
Trin, trin, trin.
Franc yang baru keluar dari kamar mandi, berjalan ke meja samping tempat tidur.
Franc mengambil ponselnya, melihat siapa yang menelponnya. "Pak Vino?"
"Hallo, Pak?" ujar Franc formal.
Vano kesal mendengar panggilan Franc, tapi ia menahannya. "Tidak ada, hanya ingin bertanya."
"Bertanya apa ya, Pak?" tanya Frnac.
"Apa besok kamu bisa membantu aku mempersiapkan acara laramaranku?" ujar Vano meminta bantuan Frnac.
Seketika dada Franc terasa sakit, jantungnya berdetak lebih cepat. Franc memegang dadanya, "Aku kenapa?, Kenapa jantungku berdetak lebih cepat ... tidak Franc!, Kamu ingat tujuan utamamu."
"Hallo, Franc. Apa kamu masih disana," ujar Vano saat tak mendengar suara apa- apa
Franc tersadar mendengar ucapan Vano. "Ha. Iya, Pak."
"Kamu kenapa?" tanya Vano.
"Tidak ada, Pak."
"Hemm ... jadi bagaimana apa kamu bisa?" tanya Vano lagi.
"Tapi kenapa aku, Pak?" tanya Franc yang sebenarnya tak ingin.
"Kenapa?, Apa tidak bisa?" tanya Vano balik.
"Tidak, Pak."
"Aku sudah mengirim lokasinya. Aku akan menunggu kamu besok," ujar Vano.
Vano mematikan telponnya setelah mengatakan semua yang ingin dia katakan.
...----------------...
"Kenapa?" tanya Vino saat Star menghentikan aksinya.
"Sebentar. Aku ingin ke kamar mandi sebentar," ujar Star bangkit.
Vino yang sudah dipuncak tak membiarkan Star pergi.
"Uummm, Vin. Aku sudah tidak tahan. Tolong lepas, kalau tidak aku akan pipis disisi," ujar Star memelas.
Wajah Vino cemberut, dan melepas Star.
__ADS_1
"Tapi cepat," ujar Vino cemberut dan kesal sendiri.
"Iya."
Star bangkit dengan cepat dan berlari masuk ke kamar mandi.
Vino berdiri didepan pintu kamar mandi tanpa menggunakan sehelai benang pun.
Star terkejut saat ia membuka pintu kamar mandi dan mendapati Vino berdiri dengan napas naik turun.
Star yang terkejut ingin marah, "Kamu itu ... uuhhmm ..." ujar Star terpotong saat Vino langsung menyosor tanpa aba aba.
Vino mengendong Star kembali keranjang mereka.
Angga tidak tertidur menyiapkan semuanya. Mulai mencari WO, catering, nama-nama undangan.
"Tidak berfikir apa, semua orang pada tidur."
"Ini juga kenapa, mencari WO yang bisa kerja cepat sangat susah sekali."
"Dasar, Tuan Mudah stres. Mana ada orang mempersiapkan acara lamaran dalam satu malam," gerutu Angga kesal, karena ia sudah beberapa kali menelpon pihak-pihak acara tapi tidak ada yang bisa menerimanya.
Angga terus mengerutu, membuat anak buahnya yang lain menatapnya.
"Tuan. Apa anda baik-baik saja?" tanya salah satu anak buahnya memberanikan diri bertanya.
"Kamu tidak perlu banyak bertanya, dan kerjakan pekerjaan kalain," ujar Angga kesal.
"Maaf, Tuan," ujar Anak buahnya, dan kembali mengerjakan pekerjaannya.
"Apa dia mengira aku ini robot yang tidak tidur," gerutunya lagi, tapi tetap mencari WO untuk mempersiapkan acara lamaran.
"Huuuu. Nasib jadi asisten," ujarnya mengembuskan napas kasar.
Pagi menyapa, Star menggeliat membuka matanya.
"Good morning. My Wife," ujar Vino tersenyum menatap Star.
"Good morning," ujar Star mengumpulkan nyawanya.
"Morning kiss," ujar Vino memonyongkan bibirnya.
Star memalingkan wajah Vino, dan ingin bangkir. "Apa sih, Vin. Sudah ah, aku mau bangun, mandi dan berangkat kampus."
Vino menarik kembali Star kedalam pelukannya. "No. Morning kiss dulu."
"Tidak!, ntar kaya kemarin lagi," ujar Star mengingat kejadian kemarin yang berakhir, ia tidak masuk kampus.
__ADS_1
Star mengumpulkan tangannya di dada bidang Vino, dan langsung masuk kamar mandi.
Vino terkekeh melihat Star. "Hahaha."
Vino bangkit dari ranjang berjalan ke pintu kamar mandi.
"Buka pintu," ujar Vino ingin masuk tapi Star mengunci pintu dari dalam.
Tok, tok, tok.
"Star capat buka."
"Tunggu sampai aku selesai mandi," ujar Star dari dalam kamar mandi.
"Tapi aku ingin buah air besar. Cepat buka pintunya," ujar Vino.
"Kamu gunakan saja kamar mandi yang lain saja,"
"Aku tidak mau. Cepat buka pintunya, kalau tidak aku akan buang disini."
"Ya, sudah. Disitu saja," ujar Star cuek, menikmati acara rendamnya.
"Benar benar yah ...."
......................
"Apa kamu sudah berangkat?" tanya Vano mengirim pesan pada Franc.
Franc yang baru bangun mengambil ponselnya. Ia membaca pesan Vano.
"Belum, Pak. Aku baru bangun dan akan mandi," ujar Franc membalas pesan Vano.
"Baiklah. Aku akan menjemput kamu."
"Tidak perlu, Pak. Aku akan kesana sendiri saja."
"Sudah tidak usah ngeyel."
"Baiklah." ujar Franc yang tidak ingin ada perdebatan.
...#contenue...
...Haii, Raiders jangan lupa dukungannya....
...Agar, Author juga semakin semangat update....
...See you bay bay....
__ADS_1