Franc."
Tok, tok, tok.
Vano yang terus mengetuk tapi tak mendapat jawaban, membuka pintu kamar mandi.
"Kemana dia?" gumamnya saat tak mendapati istrinya di dalam kamar mandi.
Vano turun dengan sedikit tergesa-gesa, Mama yang melihat putranya turun dengan sedikit berlari bertanya. "Van, kamu kenapa lari-lari menuruni tangga?"
Vano tak menjawab pertanyaan Sang Mama, malam bertanya balik. "Mama liat, Franc gak?"
"Mana Mama tau, bukannya kamu itu suaminya. Kenapa tanya Mama."
"Iya, tapi begitu Vano bangun dia sudah tidak ada di samping Vano."
"Mungkin lagi mandi," ujar Mama Rena kembali mengaduk masakannya.
"Vano sudah memeriksa kamar mandi tapi tidak ada juga," ujar Vano sedikit khawatir.
"Mam, Mama," teriak Vino menuruni tangga sedikit berlari seperti Vano.
Mama Rena yang mendengar teriakan Sang putra bungsunyamemutar bola matanya jengah.
"Satu lagi datang-datang langsung berteriak."
"Ada apa?" tanya Mama Rena menatap Vino.
"Liat istri Vino gak?" tanya Vino.
"Mana Mama tau. Kenapa kalian cari istri ke Mama?, memangnya Mama ini pusat informasi," ujar Mama Rena kesal karena semua putranya menanyakan istri mereka padanya.
"Siapa tau Mama melihat," ujar Vino cemberut.
"Mama gak tau. Sana cari sendiri Mama mau masak."
__ADS_1
Mereka pergi dari sana, berjalan ke ruang tamu.
"Kakak ipar juga tidak ada?" tanya Vino.
"Huem."
"Kemana perginya mereka," ujar Vino
......................
Di lain tempat, tepatnya di markas besar Tiger Two's, terlihat Lues berusaha membangunkan seseorang dengan sangat hati hati.
"Queen, Princes. Ayo bangun ini sudah pagi," ujar berdiri di samping ranjang di mana Franc dan Star tertidur pulas.
Lues memang di berikan ulti oleh Franc untuk membangunkan mereka sebelum mentari pagi terbit, tapi dari tadi Lues membangunkan mereka, tak ada yang mau bangun.
"Hueemm," ujar keduanya dengan mata tertutup rapat.
"Dari tadi jawabnya Hueemm mululu," ujar Lues mulai kehabisan kesabaran.
"Jika di bunuh tidak apa kali yah. Huuuuh."
"Queen, kecoa," teriak Lues, dan seketika itu juga Franc langung bangun berdiri di atas ranjang.
"Franc berhentilah melompat lompat, kecoanya tidak ada," ujar Star kesal, dengan mata masih tertutup.
"Apa kamu mengerjai diriku?" tanya Franc menatap tajam Lues.
"Maaf, Queen. Tapi tidak ada cara membangunkan Anda selain cara seperti ini."
"Aahhh, kecoa," teriak Franc saat melihat ada kecoa beneran di meja nakas tempat tidur.
Franc melompat dan bersembunyi di belakang Star yang masih tertidur. Star di buat kesal karena tidurnya terganggu.
"Franc kamu benar-benar menganggu tidur ku, hanya karena se-ekor kecoa," ujar Star bangun dengan terpaksa sedang di belakangnya Franc masih bersembunyi.
"Aku heran deh kamu itu seorang Queen Mafia tidak takut senjata, darah, bahkan sudah banyak membunuh, tapi takut dengan se-ekor kecoa."
Franc yang berada dibelakangnya tidak terima saat Star mengatakan dirinya takut, dan mempertanyaan dirinya yang sebagai pemimpin Mafia besar.
"Aku tidak takut, hanya geli," serganya tegas, tapi masih berlindung di belakang Star.
"Sama saja."
"Beda."
__ADS_1
"Sama."
Lues yang melihat benih-benih keributan segera melerai.
"Queen, Princes. Sudah ya, bertengkarnya di lanjut nanti saja. Ini sudah jam berapa, Bukankah Anda harus kembali ke rumah sebelum ada yang mengetahui ketidak beradaan Anda."
Franc dan Star tersadar mendengar perkataan Lues. "Jam berapa sekarang?"
"Jam tujuh."
"APA!, Kenapa tidak ngomong dari tadi," ujar ke duanya turun dari ranjang.
"Aku juga yang salah," ujar Lues pelan, tapi samar-samar di dengan Star.
"Apa kamu mengatakan sesuatu?" tanya Star menatap tajam Lues.
Dengan cepat Lues mengelengkan kepalanya. "Tidak, Princes."
"Lues?" panggil Franc sebelum keluar dari kamar.
"Iya Queen."
"Bersihkan kamar ini, jangan sampai ada kecoa lagi. Jika ini terulang maka kamu akan menerima akibatnya. Kamu taukan Berry begitu menyukaimu."
Lues menelang ludahnya kasar, ia tau apa maksud dari kalimat terakhir Queen-nya.
"Baik, Queen."
"Bersihkan dengan baik yah, jangan sampai ada kecoa. Karena Queen kalian adalah Mafia yang takut kecoa," ujarnya dengan sengaja melirik kesampinnya, dimana Franc berdiri.
"Sudah ku bilang aku tidak takut. Hanya geli," ujar Franc tegas.
"Iya, iya. Hahahahha."
Star berlari keluar dengan tertawa puas banget, karena berhasil membuat Frnac kesal di pagi hari.
"Heii, berhenti tertawa," teriak Franc mengejar Star.
...#continue .......
...Haii, Readers jangan lupa dukungannya....
...Agar, Author juga semakin semangat update. ...
...See you bay-bay. ...
__ADS_1