LOVE The MAFIA

LOVE The MAFIA
Bab 32


__ADS_3

Franc dan Star berjalan kearah parkiran motor, tiba tiba Vano datang menghampiri mereka.


"Kamu ikut aku," ucap Vano menarik tangan Franc.


"Eeee. Kamu mau membawa aku kemana?" tanya Franc.


"Tidak perlu banyak tanya. Ikut saja," ucap Vano.


Franc mengikuti langkah Vano. "Tapi Pak. Bapak mau bawah aku kemana?" tanya Franc.


Vano yang mendengar panggilan Franc yang masih memanggilnya dengan sebutan Pak, berbalik menatap tajam Franc. "Sudah kukatakan jangan panggil aku Pak, atau Bapak. Karena aku bukan Bapakmu."


"Iya. Tapi Bapak bilangnya kalau diluar kampus. Ini kan masih di kampus Pak," ucap Franc polos.


Vano yang mendengar perkataan Franc dibuat kesal sendiri. "Dan mulai sekarang jangan panggil aku Pak jika tidak ada orang lain. Paham!" ucap Vano menahan kekesalannya sendiri.


"Tapi Pak- " ucap Franc terpotong karena Vano lebih dulu menyerga ucapannya.


"Tidak ada tapi tapi, an. Paham!" ucap Vano menatap tajam Franc.


Franc hanya menganggukkan kepalanya saja. "Hmm."


Star yang ditinggal berteriak memanggil Vano. "Heii. Pak. Mau di bawah kemana temanku."


Vano tak menghiraukan panggilan Star dan tetap menyeret tangan Franc pergi.


Star yang tak dihiraukan kesal. "Ya elah itu dosen killer, main bawah bawah aja. Kan tidak jadi di traktir," ucap Star yang ingin menagih traktiran Franc.


Star berjalan kearah parkiran dengan mengerutu. "Yah sudahlah. Pulang sendiri ini ceritanya. Tidak seruh banget. Dasar dosen killer."


Star berjalan sambil bersenandung. " Makan makan sendiri. Pulang pulang sendiri. Naik motor pun sendiri, miris banget hidupku. "


Sampai di parkiran Star berjalan kearah motornya tapi seseorang menariknya dari belakang. "Ahhh," teriak Star.


"Kamu!" ucap Star kaget melihat Vino ada di depannya.


"Iya. Kenapa?" tanya Vino.


"Ngapain kamu kesini?, Lepas!" ucap Star melepas tangannya dari genggaman Vano.


"Ayo ikut aku," ucap Vino menarik tangan Star kemobilnya.


"Iiihhh. Lepas!" ucap Star yabg tidak ingin ikut.


Vino menatap Star dengan tajam. Tapi Star tidak takut membalas tatapan Vino dan berkata, "Kenapa!"


Vino menggelengkan kepalanya dan kembali menarik tangan Star.


Star yang tidak ingin ikut memberontak. "Iiihhh lepas ... orang sudah bilang tidak mau, berarti tidak mau."


Vino tak menghiraukan ucapan Star dan tetap menarik Star masuk ke dalam mobilnya.


Star duduk di kursi samping kemudi sambil mengerutu, "Dasar pemaksa. Tidak Kakak tidak Adik sama saja, pemaksa!"


Vino mengemudikan mobilnya keluar dari parkiran kampus.


Didalam mobil hanya ada keheningan saja. Vino membuang nafas kasar berusaha menahan kekesalannya.


"Semalam kamu ada dimana," ucap Vino membuka suara.


Star hanya menatap keluar jendela tanpa tak menghiraukan pertanyaan Vino. Vino yang tak dihiraukan semakin kesal.


"Aku bertanya padamu!, Jawab aku. Kamu berada dimana semalam?" ucap Vino mengulang ucapannya.

__ADS_1


Star hanya melirik Vino saja. "Dirumah."


"Jangan bohong," ucap Vino kesal tidak percaya.


"Siapa juga yang berbohong. Kalau tidak percaya ya sudah. Susah amat," ucap Star menatap keluar jendela.


"Kalau aku sedang berbicara tatap mukaku!, jangan menatap yang lain," ucap Vino yang tak suka saat dia berbicara tapi lawan bicaranya menatap yang lain.


Star berbalik menatap wajah Vino dengan kesal dan marah. "Katakan ada apa?" tanya Star.


Ciitttt


Vino me rem mobilnya, menatap Star dengan tajam. "Apa yang kamu lakukan di hotel kemarin malam?"


"Ngapain aku ke hotel?" tanya balik Star.


"Aku bertanyak karena tidak tau. Jadi jawab aku jangan mengalihkan pembicaraan!" ucap Vino tegas.


"Siapa yang mengalihkan pembicaraan?, Tidak ada tuh," ucap Star.


Mendengar jawaban Star yang santai membuat Vino benar benar kesal. "Star jawab aku. Aku lagi serius!" ucap Vino tegas semakin menatap tajam Star.


Star merasa di intimidasi ikut kesal. "Kenapa aku harus menjawabmu?, Kamu bukan bukan Kakakku, temanku atau pun suamiku. Jadi aku tidak punya hak untuk menjawabmu. Buka pintunya aku mau turun," ucap Star kesal.


Vino yang melihat sikap Star semakin marah. Vino mencengkram lengan Star. "Jawab aku. Ngapain kamu berada di hotel malam malam!"


"Lepas!" ucap Star mendorong Vino.


Star keluar dari mobil Vino memberhentikan taksi yang lewat.


Dengan cepat Vino keluar dari mobilnya tapi Star lebih dulu masuk kedalam taksi.


Vino mengetuk pintu kaca taksi. " Heii, Heii. Star buka pintunya."


"Jalan Pak," ucap Star tak menghiraukan Vino.


Vino mengejar taksi Star dari belakang.


Disisi lain dikamar mewah Will. Selin semakin ketakutan saat Will naik keatas ranjang.


Melihat wajah Selin yang ketakutan, Will bertanya, "Kenapa?, Apa kamu takut?"


Selin dengan cepat menganggukkan kepalanya.


Melihat hal itu Will tersenyum. "Kenapa kamu takut?, Tidak perlu takut. Aku hanya pria cemen, bukan?"


"To-tolong lepaskan aku. Aku mohon. Aku tidak akan mengatakan kamu lagi sebagai pria cemen," ucap Selin.


"Sunggukah?" tanya Will menatap Selin tajam.


Selin dengan cepat menganggukkan kepalanya. "Iya."


"Tapi ..."


Selin menatap wajah Will dengan deg degan. "Tapi ..." ucap Selin mengikuti ucapan Will.


"Kenapa kamu mengikuti ucapanku?" tanya Will menatap Selin.


Selin yang menyadari ucapannya tadi langsung meminta maaf. "Ha. Tidak.Maaf maaf."


Melihat wajah Selin yang sangat takut, Will tersenyum puas dan bertanya, "Kenapa kamu terlihat sangat takut?, Dimana keberanian kamu dulu."


Selin hanya menggelengkan kepalanya saja tidak menjawab.

__ADS_1


"Aku bisa memaafkanmu karena memanggilku dengan pria cemen. Tapi karena kamu juga menabrak mobil kesayanganku, jadi- " ucapan Will terpotong karena Selin langsung menyerga ucapannya.


"Aku akan bertanggung jawab. Aku berjanji," ucap Selin cepat.


Will kesal karena ada orang yang berani memotong ucapannya saat dia bicara. "Jangan memotong ucapanku saat aku lagi bicara!" ucap Will tegas marah menatap Selin.


Selin semakin takut dengan suara yang dikeluarkan Will.


Will bangkit dari ranjang, menarik Selin keluar dari kamar.


"Auhh," rintih Selin saat tangannya dicengkeram kuat Will.


Will menarik Selin turun ke lantai satu. Disana sudah ada banyak pelayang rumah berkumpul berbaris.


Sampai dilantai satu, Selin di lempar kearah para pelayang. " Mulai sekarang kamu akan jadi pelayang dirumahku," ucap Will.


"Ha jadi pelayang?, Tidak! aku tida- " ucap Selin terhenti karena Will sudah menatapnya tajam.


"Kamu ngomong apa?, Coba ulang," ucap Will menatap Selin tajam.


Selin tak menjawab menundukkan kepalanya. Will berbalik ingin kembali ke kamarnya tapi terhenti karena suara seseorang.


"Aku kuliah," ucap Selin menundukkan kepalanya.


Will berbalik lagi mentap Selin. "Kamu ngomong apa?" tanya Will.


"Maaf. Ta-tapi," ucap Selin yang langsung di sergah Will.


"Bicara yang jelas," ucap Will dingin.


"Bagaimana dengan kuliahku?" tanya Selin cepat menatap wajah Will.


Will tak menjawab dan berbalik pergi kembali kekamarnya.


"Iiihhh. Dasar psikopat gila," umpat Selin.


Para pelayang yang melihat Selin, mengumpat Will bergedik ngeri dan pergi dari sana.


"Nanti kamu jangan asal bicara, jangan sampai kamu tidak bisa bicara lagi. Ini kamar kamu," ucap salah satu pelayang seusia Selin.


Selin langsung takut, apalagi saat mengingat kejadian tadi.


FLASH BACK


Pintu kamar Will diketuk seseorang dari luar "Tok, tok, tok."


Will memperbaiki cara duduknya menekan tombol kunci kamarnya.


Pintu kamar Will terbuka menampakkan sosok pria berbadan besar.


Will menatap tajam pria itu. "Sudah kukatakan jangan menganggu diriku saat aku didalam kamar!"


Will mengangkat tangannya memegang senjata api. Will melepas tiga kali tembakan sekaligus.


Dor


Dor


Dor


Melihat itu Selin berteriak ketakutan. "Ahhhh."


FLASH ON

__ADS_1


Menginggat hal itu Selin jadi takut. "Apa aku akan segera meninggal?" tanyanya pada dirinya sendiri.


"Tapi ... Aku belum punya kekasih. Tidak, tidak, aku tidak mau. Aku masih mau punya kekasih seperti Rose," ucapnya lagi.


__ADS_2